Sudahkah Anda Bershalawat???

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)” HR an-Nasa’i (no. 1297)

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {56}

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. 33:56)

Ahlul Bait

مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“Perumpamaan Ahlul baitku seperti kapal nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya maka dia akan selamat dan barangsiapa yang enggan maka dia akan tenggelam (binasa).”

Selasa, 27 September 2016

Mengapa Mazhab Syiah Shalatnya Dengan Tangan Terbuka (Tidak Bersedekap) ?

نماز جماعت شيعيان و اهل تسنن در عراق



Islam adalah agama suci yang diturunkan Allah pada ummat manusia melalui Nabinya, Muhammad al-Musthafa Saw. Islam adalah agama yang satu, dan selama Nabi Muhammad Saw hidup, semua ajaran dan syari’at yang dibawa Islam masih murni dan tak memungkinkan untuk diutak-utik. Namun semua berubah ketika penjaga utama syari’at Ilahi ini meninggal dunia.

Syiah Dua Belas Imam mengerjakan shalat mereka dengan tangan terbuka karena mengikuti tata-cara shalat Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As yang merupakan orang terdekat dan paling mengerti tentang kehidupan Rasulullah karena mereka adalah keluarga Rasullah sendiri. Terdapat banyak sekali riwayat-riwayat yang dapat diandalkan yang menukil ihwal tata-cara shalat Nabi Saw semenjak awal hingga akhir dalam tradisi Syi’ah Dua Belas Imam. Yaitu bahwa Rasulullah Saw dan para Imam Maksum menunaikan shalatnya dengan tangan mereka terbuka dan menempelkan kedua tangan tersebut ke pinggang. Ini karena disebutkan bahwa menutup tangan ketika mengerjakan shalat adalah mirip dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang penganut agama lampau di Persia, dan cara ini dilihat ketika terjadi ekspansi ke Persia oleh Khalifah ke-2.

Lebih dari itu, sejarah menyebutkan bahwa sama sekali tidak terdapat riwayat yang menukil tentang Nabi Saw yang menutup tangan tatkala menunaikan shalat. Bagaimanapun, praktik menutup tangan tatkala shalat merupakan sebuah peristiwa yang  terjadi setelah wafatnya Rasulullah Saw pada masa khalifah kedua. Yang mana atas alasan inilah, orang-orang Sunni mengerjakan shalat mereka dengan tangan tertutup. Inipun tidak semua pengikut Ahlusunnah yang melakukannya, ada sebagian dari Ahlusunah yang tidak mengerjakan demikian, yaitu mereka yg mengikuti Malik Bin Annas atau pengikutnya lebih sering disebut penganut Mazhab Maliki.


Meletakkan tangan di atas tangan merupakan sebuah cara yang tidak terdapat pada masa Rasulullah Saw. Adapun Rasululah Saw menunaikan shalatnya dengan tangan terbuka.(1) Dan karena Syiah dalam seluruh shalat mengikuti Nabi Saw dan para Imam Maksum As maka mereka mengerjakan shalat mereka dengan cara seperti ini. Sementara menutup tangan tatkala mengerjakan shalat merupakan sebuah bid’ah yang dilakukan setelah wafatnya Rasulullah Saw; artinya bahwa praktik shalat sedemikian tidak terdapat pada masa Rasulullah Saw dan bermula pada masa khalifah kedua. Semenjak masa khalifah kedua, kondisi seperti ini berlaku(2) dan dewasa ini mayoritas Ahlusunnah mengerjakan shalat mereka mengikut kepada tata-cara shalat khalifah kedua.(3) Bukan mengikuti tatacara shalat yang diajarkan oleh Rasulullah saw.

Dalam sebuah hadis Abi Hamid Sa’idi disebutkan seluruh perbuatan Nabi Saw tatkala menunaikan shalat semenjak takbiratul ihram hingga salam, namun dalam riwayat tersebut tidak disebutkan satu pun hadis tentang praktik menutup tangan dalam shalat Nabi Saw. Abu Hamid Sa’idi menyebutkan bahwa selepas takbir, Rasulullah Saw menurunkan tangannya (lepas terbuka) dan menempelkannya ke dua pinggang beliau.(4) Jika pun disebutkan bahwa bersedekap tangan adalah amalan mustahab, kita sama tahu bahwa Nabi Saw yang mustahil meninggalkan amalan mustahab (dianjurkan) sama sekali tidak menyedekapkan tangannya sewaktu shalat selama masa hidupnya.

Demikian juga Himad bin ‘Isa meminta Imam Shadiq As untuk mengajarkan tata-cara shalat yang benar dan sempurna kepadanya. Saat itu, Imam Shadiq As berdiri menghadap kiblat dan mengerjakan seluruh amalan mustahab. Setelah beliau melakukan takbiratul ihram dan memulai bacaan shalat dan seterusnya, beliau mengerjakan shalat sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Syiah hari ini, dan akhirnya mengucapkan salam untuk menyudahi shalatnya.[5] Dalam riwayat ini, Imam Shadiq As mengajarkan tata-cara shalat Rasulullah Saw kepada Himad bin Isa dan tidak disebutkan kondisi tangan yang tertutup atau tangan di atas tangan. Dan sekiranya praktik sedemikian merupakan sunnah, maka pastilah Imam Shadiq As menjelaskan masalah tersebut.

Demikian juga, banyak riwayat yang dinukil dari para Imam Maksum As dan praktik seperti ini tidak boleh dilakukan. Di sini kita akan menyebutkan beberapa riwayat lain untuk menegaskan hal tersebut:

Diriwayatkan dari Muhammad bin Muslim dari Imam Shadiq As atau Imam Baqir As bersabda: “Aku berkata: Seseorang meletakkan tangannya dalam shalat – dan dikisahkan – tangan kanan di atas tangan kiri? Imam bersabda: “Perbuatan tersebut adalah menutup (al-takfir) dan tidak boleh dilakukan.”[6]
Diriwayatkan dari Zurarah dari Abi Ja’far sesungguhnya beliau bersabda: “Dan hendaklah tangan kalian terbuka dalam shalatmu dan janganlah engkau menutup (tanganmu) karena orang-orang Majusi melakukan hal tersebut (dalam ibadah mereka).[7]
Diriwayatkan dari Shaduq dengan menyandarkannya kepada Ali As sesungguhnya beliau bersabda: “Hendaknya kaum muslim tidak menggabungkan tangannya dalam shalatnya sementara ia berdiri di antara tangan Tuhan dan (perbuatan ini) mirip dengan orang kafir yaitu Majusi.[8][iquest]


Catatan Kaki

  1. Hadis yang berkenaan dengan masalah ini segera akan dijelaskan pada bagian berikutnya.
  2. Bukti dari perkara ini adalah hadis Sahl bin Sa’ad yang diriwayatkan oleh Bukhari: “Dulu orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kananya di atas lengan tangan kirinya dalam shalat (Fath al-Bâri fii Syarh Shahîh al-Bukhâri, jil. 2, hal. 224). Sekarang apabila Nabi Saw memerintahkan untuk menutup tangan maka tidak ada maknanya ketika disebutkan (dalam hadis tersebut): “Dulu orang-orang diperintahkan” tapi harus disebutkan: “Dulu Nabi Saw memerintahkan.”
  3. Mazhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali memandang menutup tangan sebagai sunnah dan mustahab (dianjurkan) akan tetapi tidak dengan Maliki. Al-Fiqh ‘ala al-Madzhâhib al-Khamsah, hal. 110.
  4. Sunan Baihaqî, jil. 2, hal. 72, 73, 101 dan 102; Sunan Abî Daud, jil. 1, hal. 194.
  5. Syaikh Hurr al-Amili, Al-Wasâ’il, jil. 4, bab 1, Min Abwâb Af’âl al-Shalat, hadis pertama.
  6. Syaikh Hurr al-Amili, Al-Wasâ’i, jil. 4, bab 15, Min Abwâb Qawâthi’ al-Shalat, hadis pertama.
  7. Syaikh Hurr al-Amili, Al-Wasâ’il, jil. 4, bab 15, Min Abwâb Qawâthi’ al-Shalat hadis 2, 3, dan 7.
  8. Ja’far Subhani, Fiqh al-Syiah al-Imâmiyah wa Mawâdhi’ al-Khilâf Bainahu wa baina al-Madzhâib al-Arba’, hal. 183.



-- Source : syiahmenurutsyiah.com

Dimanakah Allah?

Lafadz-Allah-Hijau


Hukum kausalitas (sebab-akibat) merupakan hal yang aksiomatis di alam semesta ini. Dengan hukum ini pula alam semesta tercipta. Hukum ini terdiri dari dua hal; ‘sebab’ dan ‘akibat’. Dalam kajian filsafat disebutkan beberapa kekhususan yang dimiliki oleh hukum ini termasuk bahwa; ‘sebab’ harus ‘ada’ (eksis) terlebih dahulu dari ‘akibat’. Dan, segala kesempurnaan eksistensial ‘akibat’ harus dimiliki oleh ‘sebab’, bahkan ‘sebab’ harus memilikinya dengan bentuk yang lebih sempurna dari apa yang dimiliki oleh ‘akibat’.

Dalam kajian teologi falsafi telah disebutkan bahwa, mata rantai penciptaan alam harus berakhir pada satu titik dimana tiada lagi esensi lain yang menjadi pencipta titik tersebut. Jika tidak, niscaya akan berakhir pada terjadinya dua kemungkinan; ‘mata rantai penciptaan yang tiada berakhir’ (tasalsul) dan atau ‘perputaran mata rantai penciptaan’ (daur) dimana kedua hal tersebut –dengan berbagai argumen yang telah dijelaskan secara terperinci dalam berbagai buku teologi dan filsafat- dinyatakan sebagai hal yang mustahil terjadi. Titik akhir dari mata rantai penciptaan itulah yang dalam bahasa agama disebut dengan Tuhan, atau dalam agama Islam biasa disebut dengan Allah SWT.

Allah SWT adalah kausa prima, prima dalam arti yang sesungguhnya. Oleh karenanya, segala atribut kesempurnaan eksistensial makhluk di alam semesta yang merupakan obyek ciptaan-Nya harus pula dimiliki oleh esensi-Nya, bahkan dengan bentuk yang lebih sempurna. Karenanya, semua atribut kesempurnaan Allah SWT selalu didahului dengan kata ‘Maha’. Kata itu (Maha) meniscayakan ketiadaan segala bentuk ‘kekurangan’ pada esensi sejati-Nya. Sekecil apapun kekurangan yang akan disematkan pada Allah SWT maka akan meniscayakan ketidaklayakan-Nya untuk menyandang titel ‘Maha’. Salah satu bentuk kekurangan adalah memiliki ‘sifat-sifat kekurangan’ yang dimiliki oleh hasil ciptaan-Nya (makhluk), termasuk sifat ‘membutuhkan kepada selain-Nya’ dan atau ‘memiliki sifat kekurangan makhluk-Nya’.

Salah satu hasil ciptaan (makhluk) Allah SWT adalah tempat. Pertanyaan tentang tempat selalu dimulai dengan ‘dimana’. Jika ditanya tentang dimana Allah SWT maka hal itu sama dengan menyatakan bahwa Allah SWT membutuhkan tempat dan atau esensi diri-Nya memerlukan sesuatu yang lain yang bernama ‘tempat’. Padahal tempat adalah salah satu makhluk-Nya. Apakah mungkin Allah SWT Pemilik segala bentuk kesempurnaan dan Yang dijauhkan dari segala bentuk kekurangan lantas memerlukan terhadap selain-Nya, padahal segala sesuatu selain Allah SWT adalah makhluk dan hasil ciptaan-Nya? Dengan kata lain, apakah mungkin Allah SWT memerlukan terhadap makhluk-Nya? Tentu jawabannya adalah, mustahil Allah SWT memerlukan terhadap selain-Nya. Itu kemungkinan pertama.


Kemungkinan kedua adalah, Allah SWT memiliki sifat kekurangan, persis seperti makhluk-Nya (padahal dalam ayat al-Quran disebutkan bahwa, “Tiada satupun yang menyamai-Nya”). Bagaimana tidak? Sewaktu Allah ada di suatu tempat maka hal itu meniscayakan bahwa Ia seperti makhluk-Nya; perlu terhadap tempat, bisa di tunjuk dalam arti berada di suatu arah tertentu dan dalam waktu yang sama tidak ada di arah lain dimana hal itu memberikan konsekuensi bahwa Allah SWT tersusun dan memiliki anatomi tubuh (jisim), persis keyakinan anthromorpisme Yunani klasik.

Kemungkinan ketiga adalah, jika Allah SWT bertempat maka hal itu meniscayakan ketidak-aksiomatisan hukum kausalitas yang telah disinggung di atas. Karena bagaimana mungkin Allah SWT harus bertempat sedang tempat adalah hasil ciptaan-Nya yang pastinya ‘ada’ (eksis) pasca keberadaan Allah SWT? Lantas sebelum Allah SWT menciptakan tempat, dimanakah Allah bertempat?

Oleh karenanya, pertanyaan “Dimanakah Allah?” adalah pertanyaan salah yang tidak perlu terhadap jawaban, bahkan tidak memiliki jawaban sama sekali. Pertanyaan yang salah harus diluruskan terlebih dahulu, bukan dijawab. Karena memaksaan diri untuk memberi jawaban dari pertanyaan yang salah akan mengarah kepada jawaban yang salah pula. Ini pun merupakan salah satu bukti akan keotentikan hukum kausalitas.

Atas dasar itu, para Imam Ahlul Bayt menjelaskan bahwa ‘tempat’ adalah makhluk Allah SWT yang Allah tidak akan pernah membutuhkan selain-Nya (makhluk). Dalam menjawab pertanyaan “Dimanakah Allah?”, Imam Ahlul Bayt -seperti yang disinyalir dalam kitab tauhid as-Shoduq- mengatakan: “Allah adalah Dzat yang menjadikan dimana sebagai dimana. Lantas apakah mungkin Allah disifati (ditanya tentang) dengan kata dimana?”. Yang benar adalah, Allah tidak menempati sesuatu apapun dan Dia Maha meliputi atas segala sesuatu, sebagaimana yang dinatakan dalam al-Quran dengan ayat “Wa Kaanallahu bikulli Syai’in Muhiith” (Dan Allah melingkupi segala sesuatu. QS an-Nisaa:126). Adapaun ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT dalam mengatur alam semesta duduk di atas Arsy (singgasana), maka ayat-ayat itu harus ditakwil – spt: singgasana sebagai simbol kekuasaan- sehingga tidak bertentangan dengan ayat “Tiada apapun yang menyamai-Nya” (Laisa Kamistlihi Syai’) dan ayat yang telah disinggung di atas tadi. Jika ayat al-Quran harus ditakwil agar tidak bertentangan dengan ayat lainnya, apalagi hadis-hadis yang menjelaskan tentang hal itu, lebih utama untuk ditakwil. Jika tidak mampu untuk ditakwil maka kita singkirkan jauh-jauh hadis tersebut dari file kita, walaupun hadis tersebut terdapat dalam kitab standart dan pustaka agama kita, karena bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran. (isw)




-- Source : syiahmenurutsyiah.com

Menjawab Tuduhan Konyol Syiah Menuhankan dan Menabikan Ali

Hand indicating at you. Selective focus
Salah satu tuduhan konyol yang dilemparkan para pensesat dan pengafir Syiah adalah tuduhan bahwa Syiah menganggap Imam Ali sebagai nabi, namun karena Jibril kurang cermat, maka Muhammad yang diberi tugas kenabian.

Kami sebenarnya merasa terlalu mulia untuk membantah tuduhan bodoh ini. Namun karena itu bukan sekadar isu yang berkembang di kalangan awam, namun merasuki pikiran sebagian orang yang mendeklarasikan diri sebagai ulama, maka dipandang perlu klarifikasi yang tegas, logis dan konstruktif.
Konsep ketuhanan dalam Syiah lebih radikal dari konsep teologi apa pun dengan ciri khas sebagai berikut:
1. Tuhan berbeda dengan apa pun. Oleh karena itu, semua ciri khas kemakhlukan termasuk Nabi, Ali dan siapa pun tidak ada pada Tuhan. Jadi, sekedar mengutip isu Syiah menuhankan Ali adalah tindakan bodoh. Kalau pun ada orang yang mengaku Syiah dan menuhankan Ali, maka dia lebih najis dari babi dan anjing. Para ulama Syiah dahulu dan kontemporer sepakat dengan kenajisan mereka. Lihat semua kumpulan fatwa para ulama Syiah di antaranya, karya Imam Khomeini, TahrirAl-Wasîlah, juz 1, h. 107.
2. Tuhan tidak dapat dipredikasi dengan apa pun. Dengan demi-kian, penyebutan frase menuhankan Ali niscaya invalid menurut logika bahasa.
3. Orang Syiah rela dianggap berbeda bahkan dikucilkan karena mengikuti Nabi yang memerintahkan untuk menaati Ali. Adalah mustahil menuhankan orang yang diperintahkan untuk ditaati, sedangkan ketaatan kepadanya adalah konsekuensi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Lebih jauh lagi, Tuhan merupakan Wujud Mutlak yang Maha Tak Terbatas, oleh karenanya kekuatan akal dengan konsep-konsepnya setiap kali hendak memberikan sifat (dengan konsep-konsep) tidak akan mampu menyifatkan Tuhan dengan sempurna dan yang seharusnya. Karena setiap konsep dari satu sifat berbeda dengan konsep dari sifat lain, maka ia sangat terbatas untuk menyifatkan Zat yang Tak Terbatas. Artinya, kalau kita memberikan sifat kepada-Nya berarti kita telah membandingkan satu sifat dengan yang lain atau antara zat dengan sifat. Ketika kita telah membandingkan Tuhan berarti kita menduakan-Nya, ketika kita menduakan-Nya berarti kita membagi-bagi-Nya, ketika kita membagi-bagi-Nya berarti kita tidak mengenal-Nya, dan seterusnya sebagaimana diuraikan dalam khutbah Imam Ali.(1)
Kemudian tuduhan bahwa Syiah menabikan Ali lagi-lagi tidak dapat dibenarkan karena Imam Ali sendiri pernah mengaku Nabi.
Seseorang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, “Wahai Amirul Mukminin! Apakah Anda seorang nabi?” Jawabnya, ‘Celakalah engkau! Aku hanyalah salah satu hamba Muhammad Saw.’”(2)
Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa Ali berkata, “Pastilah Anda tahu akan kekerabatan saya yang dekat dan hubungan saya yang khusus dengan Rasulullah Saw. Ketika saya masih kanak-kanak, beliau mengasuh saya. Beliau biasa menekankan saya ke dada beliau dan membaringkan saya di sisi beliau, di tempat tidur beliau, mendekatkan tubuh beliau kepada saya dan membuat saya mencium bau beliau. Beliau biasa mengunyah se-suatu kemudian menyuapi saya dengannya. Beliau tidak mendapatkan kebohongan dalam pembicaraan saya, tak ada pula kelemahan dalam suatu tindakan saya. Sejak waktu penyapihannya, Allah telah menempatkan seorang malaikat yang kuat bersama beliau untuk membawa beliau sepanjang jalan akhlak yang luhur dan perilaku yang baik, siang dan malam, sementara saya biasa mengikuti beliau seperti seekor anak unta mengikuti jejak kaki induknya. Setiap hari beliau menunjukkan kepada saya beberapa dari akhlaknya yang mulia dan memerintahkan saya untuk mengikutinya seperti panji. Setiap tahun beliau pergi menyendiri ke bukit Hira’, yang saya melihat beliau tetapi tak seorang pun lainnya melihat beliau. Di hari-hari itu, Islam hanya ada di rumah Rasulullah Saw dan Khadijah, sementara saya adalah orang ketiga dari keduanya. Saya biasa melihat dan memperhatikan sinar cahaya dari wahyu dan risalah Ilahi, dan menghirup nafas kenabian. Ketika wahyu turun kepada Nabi Allah Saw, saya mendengar bunyi keluhan Iblis.’ Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, keluhan apakah itu?’ dan beliau menjawab, ‘Ini Iblis yang telah kehilangan segala harapan untuk disembah. Ya, ‘Ali, engkau melihat apa yang saya lihat dan engkau mendengar apa yang saya dengar, kecuali bahwa engkau bukan nabi; tetapi engkau adalah seorang wazir dan sesungguhnya engkau pada (jalan) kebajikan dan amir (pemimpin) bagi kaum mukminin.’”(3)
Dari keterangan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Imam Ali tidak pernah mengaku sebagai seorang Nabi bahkan Imam Ali hanya menganggap dirinya sebagai salah satu hamba Nabi Muhammad. Selain itu, Nabi sendiri menegaskan bahwa Imam Ali hanyalah seorang wazir dan amir bagi kaum beriman. Bagaimana dengan Syiah Ali? Tentu saja orang-orang yang mengikuti jalan Ahlul Bait menjauhkan dirinya dari menuhankan Ali dan menabikan Ali. Na’udzu billah min dzalik. Jika Imam Ali mengaku sebagai hamba Muhammad, maka para Imam menyifatkan para Syiah Ali dengan beberapa karakteristik sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadis berikut:
Imam Ali berkata kepada Nauf Bakali, “Tahukah engkau wahai Nauf siapakah Syiahku?” Nauf menjawab, ‘Tidak, demi Allah.’ Lalu Imam Ali menjelaskan, ‘Syiahku adalah orang-orang yang bibirnya kering dan perutnya kosong. Mereka adalah orang-orang yang dikenali dengan kezuhudan di wajahnya. Mereka adalah orang-orang yang banyak beribadah di malam hari dan seperti singa di siang hari.’”(4)
Imam Muhammad Al-Baqir berkata kepada Jabir bin Abdullah, “Wahai Jabir, tidaklah cukup seseorang mengaku Syiah dengan hanya mencintai kami Ahlul Bait. Demi Allah Syiah kami hanyalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dan mematuhi-Nya. Mereka dikenal karena kerendahhatian, kekhusyukan, menjaga amanat, banyak berzikir kepada Allah, berpuasa, menunaikan salat, berbakti kepada orang tua, memperhatikan tetangga yang fakir dan miskin, berhutang, dan anak-anak yatim. Mereka adalah orang-orang jujur, senang membaca Alquran, dan berkata baik kepada manusia…”(5)
Imam Ja’far Al-Shadiq berkata, “Jauhilah merendahkan orang lain. Syiah Ali hanyalah orang yang menjaga perut dan kemaluannya, kuat jihadnya, beramal untuk pencipta-Nya, mengharapkan pahala-Nya dan takut kepada siksa-Nya. Maka jika engkau melihat mereka itu, mereka itulah Syiah Ja’far.”(6)
Imam Ali Al-Ridha berkata, “Syiah kami hanyalah orang-orang yang sesuai antara perkataan dan perbuatannya.”(7)
Imam Ja’far Al-Shadiq pernah bertanya kepada seorang laki-laki tentang orang-orang yang dia tinggalkan di kotanya (yang dianggap sebagai pengikut Syiah), lalu laki-laki itu menjawab dengan san-jungan yang baik, penyucian dan pujian. Lalu Imam Ja’far bertanya, “Bagaimana kunjungan orang-orang kaya mereka kepada orang-orang miskinnya?” dijawab laki-laki itu, ‘Jarang sekali.’ Lalu Imam Ja’far bertanya lagi, ‘Bagaimana kehadiran orang-orang kaya mereka di tengah- tengah orang miskinnya?’ dijawab, ‘Jarang sekali.’ Selanjutnya Imam Ja’far bertanya lagi, ‘Bagaimana pemberian orang-orang kaya mereka kepada orang-orang miskinnya?’ Laki-laki itu kemudian menjawab, ‘Anda telah menyebutkan perilaku yang jarang kami lakukan.’ Maka Imam Ja’far berkata, ‘Kalau begitu, bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa mereka adalah Syiah kami?’”(8)
Imam Ja’far Al-Shadiq berkata, “Wahai seluruh pengikut Syiah, jadilah kalian sebagai penghias bagi kami. Janganlah kalian memberikan aib kepada kami. Berbicaralah kepada orang lain dengan perkataan yang baik. Jagalah lidah kalian, hindarkanlah dari mencampuri urusan orang lain dan cegahlah dari perkataan yang buruk.”(9)
Imam Ja’far Al-Shadiq berkata, “Syiah kami adalah orang-orang yang selalu berzikir kepada Allah di kala sendiri.”(10)
Imam Ja’far Al-Shadiq berkata, “Tidak termasuk Syiah kami yang tidak mendirikan salat malam.”(11)
Imam Ja’far Al-Shadiq berkata, “Syiah itu ada tiga macam; yang mencintai dan bersahabat dengan kami, mereka adalah golongan kami; yang menampakkan kebaikan kami, dan tentu saja kami berlaku baik kepada mereka yang menampakkan kebaikan kami; dan yang mencari makan kepada orang lain dengan mengatasnamakan kami, dan sesiapa yang mencari makan de-ngan mengatasnamakan kami, dia akan menjadi miskin.”(12)

Dari penjelasan di atas sungguh sulit menganggap bahwa Syiah Ali adalah orang-orang yang menuhankan Ali dan menganggapnya sebagai seorang Nabi. Apalagi dengan kriteria dan karakteristik yang sulit untuk menjadi seorang Syiah Ali.



*catatan kaki
1. Ibnu Abi Al-Hadid, Syarh Nahj Al-Balâghah, juz 1, Khutbah 1, h. 35 dan 45, cet. 1, Dar Al-Amira, Beirut, Lebanon, 2007 M (1428 H). Selain khutbah tersebut, Imam Ali banyak memuji Allah dalam khutbah-khutbahnya, di antaranya Khutbah 49, 54, 82, 89, 94, 108 dan sebagainya.)
2. Al-Kulaini, Ushûl Al-Kâfî, Kitab Al-Tauhid, Bab Al-Kaun wa Al Makan, juz 1, h. 145, hadis 5, cet. 2, Dar Al-Ta’aruf, Beirut, Lebanon, 2009 M (1430 H).
3. Nahj Al-Balâghah, Khutbah 192 (Khutbah Qâshi’ah)
4. Bihâr Al-Anwar, juz 78, hadis 95.
5. Al-Kulaini, Ushûl Al-Kâfî, juz 2, h. 79-80, bab Taat dan Takwa, hadis 3.
6. Al-Kulaini, Ushûl Al-Kâfî, juz 2, h. 234, bab iman, alamat dan sifat-sifatnya, hadis 9.
7. Al-Kulaini, Ushûl Al-Kâfî, juz 8, h. 228, hadis Jakjuj Makjuj, hadis 290.
8. Al-Kulaini, Ushûl Al-Kâfî, juz 2, h. 179, kitab Al-Iman dan Al-Kufr, bab Haq Mukmin atas Saudaranya, hadis 10.
9. Syaikh Al-Shaduq, آmâlî Al-Shadûq, h. 292, Majelis 62, hadis 17, Muassasah Al-A’lami, Beirut, Lebanon, cet. 1, 2009 M (1430).
10. Syaikh Al-Hurr Al-Amili, Wasâil Al-Syî’ah, juz 3, h. 81, hadis 8998, cet. 1, Al-Amira, Beirut, Lebanon, 2010 M (1431 H).
11. Ibid., hadis 10312.
12. Al-Fattal Al-Naisaburi,Rawdhah Al-Wâi’zhin, h. 293, Syarif Al-Radhi, Qum, Iran

Khotbah Imam Ali Zainal Abidin Di Istana Yazid Bin Muawiyah

imam sajjad



Khutbah Imam Sajjad as di hadapan Yazid setelah peristiwa yang menimpa keluarga Nabi SAW di Karbala

وَقَالَ الامام علي زين العابدين (ع): اَيُّهَا النَّاسُ أُحَذِّرُكُمْ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

Imam Ali Zainal Abidin as berpidato ” Wahai manusia aku ingatkan kalian akan dunia beserta isinya

فَإِنَّهَا دَارَ الزَّوَالِ وَالإِنْتِقَالِ
Sesungguhnya dunia adalah negeri yang akan hilang dan akan berpindah

تَنْتَقِلُ بِأَهْلِهَا مِنْ حَالٍ إِلَي حَالٍ
Penghuninya akan pindah dari satu negeri menuju negeri yang lain

قَدْ أَفْنَتِ الْقُرُوْنَ الْخَالِيَةَ وَالأُمَمَ الْمَاضِيَةَ
Sungguh dunia telah memusnahkan abad-abad yang lampau serta umat-umat terdahulu

اَلّذِيْنَ كَانُوا أَطْوَلَ مِنْكُمْ اَعْمَارًا وَاَكْثَرَ آثَارًا
mereka memiliki umur yang lebih panjang dari kalian dan lebih banyak (harta) peninggalannya

اَفْنَتْهُمْ اَيْديْ الزَّمَانَ وَاحْتَوتْ عَلَيْهِمُ الأفَاعِي وَالدَّيْدَانُ
zaman telah membuat mereka punah lalu memenuhi mereka dengan ular dan ulat

اَفْنَتْهُمُ الدُّنْيَا قَكَأَنَّهُمْ مَاكَانُوا لَهَا اَهْلاً وَلاَ سُكَّانًا
dunia telah membuat mereka punah seolah-olah mereka tidak pernah menjadi keluarga maupun penghuninya

قَدْ اَكَلَ التُّرَابَ لُحُومَهُمْ وَاَزَالَ محَاسِنَهُمْ
tanah telah memakan mereka dan menghilangkan keindahannya

وَبَدَّدَ أَوْصَالَهُمْ وَشَمَائِلَهُمْ وَغَيَّرَ اَلْوَانَهُمْ وَطَحَنَتْهُمْ أَيْدِيْ الزَّمَان
mencerai beraikan sendi-sendi dan watak mereka, dan merubah
warna mereka, zaman telah melumat habis mereka

أَفَتَطْمَعُونَ بَعْدَهُمْ بِالْبَفَاءِ.. هَيْهَاتَ.. هَيْهَاتَ
apakah kalian akan tenang dengan kekekalan kalian setelah apa yang terjadi pada mereka ……sungguh teramat jauh …

لاَبُدَّلَكُمْ مِنَ اللُّحُوْقِ بِهِمْ
kelak kalian pasti akan menyusul mereka

فَتَدَارَكُوا مَا بَقِيَ مِنْ اَعْمَارِكُمْ بِصَالِحِ الأَعْمَا لِ
perbaikilah sisa umur kalian dengan amal perbuatan yang baik

وَكَأَنَّيْ بِكُمْ وَقَدْ نُقِلْتُمْ مِنْ قُصُوْرِكُمْ اِلَي قُبُوْرِكُمْ
seolah-olah aku melihat kalian telah dipindahkan dari istana-istana kalian menuju kubur-kubur kalian

فَارِقِيْنَ غَيْرَ مَسْرُوْرِيْنَ
dalam keadaan takut dan tidak menyenangkan

وَكَمْ وَاللهِ مِنْ قَرِيْحٍ قَدِ اسْتَكْمَلَتْ عَلَيْهِ الْخَسَارَاتِ
Demi Allah berapa banyak dari luka yang semakin bertambah parah

حَيْثُ لاَيُقَالُ نَادِم وَلاَيُغَاثُ ظَالِم
dimana penyesalan tidak berguna dan yang zalim tidak mendapat pertolongan

قَد وَجَدُوْا مَا اَسْلَفُوا وَاُحْضِرُوا مَا تَزَوَّدُوْا
mereka telah mendapatkan apa yang mereka perbuat dan telah dihadirkan bekal-bekal mereka ( selama didunia )

وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًا وَلاَيَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
dan mereka telah mendapatkan apa-apa yang mereka kerjakan hadir dihadapannya dan Tuhanmu sekali-kali tidak berbuat zalim kepada siapa pun

وَهُمْ فِيْ مَنَازِلِ الْبَلْوَي هُمُوْد
dan mereka kesepian di tempat yang penuh dengan kesulitan

وَفِي عَسَاكرِي الْمَوْتَي خُمُود
dan merasa sunyi di perkemahan orang-orang mati

يَنْتَظِرُوْنَ صَيْحَةَ الْقِيَامَةِ وَحُلُوْلَ يَوْمَ الطَّامَّةِ
menunggu datangnya teriakan hari kiamat dan tibanya hari yang penuh musibah

لِيَجْزِيَ الَّذِيْنَ أَسَاؤُوْا بِمَا عَمِلُوا
untuk kemudian Dia membalas siapa yang berbuat buruk

وَيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اَحْسَنُوا بِالْحُسْنَي
dan memberikan pahala kepada yang berbuat baik

ثُمَّ قَالَ : اَيُّهَا النَّاسُ اُعْطِيْنَا سِتًا وَفُضِّلْنَا بِسَبْعٍ،
kemudian beliau(as) melanjutkan “Wahai manusia Allah telah memberikan kami enam
karunia dan telah mengutamakan kami dengan tujuh keutamaan

اُعْطِيْنَا : اَلْعِلْمَ وَالْحِلْمَ وَالسَّمَاحَةَ وَالْفَصَاحَةَ وَالشَّجَاعَةَ
Kami telah diberikan karunia pengetahuan, ketabahan, kemurahan hati, kebesaran hati,
Kefasihan, keberanian

وَالْمَحَبَّةَ فِيْ قُلُوبِ الْمُؤْمِنِيْنَ
dan cinta di hati orang-orang yang beriman

وَفُضِّلْنَا بِأَنَّا مِنَّا النَّبِيُّ المُخْتَارُ وَمِنَّا الصِّدِّيْقُ وَمِنَّا الطَّيَّار
dan kami diberi keutamaan bahwa dari kamilah Nabi terpilih (Muhammad saw), dan
dari kami as-Shiddiq (Ali) dan dari kami at-Thayyar (Ja’far)

وَمِنَّا أَسَدُ اللهِ وَأَسَدُ رَسُوْلِهِ
Dan dari kami singa Allah dan Rasul-Nya (Hamzah)

وَمِنَّا سِبْطَا هَذِهِ الأَمَّةِ وَمِنَّا مَهْدِيُّ هَذِهِ الأَمَّةُ
Dan dari kami dua cucu umat ini (al-Hasan dan al-Husain) dan dari kami kelak al –Mahdi

مَنْ عَرَفَنِي فَقَدْ عَرَفَنِي وَمَنْ لَمْ يَعْرِفْنِي أَنْبَأْتُهُ بِحَسَبِيْ وَنَسَبِيْ
siapa saja yang pernah mengenalku-telah mengenalku.Bagi mereka yang belum
mengenalku aku akan mengenalkan diri dengan menyebut keluarga dan nasabku

أَيُّهَا النَّا سُ ‘ أَنَا ابْنُ مَكَّةَ وَمِنَى‘
“Wahai manusia, akulah Putra Mekkah dan Mina (Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ زَمْزَمَ وَالصَّفَى‘
akulah Putra Zamzam dan Sofa (Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ مَنْ حَمَلَ الزَّكَاةَ بِاَطْرَافِ الرِّدَى
akulah putra seorang yang setelah mengangkat Hajar al-Aswad dengan ujung jubahnya (Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ خَيْرِ مَنِ اتَّزَرَ وَارْتَدَى
akulah putra dari orang yang paling baik dalam berbusana dan bersurban
(Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ خَيْرِ مَنٍ انْتَعَلَ وَاحْتَفَي
akulah Putra dari orang yang paling baik bersandal dan bertelanjang kaki
(Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ خَيْرِ مَنْ طَافَ وَسَعَي
akulah putra dari orang yang paling baik melakukan Thawaf dan Sa’I (Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ خَيْرِ مَنْ حَجَّ وَلَبَّى
akulah putra dari orang yang paling baik dalam mengerjakan Haji dan ber-Talbiah (Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ مَنْ حُمِلَ عَلَيَّ البُرَاقِ فِي الهَوَاءِ
akulah Putra dari orang yang dinaikkan dengan Buraq di angkasa (Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ مَنْ اُسْرِيَ بِهِ مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلى الْمَسْجِدِ الأَقْصَي ‘
akulah Putra dari yang telah diperjalankan dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsa (Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ مَنْ بَلَغَ بِهِ جِبْرَائِيْلَ اِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَي
akulah putra seorang yang telah di bawa oleh Jibril ke Sidrah al-Muntaha
(Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ مَنْ دَنَي فَتَدَلَّي فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ اَدْنَي‘
akulah putra seorang yang telah mencapai batas terdekat keberadaan Tuhan-Nya (Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ مَنْ صَلَّي بِمَلاَئِكَتِهِ السَّمَاءِ مَثْنًا مَثْنًا‘
akulah Putra dari seorang yang para Malaikat dilangit berselawat untuk-Nya
(Rasulullah saw)

أَنَا ابْنُ مَنْ اَوْحَي اِلَيْهِ الجَلِيْلُ مَا اَوْحَي
akulah Putra dari seorang yang Allah telah menurunkan wahyu atasnya

اَنَا ابْنُ مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَي‘ اَنَا ابْنُ عَلِيِّ الْمُرْ تَضَي
akulah Putra Muhammad al-Mustafa dan Ali al-Murtadha

اَنَا ابْنُ مَنْ ضَرَبَ خَرَاطِيْمَ الْخَلْقِ حَتَّي قَالُوا لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
akulah Putra dari seorang yang memukul batang hidung (yang kafir) sampai mereka mengucapkan Tiada Tuhan Selain Allah (imam Ali)

اَنَا ابْنُ مَنْ ضَرَبَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُوْلِ اللهِ بِسَيْفَيْنِ
Akulah Putra dari seorang yang berperang di samping Nabi dengan dua pedang (imam Ali)

وَطَعَنَ بِرُمْحَيْنِ وَهَاجَرَ الْهِجْرَتَيْنِ وَبَايَعَ الْبَيْعَتَيْنِ
yang menikam dengan dua tombak, yang berhijrah dua kali dan yang mengambil
sumpah kesetiaan (baiat) dua kali (imam Ali)

وَقَاتَلَ بِبَدْرٍ وَحُنَيْنِ وَلَمْ يَكْفُرْ بِاللهِ طَرْفَةً عَيْنِ
yang turut berperang pada waktu perang Badr dan Hunain,dan tidak pernah kafir kepada Allah walaupun sekejap mata (imam Ali)

أَنَا ابْنُ صَالِحِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَوَارِثِ النَّبِيّيْنَ
akulah Putra seorang saleh yang mukmin dan putra pelanjut para Nabi (imam Ali)

وَقَامِعِ الْمُلْحِدِيْنَ وَيَعْسُوبِ الْمُسْلِمِيْنَ
Penghancur berhala dan lebah jantan kaum muslimin (imam Ali)

وَنُوْرِالْمُجَاهِديْنَ ‘ وَتَاجِ الْبُكَّائِيْنَ
cahaya para Mujahidin, hiasan bagi para orang yang menangis ( karena takut kepada Allah ) (imam Ali)

وَزَيْنِ الْعَابِدِيْنَ وَاَصْبَرِ الصَّابِرِيْنَ
yang paling tekun ibadahnya dan orang yang paling sabar di antara orang-orang yang sabar (imam Ali)

وَاَفْضَلِ الْقَائِميْنَ مِنْ آلِ طَهَ وَيَاسِيْنَ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ‘
Yang paling utama dalam shalatnya dari keluarga Thaha dan Yasin Rasul Tuhan seluruh alam

أَنَا ابْنُ الْمُؤَيَّدِ بِجِبْرَائِيْلَ ‘ اَلْمَنْصُوْرِ بِمِكَائِيْلَ
akulah putra dari seorang yang di dukung oleh Jibril dan dibantu oleh Mikail (imam Ali)

أَنَا ابْنُ الْمُحَامِيْ عَنْ حُرَمِ الْمُسْلِمِيْنَ
Akulah Putra orang yang membela kehormatan Islam (imam Ali)

وَقَاتِلِ الْمَارِقِيْنَ وَالنَّاكِثِيْنَ وَالْقَاسِطِيْنَ
Dan yang memerangi Al-Mariqun (pasukan jamal),an Nakitsun (Mu’awiyah), dan al-Qasithun (Khawarij) (imam Ali)

وَالْمُجَاهِدِ اَعْدَاءَهُ الْغَاصِبِيْن ‘َ
Dan yang memerangi musuh-musuhnya para perampas hak (imam Ali)

وَاَفْخَرِ مَنْ مَشَى مِنْ قُرَيْشٍ أَجْمَعِيْنَ
Dan yang paling mulia dari seluruh keturunan Quraisy (imam Ali)

وَاَوَّلِ مَنْ اَجَابَ وَاسْتَجَابَ لِلَّهِ وَلِرَسُوْلِهِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Dan yang pertama dari kaum mukminin yang menjawab panggilan Allah dan Rasulnya (imam Ali)

وَاَوَّلِ السَّابِقِيْنَ وَقَاصِمِ الْمُعْتَدِيْنَ وَمُبِيْدِ الْمُشْركِيْنَ
Dan yang pertama masuk Islam dan yang merobohkan musuh-musuh Allah serta menghancurkan kaum musyrikin (imam Ali)

وَسَهْمٍ مِنْ مَرَامِيْ اللهِ عَلَى الْمُنَافِقِيْنَ
dan panah Allah yang diarahkan kepada kaum munafik (imam Ali)

وَلِسَانِ حِكْمَةِ الْعَابِدِيْنَ
lisan hikmah kaum ahli ibadah

وَنَاصِرِ دِيْنِ اللهِ ‘ وَوَلِيِّ اَمْرِاللهِ
penolong agamaAllah dan pengemban perintah-Nya (imam Ali)

وَبُسْتَانِ حِكْمَةِ اللهِ وَعَيْبَةِ عِلْمِه ‘ِ
taman kebijaksanaan dan pembawa pengetahuan Allah (imam Ali)

سَمِحٌ سَخِيٌّ بَهِيٌّ بُهْلُوْلٌ زَكِيٌ
berani , penuh kasih sayang , baik sifatnya , ceria , cerdas (imam Ali)

أَبْطَحِيٌّ رَضِيٍّ مِقْدَامٌ هُمَامٌ
singa, yang selalu ridha, pemberani (imam Ali)

صَابِرٌ صَوَّامٌ مُهَذَّبٌ قَوَّامٌ
sabar, selalu melaksanakan puasa, suci dari segala dosa, melalukan banyak salat (imam Ali)

قَاطِعُ الأَصْلاَبِ وَمُفَرِّقُ الأّحْزَابِ ‘
memotong tali keturunan (musuh Allah) dan mencerai-beraikan kelompok musuhnya (imam Ali)

وَارِثُ الْمَشْعَرَيْنِ وَاَبُوْ السِبْطَيْنِ ‘ الحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ ‘
Pewaris dua Mash’ar (Arafah dan Muzdalifah), ayah dari al-Hasan dan al-Husain

ذَاكَ جَدِّي عَلِيٌّ بْنُ اَبِيْ طَالِبْ
itulah kakekku ‘Ali Ibn Abi Thalib

ثُمّ َ قَالَ : اَنَا ابْنُ فَاطِمَةِ الزَّهْرَاء اَنَا ابْنُ سَيِّدَةِ النِّسَاء
Kemudian dia melanjutkan, akulah putra Fatimah az-Zahra penghulu kaum wanita

اَنَا ابْنُ خَدِيْجَةِ الْكُبْرى
akulah putra Khadijah al-Kubra

اَنَا ابْنُ الْمَقْتُولِ الظُّلْمَةِ
akulah putra dari orang yang terbunuh secara Zalim

اَنَا ابْنُ مَذْبُوْح الرَّأْسِ مِنَ القَفَاء
akulah putra yang kepalanya terpenggal dari tengkuknya

اَنَا ابْنُ العَطْشَانَهْ حَتَّى الْقَوَاء
akulah putra seorang yang dahaga hingga mati

اَنَا ابْنُ طَرِيْحِ كَرْبَلاَء
akulah putra seseorang yang terkapar di padang Karbala

اَنَا بْنُ مَسْلُوْبِ الْعِمَامَةِ وَالرِّدَاء
akulah putra yang terampas surban dan jubahnya

اَنَا ابْنُ مَنْ بَكَتْ عَلَيْهِ مَلاَئِكَةُ السَّمَاء
akulah putra orang malaikat langit menangisi (kematiannya)

اَنَا ابْنُ مَنْ نَاحَتْ عَلَيْهِ الْجِنُّ فِي الأَرْضِ وَالطَّيْرِ فِي الْهَواء
akulah putra orang yang golongan Jin dan burung-burung meratapi (kematiannya)

اَنَا ابْنُ مَنْ رَأْسُهُ عَلَى السَّنَانِ يُهْدَى
akulah putra kepala yang ditancapkan pada ujung tombak untuk dihadiahkan

اَنَا ابْنُ مَنْ حُرَمُهُ مِنَ الْعِرَاقِ اِلَى الشَّامِ تُسْبَى
akulah putra dari orang yang wanita-wanitanya dibawa dari Iraq hingga ke Syam sebagai tawanan

فَلَمْ يَزَلْ يَقُولُ : أَنَا.. أَنَا ‘ حَتَّى ضَجَّ النَّاسُ بِالْبُكَاءِ وَالنَّحِيْبِ ‘
Dan beliau terus meneruskan Khotbahnya….sampai kerumunan masa di sekitarnya menangis dan meratap

وَخَشِيَ يَزِيْدُ اَنْ تَكُوْنَ الْفِتْنَةُ فَأَمَرَ الْمُؤَذِّنُ فَقَطَعَ عَلَيْهِ الْكَلاَمِ
Yazid pun merasa takut akan terjadi fitnah maka ia memerintahkan muadzin untuk memotong khutbah (beliau as) dengan azan

فَلَمَّا قَالَ الْمُؤَذِّنُ..” اللهُ اَكْبَرُ.. !”
Ketika muadzin mengumandangkan azan..”Allahu Akbar…!”

قَالَ عَلِيُّ ابْنُ الْحُسَيْن: لاَ شَيْءَ اَكْبَرُ مِنَ اللهِ كَبَّرْتَ كَبِيْرًا لاَ يُقَاس ‘
Berkata Ali bin Husain (as) :”Tidak ada yang lebih besar dari Allah

فَلَمَّا قَالَ الْمُؤَذِّنُ..” أَشْهَدُ أَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ..!”
Ketika muadzin sampai pada kalimat “Asyhadu alla ilaha ilallah….!”

قَالَ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنُ : شَهِدَ بِهَا شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ وَعَظَمِيْ وَلَحْمِيْ وَدَمِيْ ‘
Berkata Ali bin Husain (as):”Rambutku,kulitku,tulangku,dagingku,serta darahku
turut bersaksi ke-Esaan-Nya

فَلَمَّا قَالَ الْمُؤَذِّنُ..” أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ..!”
Ketika muadzin sampai pada kalimat ” Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah..”!

اِلْتَلَفَتَ مِنْ فَوْقِ الْمِنْبَرِ اِلَى يَزِيْدِ وَقَالَ :
“مُحَمَّدٌ هَذَا جَدِّيْ اَمْ جَدُّكَ يَا يَزِبْدُ
Dari atas mimbar beliau(as) menoleh kea rah Yazid seraya berkata:” Wahai Yazid,Muhammad itu kakekku atau kakekmu?

فَأِنْ زَعَمْتَ أَنَّهُ جَدُّكَ فَقَدْ كَذِبْتَ وَكَفَرْتَ
Jika engkau mengaku bahwa dia (Muhammad saw) adalah kakekmu maka engkau telah berdusta dan menjadi kafir

وَاِنْ قُلْتَ اِنَّهُ جَدِّيْ فَبِمَا قَتَلْتَ عِتْرَتَهُ ؟
Dan jika engkau mengakuinya sebagai kakekku, lalu mengapa engkau bantai keluarganya?”

فَنَزَلَ زَيْنُ الْعَابِدِيْنَ مِنَ الْمِنْبَرِ‘
…… Kemudian Zain al-Abidin (as) turun dari mimbar

وَقَدْ تَفَرَّقَ مَنْ كَانَ فِيْ الْمَسْجِدِ وَالتَّقُوْا حَوْلَ الإِمَامِ زَيْنَ الْعَابِدِيْنَ
Kerumunan masa didalam mesjid berhamburan dan mendekat kearah Imam Zainal al-Abidin (as)

وَلَمَّا خَشِيَ يَزِيْدُ الْفِتْنَةَ وَانْقِلاَبَ الأَمْرِ
Ketika Yazid takut peristiwa ini akan menjadi fitnah dan hilangnya dukungan
untuknya

عَجَّلَ بِإِخْرَاجِ الإِمَامِ زَيْنَ الْعَابِدِيْنَ
Maka Yazid pun mempercepat jadwal pemulangan Imam beserta keluarganya

مِنَ الشَّامِ اِلَى وَطَنِهِمْ وَمَقَرِّهِمْ وَمَكَّنَهُمْ مِمَّا يُرِيْدُوْنَ
Dari Syam menuju kampung halaman dan menempatkan mereka sesuai yang diinginkan mereka

وَاَمَرَ نُعْمَانَ بِنْ بَشِيْرِ وَالْجَمَاعَةِ يَسِيْرُ مَعَهُمْ اِلَى الْمَدِيْنَةِ
Dan menugasi Nu’man bin Basyir serta sekelompok yang lain untuk membawanya ke Madinah

وَلَمَّا عَرَفَ زَيْنُ الْعَابِدِيْنَ الْمُوَافَقَةَ مِنْ يَزِيْدِ
Dan ketika Imam a.s mengetahui adanya izin dari Yazid

طَلَبَ مِنْهُ الرُّؤُوْسَ كُلِّهَا لِيَدْفُنْهَا فِيْ مَحَلِّهَا
Beliau (as) meminta seluruh kepala untuk dibawa dan dikuburkan pada tempatnya

فَلَمْ يَتَبَاعَدْ يَزِيْدُ عَنْ رَغْبَتِهِ
Dan Yazid tidak menolak permintaan tersebut

فَدَفَعَ اِلَيْهِ رَأْسَ الْحُسَيْن مَعَ رُؤُوْسِ أَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ فَأَلْحَقَهَا بِالأَبْدَانِ

Lalu memberikan kepala suci al-Husain (as) beserta kepala keluarganya dan sahabatnya yang lain kemudian menyatukan dengan badannya




-- Source : syiahmenurutsyiah.com

Risalah Muhammad SAW, Awal Perubahan Umat Manusia

kaligrafi-muhammad-saw-vector


Sejak masa mudanya, Muhammad Saw, yang dikenal sebagai pemuda tampan, berbudi mulia dan jujur, sehingga mendapat julukan sebagai “al-Amin” yang terpercaya, di tengah masyarakat Arab yang sudah sedemikian rusak dan bobroknya, sehingga dikenal sebagai masyarakat jahiliyah, dan zamannya disebut sebagai zaman jahiliyah, menyukai hidup menyendiri, di tempat-tempat sepi padang pasir dan bukit-bukit sekitar kota Mekkah. Sampai akhirnya beliau menemukan sebuah gua di bukit Tsur, dan menjadikan gua tersebut, yang dikenal dengan nama gua Hira, sebagai tempatnya menyepi dan merenung, bermunajat kepada Tuhan yang Maha Esa. Hinga suatu malam, ketika usia Muhammad telah genap mencapai 40 tahun, datang malaikat pembawa wahyu, yaitu Jibril atau Jibrail as, kepada Muhammad di gua tersebut, membawakan wahyu pertama, sekaligus pengangkatan resmi beliau sebagai Rasul terakhir untuk segenap umat manusia.

Kisah turunnya Jibril as untuk yang pertama kalinya ini diceritakan sendiri oleh Nabi Muhammad Saw, sebagai berikut, “Malaikat pembawa wahyu datang kepadaku, ia mengatakan, “Bacalah”! Aku menjawab, “Apa yang harus aku baca”? Kemudian ia mengatakan, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan…… dan seterusnya, lima Ayat pertama Surat al-‘Alaq.” Akupun membacanya. Setelah itu ia meninggalkan aku. Saat itu aku merasa bahwa Ayat-Ayat tersebut seolah telah terukir di dalam hatiku. Kemudian aku keluar dari gua. Ketika aku telah disampai diantara bukit-bukti, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit, “Hai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan aku Jibril.” Aku menengok ke atas. Aku melihat seorang malaikat dalam bentuk seorang lelaki, yang dua kakinya seakan memenuhi dua ufuk langit. Ia kembali mengatakan, “Hai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan aku adalah Jibril.” Aku berdiri dan memandang kepadanya. Aku terdiam, tidak maju dan tidak pula mundur. Ketika aku memalingkan muka ke arah lain, tetap saja aku melihat malaikat tersebut. Kemana saja aku memandang maka aku melihatnya……

Pengangkatan Nabi dan turunnya malaikat pembawa wahyu, menandakan terbukanya pintu-pintu langit yang membentangkan jalan-jalan spiritual ke dalam batin manusia. Dengan rahmat-Nya yang tak bertepi, Allah Swt membentangkan jalan terang demi kebebasan umat manusia dari kegelapan dan kesesatan. Muhammad Saw, yang memiliki sifat-sifat keagungan yang sempurna telah terpilih sebagai manusia yang harus memikul tanggung jawab besar dan agung ini. Sesungguhnyalah, pengangkatan Muhammad sebagai Rasul terakhir dapat dianggap sebagai peristiwa paling penting dan paling agung dalam perjalanan sejarah kehidupan umat manusia. Al-Quran sendiri menyebut peristiwa ini sebagai karunia dan nikmat yang agung, dan dalam Ayat 164 Surat Ali Imran, Allah Swt berfirman;


“Allah Swt telah menurunkan karunia-Nya kepada mukminin ketika Ia mengangkat seorang Rasul dari kalangan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya dan membersihkan mereka serta mengajarkan al-Kitab dan hikmah. Sedangkan sebelum itu mereka berada dalam kesesatan yang nyata.”

Bi’tsah adalah sumber perubahan, awal kesempurnaan dan lemenangan. Muhammad Saw yang merupakan sosok sempurna keutamaan dan kebaikan, menyebut Islam sebagai pelengkap ajaran-ajaran agama terdahulu yang dibawa oleh para Nabi sebelum beliau, yaitu Ibrahim, Musa, dan Isa alahimussalam. Wahyu-wahyu yang beliau sampaikan dari Allah kepada umat manusia, beserta penjalasan beliau baik dengan lisan maupun dengan praktek, memberikan kesegaran dan semangat jiwa. Sayyidah Fatimah as, putri tercinta Rasul Allah Saw, yang disebut oleh Rasul sebagai bagian dari darah daging beliau, berkenaan dengan bi’tsah Nabi mengatakan sebagai berikut, “Allah Swt mengangkat Muhammad saaw untuk menyempurnakan nikmat dan rahmat beliau kepada umat manusia, dan untuk melengkapkan apa yang telah Allah tetapkan. Rasul Allah Saw diangkat sebagai Nabi terakhir pada saat setiap kaum memiliki ajaran agamanya sendiri; dan setiap kelompok menuju ke jalan terang yang diyakininya; dan setiap golongan bersujud di depan berhalanya. Allah Swt memberikan jalan baru melalui Nabinya yang terakhir ini, yang akan menyelamatkan umat manusia dari jalan-jalan lain yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kegelapan dan kebinasaan.”

Dalam memperingati peristiwa besar bi’tsah Nabi, hendaknya kita ketahui bahwa apakah yang diberikan oleh peristiwa bi’tsah Nabi ini untuk manusia saat ini? Tak diragukan, terjadinya sebuah revolusi kebudayaan yang mengakar, di masa jahiliyah dan di tengah masyarakat tak beradaban jazirah Arab saat itu, termasuk diantara mukjizat agama Islam yang besar ini. Dengan memilih dan mengangkat para Nabinya, Allah Swt menunjukkan sisi lain dari kehidupan sejahtera dan bahagia umat manusia. Ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh manusia pilihan ini, yaitu Muhammad Saw, tak lain memebrikan peraturan-peraturan yang indah tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan masyarakatnya. Jalan hidup kebahagiaan ini membimbing manusia kepada ilmu pengetahuan, tafakkur, kebaikan, keadilan, usaha, dan kemerdekaan. Di bawah naungan ajaran-ajaran ini manusia akan memperoleh kemuliaan, kejayaan dan kemuliaannya. Rasul Allah Saw, pada khususnya, dan para Nabi dan Rasul lain pada umumnya, adalah para perantara yang berada di tangah, antara Tuhan dan umat manusia, dan bertugas membimbing mereka, baik dengan ucapan maupun dengan contoh-contoh nyata berupa amal perbuatan.
Tidak diragukan bahwa Muhammad Saw adalah manusia yang berhasil menjalani hidup di dunia ini dengan sempurna, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Swt. Dengan demikian, jika kita mampu meniru cara hidup beliau, maka kita pun akan mendapatkan kemuliaan sebagaimana yang telah beliau peroleh. Demikian pula halnya dengan manusia-manusia suci dan mulia lain, seperti Ahlul Bait Nabi saaw, dan para sahabat beliau yang saleh dan mulia. Itulah yang dimaksud bahwa Rasul Allah Saw merupakan teladan atau uswah bagi umatnya. Berkenaan dengan filsafat pengangkatan Nabi, al-Quran mengatakan penyucian manusia dari dosa dan kesesatan, penegakan keadilan sosial dan perlawanan terhadap penguasa-penguasa lalim, sebagai jalan kemajuan dan kemuliaan manusia yang akanmemebrikan segala macam keuntungan dan kemaslahatan kepadanya.
Dalam surat Al-Hadid Ayat 25, Allah Swt berfirman, “Dan Kami telah utus Rasul-Rasul Kami dengan dalil-dalil yang jelas, dan kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan Mizan, agar manusia menegakkan keadilan.” 
Imam Ali as, salah seorang dari Ahlul Bait Nabi Saw, menyebut bi’tsah sebagai sebuah jalan untuk mengenal hakekat dan memahami ajaran-ajaran yang suci dan mengatakan, “Jika batil benar-benar terpisah dari kebenaran; dan kebenaran benar-benar terpisah dari kebatilan, tak akan ada orang yang melanggar. Akan tetapi selalunya, sebagian dari yang hak dan sebagian dari yang batil telah saling bercampur. Di sinilah setan bermain untuk menguasai manusia, dan hanya orang yang memperoleh rahmat Allah sajalah yang akan selamat.”
Saat ini, meskipun telah berabad-abad terpisah dari peristiwa bi’tsah Nabi, akan tetapi ajaran-ajaran Rasul Allah saaw, utusan terakhir, memiliki ciri-ciri yang sangat istimewa, sehingga mampu menerangi jalan kebahagiaan seluruh umat manusia. Ajaran-ajaran Allah Swt yang diturunkan untuk seluruh umat manusia adalah ajaran yang tak akan pernah lekang terkena panas dan tak akan luntur terkena hujan. Ia akan segar selamanya bagi seluruh masa, dan semua umat manusia. Tinggal manusianyalah yang menentukan, apakah ia bersedia bergabung ke jalan yang telah digariskan oleh Sang Maha Pencipta, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ini, ataukah tidak. Ajaran-ajaran agama Islam juga memiliki kandungan-kandungan yang tiada batasnya. Tinggal musliminnyalah yang harus menyingsingkan lengan baju, untuk menggali kandungan ayat-ayat suci Al-Quranul Karim, mengeluarkan kekayaannya dan harta karun petunjuknya yang tiada pernah habis. (IRIB)




-- Source : syiahmenurutsyiah.com

Apa Beda Sunni, Syiah dan Wahabi ?

IMG_20160423_082328




Apa yang membedakan seorang Sunni dari Syiah dan Wahabi? Dan apa perbedaan mendasar antara ketiganya?

Perintah Ilahi ini merupakan ungkapan yang menyeru semua umat Islam untuk bersatu menjadi satu umat (komunitas orang yang beriman). Dan untuk alasan ini, semua bentuk perpecahan dan sektarianisme menjadi Islami.

Sayangnya, fakta sejarah seolah berbanding terbalik dengan apa yang diserukan Allah, dan ini berlangsung selama berabad-abad. Hal ini terjadi karena penafsiran dari beberapa ayat-ayat Qur’an dan arti dari beberapa hadis yang berbeda.

Interpretasi ini telah menyebabkan terbentuknya beberapa sekte dalam komunitas Muslim. Tapi Islam jauh lebih beruntung dibandingkan sistem kepercayaan lain, di mana Islam hanya memiliki jumlah sekte yang jauh lebih sedikit.

Sejarah mencatat bahwa Sunni dan Syiah adalah dua kelompok utama di kalangan umat Islam. Tapi kebanyakan orang percaya bahwa Sunni dan Syiah saling mengenali diri mereka sebagai Muslim sejati (kecuali untuk beberapa aliran sesat).
Keduanya, pengikut Sunni dan Syiah sama-sama beriman kepada Allah Swt., sama-sama percaya pada Nabi Muhammad Saw. dan percaya pada datangnya Hari Akhir sebagaimana dicontohkan Al-Qur’an dalam ayat berikut;Perintah Ilahi ini merupakan ungkapan yang menyeru semua umat Islam untuk bersatu menjadi satu umat (komunitas orang yang beriman). Dan untuk alasan ini, semua bentuk perpecahan dan sektarianisme menjadi Islami.
Sayangnya, fakta sejarah seolah berbanding terbalik dengan apa yang diserukan Allah, dan ini berlangsung selama berabad-abad. Hal ini terjadi karena penafsiran dari beberapa ayat-ayat Qur’an dan arti dari beberapa hadis yang berbeda.

Interpretasi ini telah menyebabkan terbentuknya beberapa sekte dalam komunitas Muslim. Tapi Islam jauh lebih beruntung dibandingkan sistem kepercayaan lain, di mana Islam hanya memiliki jumlah sekte yang jauh lebih sedikit.

Sejarah mencatat bahwa Sunni dan Syiah adalah dua kelompok utama di kalangan umat Islam. Tapi kebanyakan orang percaya bahwa Sunni dan Syiah saling mengenali diri mereka sebagai Muslim sejati (kecuali untuk beberapa aliran sesat).
Keduanya, pengikut Sunni dan Syiah sama-sama beriman kepada Allah Swt., sama-sama percaya pada Nabi Muhammad Saw. dan percaya pada datangnya Hari Akhir sebagaimana dicontohkan Al-Qur’an dalam ayat berikut;

“Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan malaikat-malaikatNya, dan kitab-kitabNya, dan rasul-rasulNya. (Mereka berkata): “Kami tidak membedakan antara seorang dengan yang lainnya”. Mereka berkata lagi: Kami dengar dan kami taat (Kami mohon ampunanMu, wahai Tuhan kami, dan kepadamu lah tempat kembali”. (Qs. Al-Baqarah 2:285)

Bahkan, pembagian antara Sunni dan Syiah terjadi setelah kematian Nabi Muhammad. Muncul pertanyaan pada saat itu siapa yang mengambil alih kepemimpinan umat Muslim.

Muslim Sunni berpandangan, bersama dengan sebagian besar Sahabat Nabi, bahwa pemimpin baru harus dipilih dari kalangan mereka yang mampu memimpin. Saat itu, jatuhlah pilihan mereka pada sahabat dekat Nabi Muhammad yang juga sekaligus penasihatnya, yakni Abu Bakar. Melalui pilihan inilah, Abu Bakar kemudian resmi menjadi khalifah pertama negara Islam.

Tapi ada sekelompok Muslim yang berpandangan bahwa kepemimpinan masyarakat harus diambil dari anggota keluarga Nabi sendiri, atau seseorang yang khusus ditunjuk oleh beliau, atau Imam hanya boleh diangkat oleh Allah sendiri.

Lebih lanjut, mereka menyatakan bahwa sepeninggal Rasul, Ali lah yang harus terpilih sebagai pemimpin. Sebab mereka percaya bahwa Ali—di mana merupakan suami Fatimah (anak kandung Rasul, yang berarti Ali merupakan menantu Rasul), dulu sempat ditunjuk langsung oleh Rasulallah, sebagai pengganti beliau.

Sementara itu, kata “Syiah” berasal dari ungkapan, ‘Shiat Ali’ atau ‘Partai Ali’. Dari pernyataan awal ini, kepemimpinan politik, beberapa aspek kehidupan spiritual telah dipengaruhi, dan karenanya perbedaan antara dua kelompok Muslim pun tak terhindarkan.

Mayoritas (85%) dari umat Islam saat ini adalah Sunni, sedangkan sisanya Syiah. Meskipun terjadi perbedaan dalam hal ini, sebagian besar Muslim—apakah Sunni atau Syiah—mereka meyakini bahwa mereka membaca Al-Qur’an yang sama, berkunjung ke Ka’bah yang sama untuk melakukan ibadah haji, dan mereka sama-sama lebih senang bila disebut sebagai Muslim.

Ulama terkemuka dunia, Sheikh Yusuf Al-Qaradawi menulis:
“Hal ini penting bagi kaum Sunni untuk berkonsentrasi pada poin-poin kesepakatan, bukan perbedaan, ketika berdialog dengan Syiah, poin-poin kesepakatan ini teruatama diperhatikan pada isu-isu fundamental agama, sedangkan titik perbedaan harus dijelaskan pada anak-anak yang masih di bawah umur.

Hal yang paling penting untuk dipertimbangkan adalah bahwa ada banyak kesepakatan antara yurisprudensi Sunni dan Syiah. Hal ini karena keduanya tergantung pada sumber yang sama, Al-Qur’an dan Sunnah, dan juga karena tujuan mereka dalam melakukan penelitian tentang agama adalah sama, yaitu, membangun keadilan dan rahmat Allah di antara semua orang.”(dalam karyanya yang berjudul Sunnis & Shiites: Overlooking Differences, yang diakses pada 9 Maret 2009).

Terkait Wahhabisme, seorang wartawan Barat menulis:
“.. .Itu juga menjadi jelas bahwa penyebaran Wahabisme, yang paling terkenal adalah Osama bin Laden, harus ditanggapi dengan serius.”

Dan dalam kalimat lain, ia menulis:
“Bahkan banyak Muslim menganggap Wahabisme merupakan sekte ekstremis, tapi pengikutnya, termasuk Arab Saudi—bersikeras menyatakan bahwa sebutan Islam Wahabisme yang kemudian menyebar luas di dunia Muslim, terjadi pasca Revolusi Iran pada 1979. Diam-diam, Saudi didorong oleh Amerika Serikat dan sekutunya, menggunakan sumber daya keuangan yang sangat besar mereka untuk memastikan bahwa Syiah Islam radikal tidak menyebar ke dunia Muslim Sunni.”(Tulis Carole O’Leary, dengan judul Extremists in a Moderate Land, dimuat di Washington Post, Minggu, 11 Agustus 2002, dan diakses pada 9 Maret 2009).

Muhammad bin Abdul Wahhab dari abad kesembilan belas, adalah seorang pembaharu yang fokus pada tauhid (monoteisme) dan melawan praktik politeistik yang entah bagaimana kembali ke rakyatnya, seperti berdoa kepada orang-orang yang dianggap suci, memberikan persembahan korban kepada orang-orang suci, dll. Murid-muridnya mulai menyebut diri mereka sebagai muwahhidun (Unitarian), sedangkan pengkritiknya menyebut mereka “Wahabi” – dengan konotasi yang buruk.

Kita bisa melihat bahwa apa yang disebut ‘Wahabisme’ adalah sebuah gerakan Islam yang benar-benar dinamai Ibnu Abdul Wahhab yang memulai gerakan reformasi di Saudi untuk mempertahankan bentuk murni dan asli dari Islam terhadap beberapa inovasi yang diperkenalkan oleh apa yang disebut sufi pada saat itu.

Dia menjunjung tinggi gagasan dua tokoh Islam terkemuka, Sheikh Ibnu Taimiyyah dan muridnya, Ibn Al-Qayyim, dan mengikuti pendapat hukum dari Imam Ahmad bin Hanbal, dalam pengakuan iman serta hal-hal hukum. Dan gerakannya itu membuat kontribusi yang signifikan terhadap Islam pada waktu itu, dengan menghapus banyak praktik menyimpang yang telah merayap ke dalam masyarakat Muslim.

Sebagai hasil karyanya, ajaran sesat, inovasi, dan praktik-praktik jahat menghilang dari kalangan umat Islam Arab. Misalnya, ia berhasil menebang pohon-pohon yang digunakan orang untuk menyembah dan berdoa dalam Najd. Mereka menggunakan pohon-pohon untuk meminta hal-hal yang hanya Allah Swt. mampu berikan.

Ibnu Abdul Wahhab juga menghancurkan tempat atau bangunan-bangunan yang sering digunakan untuk ritual pagan. Tapi orang-orang yang fanatik terhadap golongan sendiri, menabur benih kebencian terhadap dirinya dan para pengikutnya, yang benar-benar berpegang pada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Muhammad.
Hal tersebut berarti bahwa Wahabisme tidak benar-benar ada hubungannya dengan jenis terorisme, terutama mereka dikaitkan dengan Barat.

Wallahu A’lam Bishowab.(alhassanain)




-- Source : syiahmenurutsyiah.com

Ayah Nabi Ibrahim Bukanlah Azar Si Pembuat Berhala

azar



Siapakah ayah Ibrahim yang sebenarnya? Apakah ayahnya adalah penyembah berhala? Apakah setiap nabi itu harus dari keturunan yang suci?


Pertanyaan ini dapat dibagi menjadi dua bagian:

  1. Tentang ayah nabi Ibrahim As.
  2. Tentang ayah seluruh nabi.

Sehubungan dengan persoalan pertama terdapat dua pandangan:

  1. Sebagian ulama Ahlusunnah berkeyakinan bahwa ayah nabi Ibrahim As adalah penyembah berhala dan namanya adalah Azar.
  2. Sebagian ulama Ahlusunnah lainnya dan seluruh kaum Syiah berkeyakinan bahwa ayah, ibu dan seluruh kakek-nenek para nabi yang di antaranya adalah Nabi Ibrahim As sama sekali tidak ada yang musyrik dan tidak pernah menyembah berhala. Bahkan mereka semua adalah muwahhid (meng-esakan Tuhan) dan menyembah Allah Swt. Adapun nama ayah Nabi Ibrahim As adalah Tarikh.

Terdapat empat ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan kata “ab”  terkait dengan Azar namun yang maksudnya adalah bukan ayah, melainkan paman Nabi Ibrahim As. Berdasarkan berbagai riwayat yang dinukil dari Rasulullah Saw bahwa seluruh kakek-nenek beliau Saw sampai kepada nabi Adam As adalah orang-orang yang muwahhid (bertauhid). Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda: “Aku senantiasa berpindah-pindah dari sulbi-sulbi yang suci kepada rahim-rahim yang suci”.

Sesuai dengan nukilan hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa ayah Nabi Ibrahim As tidak mungkin seorang yang musyrik. Karena itu, kata “ab” pada ayat tersebut bukan bermakna ayah, tetapi bermakna paman atau ayah isteri atau lainnya. Terdapat pada ayat lainnya bahwa kata “ab” dimaksudkan sebagai makna kakek, paman dan ayah hakiki. Karena itu, jika dikatakan bahwa Azar yang dalam al-Qur’an diungkapkan dengan redaksi “ab”, maka maksudnya adalah paman Nabi Ibrahim As. Sesuai dengan kamus istilah al-Qur’an bahwa makna tersebut mempunyai landasan yang kuat.  Dalam riwayat-riwayat Syiah dijelaskan bahwa ayah hakiki Nabi Ibrahim As itu bernama Tarikh, kitab Taurat pun mengokohkan pandangan ini. Adapun apakah setiap nabi itu harus dari keturunan yang suci? Terdapat riwayat yang dinukil dari Rasulullah Saw bahwa “Tidak seorang pun dari seluruh ayah dan ibuku (datuk-datuk) itu pernah menyentuh perbuatan keji (zina). Riwayat ini juga meliputi seluruh kakek-nenek beliau Saw. Mengingat bahwa tolok ukur kesucian ayah-ibu seluruh nabi itu sama, maka berdasarkan kaidah “tanqihu al-manâth” (memutuskan suatu hukum berdasarkan kesamaan tolok ukur), hukum ini dapat meliputi seluruh para nabi.


Jawaban Detil
 

Pertanyaan ini dapat dibagi menjadi dua bagian:

  1. Tentang ayah nabi Ibrahim As.
  2. Tentang ayah seluruh nabi.
Sehubungan dengan persoalan pertama terdapat dua pandangan:

  1. Sebagian ulama Ahlusunnah berkeyakinan bahwa ayah nabi Ibrahim As adalah penyembah berhala dan namanya adalah Azar.
  2. Sebagian ulama Ahlusunnah lainnya dan seluruh kaum Syiah berkeyakinan bahwa ayah, ibu dan seluruh kakek-nenek para nabi dan di antaranya adalah Nabi Ibrahim As, sama sekali tidak ada yang musyrik dan tidak pernah menyembah berhala. Bahkan mereka semua adalah orang-orang yangmuwahhid (meng-esakan Tuhan) dan menyembah Allah Swt. Adapun nama ayah Nabi Ibrahim As adalah Tarikh.
  3. Boleh jadi sumber perbedaan ini adalah ayat-ayat yang terdapat dalam al-Qur’an. Karena dalam al-Qur’an terdapat ayat yang menggunakan kata “ab”

Untuk seseorang yang bernama Azar yang biasanya (tanpa indikasi) digunakan sebagai makna ayah. Dengan itu, maka ayat-ayat tersebut harus dikaji terlebih dahulu, kemudian setelah meneliti dan memecahkannya barulah kami akan menjawab pertanyaan Anda.

Terdapat empat ayat di dalam Al-Qur’an yang menggunakan kata “ab” sekaitan dengan Azar :

1.     “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya (pamannya Azar), tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu (agar ia tertarik kepada keimanan). Akan tetapi tatkala telah jelas bagi Ibrahim, bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (Qs. Al-Taubah [9]: 114).

2.     “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya (pamannya) Azar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat bahwa kamu dan kaummu berada dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-An’am [6]: 74)

3.     “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya (pamannya: Azar) dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah.” (Qs. Al-Zukhruf [43]: 26)

4.     “Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya (pamannya): “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari (siksaan) Allah.” Qs. Al-Mumtahanah [60]:

 

Pada ayat pertama, Allah Swt telah menjelaskan bahwa ayah (paman) Ibrahim sebagai musuhnya dimana beliau berlepas diri darinya. Dan pada ayat yang kedua Ibrahim mengatakan bahwa Azar berada dalam kesesatan yang nyata. Dan pada ayat yang ketiga Ibrahim As berkata bahwa beliau berlepas tangan dan tidak bertanggung jawab atas apa yang ia sembah. Adapun pada ayat yang keempat Ibrahim As berkata kepada Azar (berjanji kepadanya) bahwa beliau akan memintakan ampunan kepada Allah untuknya. Tetapi dengan memperhatikan ayat pertama yang menjelaskan bahwa Allah Swt berfirman: “Maka tatkala telah jelas bagi Ibrahim, bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya.”

 

Maksud dari kata “Ab”

Berdasarkan tanda-tanda dan beberapa bukti yang akan kami jelaskan di bawah ini, menjadi jelaslah bahwa yang dimaksudkan dengan kata “Ab” pada ayat-ayat tersebut adalah paman Ibrahim As .

Berdasarkan berbagai riwayat yang datang dari Rasulullah Saw yang dinukil baik oleh mazhab Sunni maupun Syiah bahwa seluruh kakek-nenek beliau Saw sampai kepada Nabi Adam As adalah orang-orang yang muwahhid (bertauhid).[1] Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda: “Aku senantiasa berpindah-pindah dari sulbi-sulbi orang-orang yang suci kepada rahim-rahim wanita-wanita yang suci”.[2] Dalam hadis yang lain Nabi  Saw bersabda: “Allah senantiasa memindahkanku dari sulbi-sulbi orang-orang yang suci kepada rahim-rahim para wanita suci hingga akhirnya Dia mengeluarkanku di alam duniamu ini, dan sama sekali aku tidak tersentuh oleh kotoran-kotoran jahiliyah”.[3]

Sudah jelas bahwa ketika Rasulullah Saw adalah keturunan Nabi Ismail dan Ibrahim As, maka secara otomatis bahwa ayah Ibrahim As merupakan kakek Rasulullah Saw yang sesuai dengan hadis di atas tidak mungkin termasuk orang-orang yang musyrik. Dengan demikian bahwa kata “ab” di dalam ayat tersebut tidak mungkin diartikan dengan ayah. Tetapi bermakna lain sebagaimana makna yang biasa digunakan oleh orang-orang Arab, yaitu bemakna paman atau ayah isteri. Dalam al-Qur’an, Allah Swt menyebutkan Nabi Ismail yang merupakan paman Nabi Ya’qub As, sebagai ayahnya. Allah Swt berfirman: “Apakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematiannya, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang akan kamu sembah nanti sepeninggalanku?”. Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk penuh kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 133)

Dalam ayat tersebut kata “ab” diartikan sebagai kakek, paman dan ayah yang sesungguhnya. Karena itu, jika dikatakan bahwa Azar yang dalam al-Qur’an diungkapkan dengan kata “Ab”, maka maksudnya adalah paman Ibrahim As. Dan sesuai dengan kamus istilah al-Qur’an hal itu mempunyai dalil yang kuat.

Sesungguhnya ayah Ibrahim yang hakiki adalah orang lain dan bukan Azar. Tetapi Al-Qur’an tidak menjelaskan namanya. Dalam riwayat-riwayat Syiah namanya adalah Tarikh. Kitab Taurat pun mengokohkan pandangan ini.[4] Ummu Salamah, isteri Rasulullah Saw berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Adnan adalah Ad putera Udud bin Ilyasa’ bin Humaisa’ bin Salaman bin Nabat bin Haml bin Qaidar bin Ismail bin Ibrahim As bin Tarikh bin Takhur bin Sarukh bin Ar’awa’ bin Faligh bin ‘Abir dan dia adalah Hud As bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh As bin Lamak bin Matusylakh bin Akhnukh, dia adalah Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam As; bapak manusia.[5] Karena itu, ayah Ibrahim adalah Tarikh, sedangkan Azar adalah pamannya.[6]

Tidak diragukan bahwa kaum musyrikin dan para penyembah berhala adalah merupakan musuh-musuh Allah Swt dan bagi setiap Muslim diwajibkan berlepas diri dari semua musuh Allah tersebut, bukan malah berlemah lembut dan menaruh simpati kepada mereka. Dengan itu kita saksikan, ketika telah jelas bahwa paman Ibrahim As; Azar adalah merupakan musuh Allah, beliau segera menyatakan berlepas diri dan tidak bertanggung jawab atas sikap dan perbuatannya itu. Allah Swt di dalam Al-Qur’an -dengan menukil ucapan Ibrahim- berfirman: “Maka ketika telah jelas baginya bahwa dia (Azar, pamannya) adalah musuh Allah, maka ia tidak bertanggung jawab terhadapnya.” (Qs. Al-Taubah [9]: 114)

 

Apakah setiap nabi harus dari keturunan yang suci?

Al-Suyuthi dalam al-Durr al-Mantsur – terkait dengan ayat yang “wa laqad ja’akum Rasulun min anfusikum,”[7]– menyatakan: “Abu Na’im dalam kitabnya Dalâil meriwatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Tidak seorang pun dari semua ayah dan ibuku pernah menyentuh perbuatan keji (zina), dan Allah Swt senantiasa memindahkanku dari sulbi ayah-ayah yang suci kepada rahim-rahim para ibu yang suci pula. Dan di mana saja ayah-ayah tersebut mempunyai anak-anak, maka aku dipindahkan ke sulbi seorang anak yang lebih suci dan lebih baik dari anak-anak lainnya.[8]

Riwayat ini juga meliputi seluruh kakek-nenek Nabi Saw. Mengingat bahwa tolok ukur kesucian ayah-ibu seluruh nabi itu sama, maka berdasarkan kaidah “Tanqihu al-Manâth” (menetapkan suatu hukum berdasarkan kesamaan tolok ukur), hukum ini dapat meliputi seluruh para nabi.

Kesimpulannya adalah bahwa berdasarkan banyak ayat dan riwayat yang bermacam-macam, baik melalui jalur Sunni maupun Syiah, demikian juga berdasarkan akal dan ijma’ dapat dipahami bahwa kedua orang tua (ayah ibu) nabi Ibrahim As adalah termasuk orang-orang yang muwahhid (meng-esakan Tuhan) dan orang-orang yang suci.

Dengan itu maka keyakinan kami, bukan hanya kaum Syiah bahkan banyak dari kaum Sunni meyakini bahwa ayah dan ibu semua nabi dan nabi Ibrahim As hingga Nabi Adam As, sama sekali tidak pernah ternodai oleh syirik. Mereka adalah orang-orang yang muwahhid dan orang-orang yang suci dari perbuatan zina dan melahirkan keturunan dengan cara pernikahan secara syar’i.[IQuest]

Catatan Kaki

[1]. .Alusi, Sayyid Mahmud, Ruh al-Ma’âni fi Tafsiri al-Qur’ân, Ali Abdul Bari Athiyyah, jil. 7, hal. 388, Dar al-Kutub Al-‘Ilmiyah, Cet. Beirut, 1415 H. Cet. 1; Andalusi, Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf, bin Hayyan, al-Bahrul al-Muhith fi al-Tafsir, jil. 8, hal. 439 Al-Bahru Al-Muhith, Situs Tafsir, http://www.altafsir.com (Al-Maktabah Al-Syamilah); Razi, Abu Abdillah Fakhruddin Muhammad bin Umar, Mafâtih al-Ghaib, jil. 6, hal. 337, Daru Ihya Al-Turats Al-Arabi, Beirut, 1430 H, Cet. III; Ibnu Adil, Tafsir Al-Lubab, jil. 7, hal. 9, Situs Al-Tafsir, http://www.altafsir.com (Al-Maktabah Al-Syamilah).

[2] .Alusi, Sayyid Mahmud, Ruh al-Ma’âni fi Tafsiri al-Qur’ân, jil. 7, hal. 388; Andalusi: Abu Hayyan Muhammad bin yusuf, a-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir, jil. 8, hal. 439; Razi, Abu Abdillah Fakhruddin, Muhammad bin Umar, Mafâtih al-Ghaib, jil. 6, hal. 337; Ibnu Adil, Tafsir Al-Lubâb, jil. 7, hal. 9 dan …..(Yang menarik adalah bahwa Alusi kurang begitu memperhatikan ucapan Fakhru Al-Razi yang mengatakan bahwa ucapan ini khusus Syiah).

[3] . Riwayat ini banyak dinukil oleh para mufassir baik Syiah maupun Sunni, seperti al-Thabarsi dalam kitabnya Tafsir Majma’u al-Bayân, Neisyaburi di dalam kitab tafsir Gharâibu al-Qur’ân, Fakhru Al-Razi di dalam kitab tafsir Al-Kabir dan Alusi di dalam kitab tafsir Ruh al-Ma’âni fi Tafsiri al-Qur’ân..

[4] .Baihaqi, Dalâil al-Nubuwwah, jil. 1, hal. 103, Situs Jami’u al-Ahadits, http://www.alsunnah.com (Al-Maktabu Al-Syamilah).

[5] .Thabarsi, Fadhl bin Hasan, I’lâmi al Warâ bi A’lami al-Hudâ, hal. 6.

[6].Kulaini, Raudhat al-Kâfi, Terj. Kamerei, jil. 2, hal. 327, Cet. Darul Al-Kutub Al-Islamiyah, Tehran, th. 1365 Sy.

[7]. ”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Qs. Al-Taubah [9]: 128)

[8]. Jalaluddin al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur fi Tafsir al-Ma’tsur, jil. 3, hal. 294, Perpustakaan Ayatullah Mar’asyi Najafi, Qum, th. 1404 H.



-- Source : syiahmenurutsyiah.com