Sudahkah Anda Bershalawat???

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)” HR an-Nasa’i (no. 1297)

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {56}

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. 33:56)

Ahlul Bait

مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“Perumpamaan Ahlul baitku seperti kapal nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya maka dia akan selamat dan barangsiapa yang enggan maka dia akan tenggelam (binasa).”

Kamis, 15 September 2016

[Mahdawiyah] Keharusan Mengenal Media Emanasi Tuhan di Muka Bumi



Imam, dalam teologi Syiah, adalah media emanasi Ilahi dan segala anugerah yang turun di alam eksistensi adalah berkat perantara seorang imam dan manusia sebagai bagian dari kosmos eksistensi juga menerima seluruh anugerah Ilahi melalui mediasi seorang imam. Imam pada tataran pensyariatan (tasyri’) dan juga pada level penciptaan (takwin) adalah media emanasi Tuhan.

“Biyumnihi ruziqa al-wara wa biwujudihi tsabatat al-ardhu wa al-sama” (Berkat keberadaannya rezeki-rezeki sampai kepada makhluk-makhluk dan dengan perantara dirinya langit tegak dan bumi terhampar) Demikian yang dinyatakan dalam doa ‘Adilah kitab Mafatih al-Jinan.

Senada dengan itu, Imam Hadi As bertutur, “Bikum fatahallah wa bikum yakhtim wa bikum yunazzil al-ghaits wa bikum yumsiku al-sama an taqa’a ‘ala al-ardh.” (Allah Swt memulai segala sesuatu dengan perantara kalian dan akan berakhir dengan perantara kalian. Berkat wujud kalian hujan membasahi bumi dan dengan perantara kalian langit dapat tegak di atas bumi) Man La Yahdhuruhu al-Faqih, jld. 2, hal. 615).

“Ya Ali laula nahnu ma khalaqaLlah Adam wa la Hawa wala al-jannah wala al-nar wala al-sama wala al-ardh.” (Wahai Ali sekiranya bukan karena kita, Allah Swt tidak akan menciptakan Adam dan Hawa, surga dan neraka, langit dan bumi). Sabda Rasulullah Saw yang ingin menegaskan peran media emanasi para Imam Ahlulbait As. (Ilal al-Syara’i, jld. 1, hal. 5).

Akhir kata, dalam sebuah hadis masyhur yang dikutip oleh Sunni-Syiah terkait keharusan mengenal imam disebutkan bahwa barang siapa yang tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyah semakin menandaskan perlunya setiap orang dan khususnya setiap Muslim dan Mukmin harus mengenal imam yang menjadi wali Tuhan dan media emanasi Tuhan di muka bumi.

~ Semoga Jumat Anda penuh keberkatan dan anugerah dengan menyisihkan waktu untuk membuka lembaran-lembaran buku tentang Imam Mahdi ~

~ Assalamu 'alaika Maulana Ya Aba Saleh al-Mahdi ~

Rabu, 14 September 2016

Doa Iftitah, Ungkapan Kebutuhan karena Kefakiran di Hadapan Tuhan

Hasil gambar untuk Berdoa


Di dalam doa iftitah kita menampakkan bahwa apa-apa yang kita mohonkan kepada Tuhan adalah kebutuhan kita dan mustahil kita berlepas dari kebutuhan itu.


Doa iftitah adalah doa yang diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Utsman ‘Amry, salah satu wakil khusus Imam Mahdi As. Orang-orang Syiah membaca doa ini di malam-malam bulan Ramadan. Doa ini mengandung pengenalan tinggi tentang Tuhan dan sebagian ulama menulis penafsiran doa ini. Paragraf terakhir doa ini mengisyaratkan beberapa perkara: ungkapan kecintaan kepada pemerintahan Islam di dalam naungan kehadiran Imam Mahdi As, penjelasan tujuan pemerintah Islam, dan kewajiban kita terhadapnya.

Doa iftitah dimulai dengan pujian dan sanjungan Ilahi dan kemudian mengungkapkan hal-hal seperti: pemilihan jalan yang benar dan penegasan Ilahi, rahmat dan murka Ilahi yang bijaksana, kemestian takut dan harapan, taufik ibadah adalah karunia Ilahi kepada hamba, doa hamba dan rahmat Ilahi yang tak terputus, mengingat nikmat-nikmat Tuhan, ketetapan nikmat-nikmat di tangan Tuhan, dan keharusan bertafakkur di dalam nikmat-nikmat Tuhan.

Penafsiran tiga puluh paragraf doa yang mulia ini dikutip dari buku “Syarh Doa Syarif Iftitah” yang ditulis oleh Hujjatul Islam Muhsin Qiraati akan dipaparkan untuk keluasan pengetahuan sebagai pancaran rahmat di bulan suci Ramadan ini.

Paragraf keenam

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ قَلِيلا مِنْ كَثِيرٍ مَعَ حَاجَةٍ بِي إِلَيْهِ عَظِيمَةٍ وَ غِنَاكَ عَنْهُ قَدِيمٌ وَ هُوَ عِنْدِي كَثِيرٌ وَ هُوَ عَلَيْكَ سَهْلٌ يَسِيرٌ

Ya Allah saya memohon kepada-Mu sedikit dari yang sangat banyak dan kebutuhanku kepada yang sangat sedikit ini begitu besar sementara ketidakbutuhan-Mu darinya adalah sejak awal dan di sisiku hal itu begitu banyak sementara bagi-Mu lapang dan mudah.

Poin-poin:

Kata ‘saya memohon kepada-Mu’ (اسئلک) berasal dari akar kata (سوال) yang bermakna meminta yang disebabkan oleh kefakiran dan kebutuhan. Pada hakikatnya kita menampakkan kefakiran diri kita dengan kata itu di hadapan Tuhan Yang Mahabesar. (اللهم انی اسالک...))

“"حاجه” bermakna kebutuhan kepada sesuatu yang bersama dengan kecintaan kepadanya. Dengan menggunakan kata ini seakan-akan kita mengungkapkan bahwa apa-apa kita minta kepada-Nya adalah yang kita butuhkan dan mustahil kita dapat berlepas darinya. (... مع حاجه بی الیه عظیمه)

Pesan-pesan:

1.  Seseorang yang yakin ketika meminta kepada Tuhan bahwa apa-apa yang dimohonkan memiliki beberapa karakter maka dia mustahil ragu permohonannya tertolak, karakteristik itu antara lain:

-        Apa yang diminta kepada Tuhan adalah sangat kecil. (قلیلا من کثیر)

-        Apa yang diminta kepada Tuhan adalah kebutuhannya yang sangat besar. (مع حاجه بی الیه عظیمه)

-        Tuhan tidak butuh kepada apa-apa yang diminta dari-Nya. (غناک عنه قدیم)

-        Apa yang diminta kepada-Nya adalah hal yang sangat urgen dan penting dalam kehidupannya. (اسالک قلیلا من کثیر ... و هو عندی کثیر)

-        Bagi Tuhan sangat mudah memberikan apa-apa yang diminta kepada-Nya. (و هو علیک سهل یسیر)








Selasa, 13 September 2016

Keagungan Ahlul Bait Dalam Mubahalah



Ada banyak momen penting yang terjadi dalam kalender Islam selama bulan Dzulhijjah dan salah satunya adalah peristiwa mubahalah yang jatuh pada tanggal 24 Dzulhijjah. Mubahalah adalah saling melaknat atau saling mendoakan agar laknat Allah Swt ditimpakan kepada kaum zalim dan berdusta tentang kebenaran.Ketika orang-orang terlibat dalam sebuah dialog penting dan gagal mencapai sebuah kesimpulan, maka sebagai jalan terakhir adalah mereka sepakat berkumpul di suatu tempat dan kemudian berdoa kepada Allah Swt agar ditimpakan azab kepada orang-orang yang berdusta.

Para pemeluk agama lain dan pemimpin politik dan tokoh aliran kepercayaanmenaruh perhatian khusus kepada Islam dan kaum Muslim pasca penaklukan kota Mekkah pada tahun kedelapan Hijriah dan setelah Islam menyebar luas di Jazirah Arab. Mereka juga mulai memfokuskan perhatiannya ke kota Madinah sebagai pusat pemerintahan Islam. Penaklukan Mekkah telah membuka ruang untuk penyebaran agama Islam ke berbagai penjuru wilayah Hijaz dan bahkan ke negara-negara lain. Rasulullah Saw memanfaatkan kesempatan itu dengan baik dan melayangkan beberapa pucuk surat serta mengutus para wakilnya untuk menemui pemimpin negara-negara lain.

Rasulullah Saw menyeru mereka untuk memeluk Islam atau secara resmi mengakui pemerintahan Islam dan mematuhi aturan-aturannya.Banyak tokoh tertarik untuk berangkat ke Madinah guna melihat dari dekat pusat pemerintahan Islam dan bertemu dengan pemimpin kaum Muslim. Sejak tahun kesembilan Hijriah, para delegasi dan suku-suku Arab dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke Madinah untuk menemui Rasulullah Saw. Delegasi kaum Nasrani Najran juga bertolak ke Madinah setelah menerima sepucuk surat dari Nabi Muhammad Saw. Uskup Agung Najran kemudian membentuk sebuah dewan untuk membicarakan perkara tersebut.
Dalam pertemuan itu, salah satu pembesar Nasrani yang terkenal pintar dan bijak berkata,“Kita berkali-kali mendengar dari para ulama kita bahwa suatu hari posisi kenabian akan berpindah dari garis keturunan Ishak kepada anak-anak Ismail dan ada kemungkinan kalau Muhammad merupakan salah satu dari keturunan Ismail, yaitu nabi yang dijanjikan.” Setelah berdiskusi panjang lebar, Dewan Ulama Nasrani kemudian memutuskan untuk mengirim sebuah delegasi ke Madinah guna berdiskusi dari dekat dengan Muhammad Saw dan menyelidiki argumen-argumen kenabian akhir zaman.

Nasrani Najran memiliki dua pertanyaan penting dari Rasulullah Saw. Pertama,Muhammad akan mengajak mereka untuk memeluk ajaran apa? Dan kedua, bagaimana pendapat Muhammad tentang Isa al-Masih? Dalam menjawab pertanyaan pertama, Rasulullah Saw menyeru mereka untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan mengenai pertanyaan kedua, beliau berkata, “Isa adalah hamba yang terpilih dan beriman kepada Allah. Ia adalah seorang manusia dan tidak boleh dianggap sebagai anak Tuhan.” Akan tetapi, delegasi Nasrani tetap mempertahankan konsep Trinitas dan menyebut Isa al-Masih sebagai anak Tuhan. Menurut mereka, Isa adalah anak Tuhan karena ia lahir tanpa perantaraan seorang ayah.

 Ulama Nasrani kemudian bertanya kepada Rasulullah Saw, “Jika Isa adalah hamba dan makhluk Tuhan, lalu siapa ayahnya? Manusia adalah makhluk dan ia wajib punya ayah.” Pada saat itu, turunlah Malaikat Jibril as untuk menyampaikan ayat 59 surat Ali Imran kepada Rasul Saw. Ayat tersebut berbunyi, “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, Jadilah (seorang manusia), maka jadilah dia." Rasul Saw lalu menjelaskan isi ayat tersebut kepada para pembesar Nasrani. Tetapi, mereka tidak peduli dengan ucapan Nabi Saw dan tetap berpegang pada keyakinannya. Mereka menyatakan tidak puas dengan penjelasan Nabi Saw dan mengaku belum menemukan jawaban atas pertanyaannya.

Setelah itu, turun lagi dua ayatsebagai lanjutan dari ayat sebelumnya kepada Rasulullah Saw. "… Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." Istilah mubahalah sudah dikenal luas oleh masyarakat Arab dan para penganut agama langit sebagai sarana untuk membuktikan kebenaran.Rasulullah Saw menyampaikan perkara ini kepada delegasi Nasrani dan mereka menerima untuk bermubahalah.

Pada hari berikutnya, Rasulullah Saw datang ke rumah Ali bin Abi Thalib. Rasul Saw memegang tangan Sayidina Hasan sambil memangku Husein dan berjalan ke luar kota bersama Ali dan Fatimah. Ketika menyaksikan kedatangan mereka, salah satu tokoh Nasrani Abu Haritsah bertanya kepada kaumnya, “Siapa mereka yang bersama Nabi Saw?” Mereka menjawab, "Yang di depan itu anak paman dan suami putrinya serta orang yang paling dicintai olehnya. Dua anak itu adalah putra-putranya dari putrinya dan wanita itu adalah Fatimah, putrinya yang paling beliau cintai."

 Rasul Saw duduk di atas dua tumitnya ketika memasuki arena mubahalah. Abu Haritsah berkata, "Demi Tuhan, ia duduk sebagaimana para nabi duduk untuk bermubahalah." Kemudian ia kembali berkata, "Jika Muhammad tidak dalam kebenaran, dia tak akan berani bermubahalah, dan jika ia bermubahalah dengan kita, kurang dari satu tahun, tidak akan ada lagi seorang Nasrani pun yang tersisa di bumi ini.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Haritsah berkata, "Aku menyaksikan wajah-wajah yang jika mereka memohon kepada Tuhan untuk mengangkat sebuah gunung dari tempatnya, maka gunung tersebut akan terangkat. Jadi, janganlah bermubahalah. Jika kalian lakukan itu, maka kalian akan binasa dan tidak ada seorang Nasrani pun yang akan tersisa di bumi ini."

Setelah delegasi Nasrani membatalkan mubahalah, Rasul Saw bersabda kepada mereka, "Bila kalian bersedia melakukan mubahalah denganku dan Ahlul Bait-ku, maka wajah kalian akan diubah menjadi kera dan babi. Lembah ini kemudian akan menjadi api yang membakar kalian. Setelah itu, tidak lebih dari setahun seluruh pengikut Nasrani akan lenyap dari muka bumi." Pada dasarnya, peristiwa mubahalah bukan hanya menunjukkan kebenaran dakwah Nabi Muhammad Saw, tapi juga menjelaskan keutamaan khusus orang-orang yang bersama beliau di hadapan semua sahabat dan keluarga besarnya. Peristiwa ini juga menjelaskan kebenaran dan keagungan Ahlul Bait as.

Setelah kejadian itu, Abu Haritsahmenemui Rasulullah Saw dan kemudian mengucapkan syahadat dan memeluk Islam. Sementara bagi kaum Nasrani yang tetap berpegang pada agamanya, mereka harus membayar jizyah (pajak) dan menandatangani sebuah perjanjian sesuai dengan ketentuan Islam. Nabi Saw lalu memanggil Ali as dan berkata, "Sampaikan kepada mereka syarat-syarat Ahli Dzimmah dan jumlah yang harus mereka bayar."

Para ahli tafsir dan hadis Syiah dan Sunni menyatakan bahwa ayat mubahalah juga bukti atas kebenaran Ahlul Bait Nabi as.Ketika mendatangi arena mubahalah, Rasul Saw hanya membawa putrinya Fatimah az-Zahra as, kedua cucunya Sayidina Hasan dan Husein as, serta menantunya Sayidina Ali as. Oleh karena itu, maksud kata "Abnaana" dalam ayat mubahalah hanya terbatas pada Hasan dan Husein as, sementara "Nisaana" hanya tertuju pada Fatimah as, dan kata "Anfusana" hanya terfokus pada Ali. Singkat kata, peristiwa mubahalah telah memperjelas kebenaran Islam dan keagungan Ahlul Bait as kepada semua orang, terutama kaum Nasrani.

Dalam buku doa Mafatih al-Jinan, ada sejumlah amalan khusus yang dilakukan tepat di hari ini antara lain; Mandi, amalan ini menunjukkan usaha untuk membersihkan badan lahiriah dari kotoran dan menandakan kesiapan jiwa untuk berhias dengan doa-doa yang akan dibaca. Berpuasa, amalan ini membuat batin manusia menjadi lebih segar. Dan membaca doa khusus hari Mubahalah yang disebut doa Mubahalah yang agak mirip dengan doa Sahar di bulan Ramadhan. (IRIB Indonesia/RM)

KARBALA DALAM KITAB AHLUSUNAH



Oleh: Ayatullah Kamal Al-Haydari




Alasan pertama saya menghadirkan tema ini sebenarnya sederhana. Ketika kita mempelajari Dinasti Umayyah secara keseluruhan dan melihat ciri-cirinya, kita akan menemukan usaha mereka untuk melemahkan dan mengecilkan nilai dan tragedi yang terjadi di Karbala. Lebih khusus lagi, mereka tidak memberikan perhatian terhadap pentingnya darah di Karbala yang merupakan bagian dari cucu dari Nabi Muhammad saw.
Karenanya mereka mencoba untuk merendahkan daerah Karbala, tanah Karbala, tempat syahidnya Imam Husain a.s. dan membuat orang percaya bahwa semua hal itu tidak terlalu bernilai sebagaimana penilaian pengikut mazhab ahlulbait as. Lebih dari itu, mereka mencoba menjelaskan hal lain yang lebih penting. Seperti apa? Mereka lebih mengutamakan darah Umar bin Saad, si pembunuh Imam Husain, dengan mengatakan bahwa kematiannya lebih penting daripada kematian Imam Husain a.s.

Mungkin hal ini terkesan aneh, tapi akan kita bacakan sumber teks dari sudut pandang [pendukung] Umayyah yang akan menjelaskan realita tersebut. Fakta yang ingin kami bahas adalah usaha mereka untuk benar-benar mengecilkan nilai pergerakan dan revolusi Al-Husain tidak hanya pada masanya tapi hingga saat ini. Para pemirsa bisa menyaksikan saluran-saluran televisi (Wahabi) yang memiliki hubungan dengan Umayyah dan bisa melihat bahwa mereka memusatkan (kritik) pada slogan, darah Al-Husain, turbah Karbala dan menangisi Al-Husain serta penyalahgunaan turbah.

Hubungan tema kita kali ini dan tema pengaruh Umayyah dalam Islam adalah kenyataan bahwa masalah Al-Husain bukanlah sesuatu yang Syiah ciptakan. Bukanlah hal yang mazhab dan Syiah ahlulbait mulai dan buat-buat. Masalah Al-Husain, darah dan tanahnya, dinilai penting oleh wahyu Ilahi. Sebuah masalah yang penutup para nabi saw. berikan perhatian dan beliau tangisi. Saat ini saya tidak sedang ingin membahas apa yang pemimpin ahlulbait katakan tentang tanah Karbala dan darah Imam Husain, tapi lebih kepada apa yang nabi saw. dan Imam Ali bin Abi Thalib katakan tentang tanah Karbala dan Imam Husain.

Saya ingin perjelas bahwa ketika saya mengatakan tanah Karbala bukanlah potongan yang dibuat untuk sujud (turbah) namun seluruh tanah/daerah Karbala. Yakni bermakna bahasa bukan istilah. Tapi ini hal lain yang mungkin kita bahas lain waktu. Saya juga ingin memperjelas mengapa kita membahas masalah ini adalah karena nabi juga memberikan perhatian penting. Kami menganggap tanah tersebut suci dan diberkahi karena nabi memberikan nilai luar biasa dan perhatian khusus pada tanah tersebut yang tidak beliau berikan pada darah atau tanah orang lain.

Lalu bagaimana usaha Umayyah untuk mengecilkan nilai dan pentingnya hal ini? Kita bisa melihat apa yang Syekh Ibnu Taimiah katakan—mereka menggelarinya Syekhul Islam dan menyebutnya sebagai pencinta Ali dan ahlulbait—dalam Minhâj As-Sunnah An-Nabawiah jil. 3 yang ditahkik Dr. Muhammad Rasyad Salim, cet. 2 tahun 1999 M. Perhatikan apa yang dia katakan di hal. 70 kitab ini agar menjadi jelas bagi seluruh kaum muslimin dan pengikut Ibnu Taimiah yang yakin bahwa beliau mencintai ahlulbait dan keluarga Imam Husain, cucu nabi, pemimpin pemuda surga:

ومن المعلوم أن عمر بن سعد أمير السرية التي قتلت الحسين مع ظلمه وتقديمه الدنيا على الدين لم يصل في المعصية إلى فعل المختار بن أبي عبيد الذي أظهر الإنتصار للحسين وقتل قاتله بل كان هذا أكذب وأعظم ذنبا من عمر بن سعد

“Sudah maklum bahwa Umar bin Saad adalah pemimpin as-sariyyah (detasemen)…”

Lihatlah bagaimana dia merendahkan masalah ini. Jadi, orang yang membunuh Imam Husain hanyalah sariyyah? Seratus atau dua ratus orang? Bukan tentara lengkap (jaisy) yang diutus Ibnu Ziad atas perintah Yazid untuk memerangi dan membunuh Husain?

“Bahwa Umar bin Saad adalah pemimpin sariyyah yang membunuh Husain…

Dia mengakui bahwa Umar adalah pembunuh Husain.

“…meskipun dia (Umar) berbuat zalim…”

Syekh mengakui bahwa Umar telah berbuat zalim, tidak lebih dari itu.

“…dan pengutamaannya terhadap dunia di atas agama, namun dosanya tidaklah seburuk yang dilakukan Mukhtar bin Abi Ubaid yang menunjukkan kemenangan demi Husain dan membunuh pembunuhnya.”

Artinya, maksiat atau dosa Mukhtar lebih buruk di mata Tuhan dibandingkan dosa pembunuh Husain. Ini juga berarti bahwa darah Umar bin Saad lebih penting, lebih agung, dan lebih mulia jika dibandingkan dengan darah Imam Husain menurut Ibnu Taimiah.

Hal inilah yang saya ingin para pemirsa perhatikan. Saya menyampaikan ini dengan rasa kasihan dan sedih. Saya tidak tahu lagi apa yang mesti dikatakan. Mungkinkah kebencian (nashb) terhadap ahlulbait lebih buruk daripada kebencian terhadap Umar bin Saad? Apa makna nashb? Apakah ada bentuk nashb yang lebih buruk daripada membunuh? Adakah yang lebih buruk dari apa yang dia lakukan terhadap Husain dan keluarganya?

Seseorang bisa saja membebaskan Yazid dari segala (tuduhan) kejahatan dengan mengatakan bahwa dia tidak di sana, dia tidak memerintahkan hal tersebut terjadi, kita bisa membahasnya lain waktu, meski sudah jelas itu kebohongan dan Yazid memerintahkannya.

Hal tersebut juga berarti bahwa dosa Mukhtar yang membunuh pembunuh Husain lebih besar jika dibandingkan dengan dosa orang yang membunuh Husain. Hal ini juga berarti dosanya lebih besar dibandingkan orang yang membunuh ahlulbait dan sahabat nabi, karena beliau dianggap sebagai salah satu sahabat nabi yang mulia. Inilah logika yang membela Ibnu Taimiah dan ideologi yang mengatakan kami mencintai Yazid, Muawiyah, dan dinasti Umayyah dan mereka sahabat rasul. Inilah logika yang sama sampai hari ini. Bagaimana mereka menunjukkannya? Mereka mengatakan “Ini perbuatan bidah dan nabi tidak pernah melakukannya!” Sekarang, mereka sendiri yang melakukannya.

 فهذا الشيعي شر من ذلك الناصبي

“Maka pengikut Syiah ini (Mukhtar) lebih buruk daripada nâshibî itu (Umar).”

Perhatikan bagaimana Ibnu Taimiah tahu bahwa Umar bin Saad adalah seorang nasibi tetapi tetap dibelanya. Jika dia nasibi maka dia seorang munafik dan berada di neraka terdalam. Pada saat yang sama dikatakan bahwa seorang Syiah lebih buruk dari seorang munafik. Saat ini kita sama sekali tidak sedang membicarakan Syiah dan munafik, tetapi ideologi (manhaj) dari orang yang mengatakan hal tersebut. Ideologi yang mengatakan bahwa nâshibî (orang yang dasar agamanya membenci Ali dan membela Muawiyah) lebih baik dari orang yang mencintai Ali dan membenci Muawiyah. Padahal nabi mengatakan “Ya Allah, cintailah orang yang mencintai Ali dan tolonglah orang yang menolong Ali”, “Mencintainya adalah bagian dari iman, membencinya adalah kemunafikan.” (HR. Muslim)

Pertanyaan selanjutnya, apakah pembunuh Husain lebih rendah dari pembunuh Umar bin Saad? Apakah darah Umar bin Saad lebih mulia dan lebih agung daripada darah Imam Husain? Inilah yang menjadi pembahasan kita berikutnya, insya Allah. Agar kita bisa melihat apa yang dikatakan ulama madrasah sahabat (ahlusunah) dan ulama Islam tentang darah Husain dan tanah tempat darah Husain tertumpah.







-- Source : allaboutahlulbait.blogspot.sg

Sikap Ali bin Abi Thalib terhadap Khalifah dan Kekhalifahan yang ada

Hasil gambar untuk imam ali ghadir khum


Imam Ali bin Abi Thalib as sendiri mendukung para khalifah waktu itu, tapi kenapa kalian (orang-orang syi’ah) menolak kekhalifah mereka?

Sikap Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as terhadap para khalifah dapat ditinjau dari dua sudut:
    Pengakuan secara resmi terhadap kekhalifahan mereka.
    Kerjasama dengan pemerintahan mereka dalam menyelasaikan masalah keagamaan dan kendala politik.

Dua sudut tinjau ini mesti dipisahkan. Dan tentu saja sikap Amirul Mukminin Ali as dalam hal pertama adalah negatif atau menolak keabsahan khilafah mereka, sedangkan sikap beliau dalam hak kedua adalah positif atau membantu mereka untuk menyelesaikan berbagai persoalan agama dan politik.

Terkait bukti akan sikap negatif beliau dalam hal pertama, perlu diperhatikan bahwa:
Pertama-tama, bagaimana mungkin Amirul Mukminin Ali as mengakui kesahan khilafah mereka sementara dari sisi Allah Swt beliau dilantik sebagai khalifah dan pemimpin umat Islam, khususnya pelantikan yang terjadi di Ghadir Khum? Khilafah, imamah, atau kepemimpinan beliau adalah hukum samawi (hukum langit) dan keputusan Ilahi yang tidak ada satu pihak pun yang berhak mengubahnya selain Allah Swt. Al-Qur’an mensinyalir:

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan tidak -pula¬bagi perempuan mukmin apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan – yang lain- tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Kedudukan Amirul Mukminin Ali as sebagai imam, khalifah dan pemimpin bukanlah hak pribadi yang beliau sendiri berhak untuk berpaling darinya, melainkan ketetapan Ilahi yang tidak ada satu pihak pun yang berhak untuk mengubahnya. Namun demikian, bila kondisi tidak mendukung pihak terlantik untuk melaksanakan ketetapan itu maka asas maslahat menuntut dia untuk diam dan tidak sekali-kali menuntut dia untuk mendudukkan orang lain di posisinya.

Kedua, sejarah Saqifah dan penelitian tentang riwayat hidup Amirul Mukminin Ali as menunjukkan bahwa dalam tekanan yang paling kuat sekali pun beliau tetap tidak mengulurkan tangannya untuk berbaiat kepada khalifah-khalifah semasa hidupnya.
Di dalam salah satu suratnya, Muawiyah menuliskan kepada Amirul Mukminin Ali as, “Engkaulah orang yang ditarik paksa untuk berbaiat seperti unta yang diikat.” Pernyataan ini membuktikan bahwa tekanan yang beliau alami untuk berbaiat telah sampai pada titik beliau diseret dari rumahnya secara paksa untuk melakukan baiat kepada khalifah di masjid.

Dalam jawaban surat itu, Amirul Mukminin Ali as tidak menolak realitas kebiadaban orang-orang itu terhadap dirinya, bahkan beliau menekankan bahwa itu salah satu bukti keteraniayaan dirinya. Beliau menuliskan, ‘Kamu katakan bahwa mereka menyeretku seperti unta yang terikat untuk melakukan baiat. Aneh sekali! Sumpah demi Allah Swt, dengan kata-kata itu kamu sebenarnya ingin mencelaku, tapi secara tidak sadar kamu sedang memujiku. Kamu sebenamya ingin mempermalukanku, tapi ternyata (dengan kata-kata itu) kamu sendiri yang dipermalukan. Bagi seorang muslim, keteraniayaan bukanlah cela selama dia tidak bimbang dalam hal agamanya dan tidak meragukan keyakinannya.’[1]

Ketiga, Bukhari dalam bab “Maghazi“ meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad yang sampai kepada Aisyah bahwa, ‘Fathimah putri Nabi Saw mengutus seseorang kepada Abu Bakar untuk menuntut agar tiga halnya (haknya) dikembalikan:
    Warisan dia dari Rasulullah Saw.
    Tanah Fadak.
    Apa yang tersisa dari khumus ghanimah Perang Khaibar.

Menanggapi tuntutan itu, Abu Bakar mengatakan, ‘Aku dengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Kami tidak mewariskan, -sedangkan- apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.’ Padahal, tanggungan hidup keluarga Nabi Saw ditunaikan dengan harta itu.’ Sampai kemudian dia (Aisyah) mengatakan, ‘Fathimah murka terhadap sikap negatif Abu Bakar, dia meninggalkannya dan sejak itu dia tidak lagi berbicara dengannya, dan dia tidak bertahan hidup lebih dari enam bulan setelah wafatnya Nabi 
Saw.’

Ketika Fathimah sa meninggal, suami beliau Amirul Mukminin Ali as menguburkannya malam hari dan tidak memberitahu Abu Bakar perihal kematian beliau. Dan selama beliau (Fathimah sa) hidup, Amirul Mukminin Ali as tidak pernah berbaiat kepada Abu Bakar.[2]

Hadis di atas membuktikan bahwa selama enam bulan Amirul Mukminin Ali as beserta istrinya menolak untuk berbaiat kepada khalifah. Seandainya kekhalifahan Abu Bakar itu sah dan memenuhi persyaratan, lalu kenapa putri Nabi Muhammad Saw Fathimah Zahra sa meninggal dunia dalam keadaan murka kepadanya dan kenapa suami beliau Amirul Mukminin Ali as juga selama enam bulan menolak untuk berbaiat kepadanya?!

Di sini terdapat kontradiksi dalam pandangan Ahli Sunnah; karena, para sejarawan sepandangan bahwa putri Nabi Muhammad Saw Fathimah Zahra sa sama sekali tidak berbaiat kepada khalifah, bahkan sampai akhir hayatnya beliau tidak mau berbicara dengannya. Lebih dari itu, mereka juga menyatakan bahwa selama putri Nabi Saw hidup maka suami beliau Amirul Mukminin Ali as juga tidak berbaiat dengan khalifah Abu Bakar, dan baru setelah enam bulan dari awal kejadian Saqifah beliau berbaiat -secara paksa- dengannya.[3]

Di sisi lain kita melihat kitab-kitab hadis Shohih dan Musnad dari kalangan Ahli Sunnah sendiri meriwayatkan bahwa barangsiapa yang tidak berbaiat kepada imam (pemimpin atau khalifah yang sah) pada zamannya maka dia mati dalam keadaan jahiliyah. Muslim di dalam kitab Shohih meriwayatkan, “Barangsiapa mati tanpa baiat kepada imam maka dia mati jahiliyah.”[4] Ahmad bin Hanbal juga di dalam kitab Musnad meriwayatkan, “Barangsiapa mati tanpa mengenal imamnya, maka dia mati seperti orang-orang jahiliyah.”[5]

Sekarang, bagaimana kita dapat membenarkan dua hal tersebut di atas? Dari satu sisi, rida Siti Fathimah Zahra sa putri Rasulullah Saw adalah tolok ukur rida Allah Swt dan murkanya adalah tolok ukur murka Allah Swt, di samping itu beliau juga merupakan penghulu para wanita alam semesta.[6] maka sudah barang tentu orang yang berkarakteristik seperti ini adalah orang yang suci atau maksum. Di sisi lain, Siti Fathimah Zahra sa putri Nabi Saw ini tidak berbaiat kepada khalifah Abu Bakar dan beliau meninggal dunia bertemu Tuhannya dalam keadaan tanpa baiat kepada khalifah tersebut.

Selanjutnya, kontradiksi ini bisa diselesaikan dengan salah satu dari dua cara: yang pertama adalah kita katakan bahwa kematian Siti Fathimah Zahra sa putri Nabi Saw yang merupakan tolok ukur rida dan murka Allah Swt serta penghulu para wanita surga mati dalam keadaan jahiliyah karena tidak berbaiat kepada imam pada zamannya -naudzu billah-. Yang kedua adalah kita katakan bawha khalifah yang memimpin pada masa hidupnya bukanlah imam yang sah pada zamannya, melainkan dia telah merebut tampuk kekhalifahan secara tidak sah, sedangkan imam yang sah pada zaman itu adalah imam yang dilantik oleh Allah Swt melalui nabi-Nya di Ghadir Khum, dan sejak hari pertama dari pelantikan itu Siti Fathimah Zahra sa telah berbaiat kepadanya, bahkan selama nyawa masih berada di tubuhnya beliau tidak pemah berhenti mendukung imam sah yang telah beliau baiat.

Keempat, kata-kata Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as sendiri telah berulangkali menunjukkan bahwa beliau sampai akhir hayatnya tetap meyakini dirinya sebagai imam atau khalifah Allah Swt yang sah, dan sesungguhnnya kekhalifahan adalah hak beliau yang tidak boleh diganggu-gugat tapi pada kenyataan telah dirampas oleh orang lain. Dalam hal ini, selain pidato populer beliau yang disebut dengan Pidato Syiqsyiqiyah, pemyataan-pemyataan lain beliau juga membuktikan terjadinya perampasan kekhalifahan oleh orang lain. Di sini, kami hanya akan menukil sebagian kecil dari pemyataan beliau:
    A. ‘Sumpah demi Allah! Sejak hari wafatnya Rasulullah Saw sampai sekarang, hakku yang pasti telah dirampas.’[7]
    B. ‘Di tengah perkumpulan, ada seorang yang berkata kepadaku, ‘Hai putara Abu Thalib! Engkau orang yang serakah terhadap kekhalifahan.’ Aku katakan kepadanya, ‘Bahkan kalianlah yang serakah, kalian lebih jauh dari Nabi Saw sedangkan aku adalah orang yang paling dekat dengan beliau baik dari sisi ruh maupun tubuh. Aku hanya menuntut hakku, sedangkan kalian ingin memisahkanku dari hakku yang pasti dan menghalangiku darinya. Mana lebih serakah orang yang menuntut haknya dan orang yang merebut hak orang lain tersebut?’ Begitu aku gugurkan dia dengan bukti yang kuat di hadapan hadirin maka dia baru sadar dan tidak punya jawaban apa-apa untuk dia sampaikan.’[8]

Tidak diketahui siapa si pemrotes itu dan kapan protes itu dia lontarkan. Ibnu Abil Hadid mengatakan, ‘Si pemrotes itu adalah Sa’ad bin Waqash, dan itu terjadi pada hari Syura.’ Kemudian dia mengatakan, ‘Tapi kelompok Imamiyah punya pandangan bahwa si pemrotes itu adalah Abu Ubaidah Jarrah, dan itu terjadi pada hari Saqifah.’
Selanjutnya Amirul Mukminin Ali as berkata, ‘Ya Allah! aku adukan kezaliman Quraisy dan para pendukung mereka kepada-Mu. Mereka telah memutus silaturahmi denganku dan melecehkan kedudukan muliaku. Mereka melakukan kesepakatan dalam hal yang merupakan hak istimewaku, dan mereka bangkit melawanku.’[9]
Sampai di sini jelas sekali bahwa Amirul Mukminin Ali as tidak pemah berdamai dengan para khalifah dalam hal imamah dan khilafah, senantiasa beliau menyampaikan keteraniayaannya dan memberitahukan generasi setelahnya tentang hakikat yang sebenarnya terjadi.

Hal kedua yang menjadi sudut tinjauan kita di sini adalah kerjasama Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dengan badan kekhalifahan atau pemerintah dalam persoalan agama dan politik serta penyelesaian terhadap berbagai kendala yang dihadapi oleh para khalifah. Terang saja sikap beliau dalam hal ini betul-betul positif. Di dalam salah satu suratnya beliau menjelaskan alasan kerjasama beliau dengan badan pemerintah saat itu. Berikut ini kami akan menukil terjemahan surat beliau:
‘Sumpah demi Allah! Tidak pernah aku membayangkan sebelumnya bahwa bangsa Arab sepeninggal Rasulullah Saw akan memalingkan urusan imamah dan kepemimpinan dari Ahli Bait suci beliau -dan mendudukkannya di tempat lain-, mereka telah menjauhkan kepemimpinan itu dariku! Satu-satunya hal yang menyakitkanku adalah perkumpulan orang-orang di sekitar Fulan … dimana mereka berbaiat kepadanya. Aku letakkan tangan di atas tanganku sampai-sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ada sekelompok orang yang berpaling dari Islam dan ingin menghancurkan agama Nabi Muhammad Saw. -Di sinilah- Aku khawatir jika aku tidak membela Islam dan orang-orang muslim niscaya aku akan menyaksikan keretakan dan kehancuran dalam Islam, dimana bencana ini bagiku lebih besar daripada bencana melepas kekhalifahan dan pemerintahan terhadap kalian; karena, masa ini adalah masa pendek kehidupan dunia yang cepat lalu dan berakhir, seperti fatamorgana yang lekas hilang dan laksana awan yang cepat berhamburan. Karena itu, aku bangkit demi menolak jangan sampai hal-hal yang lebih buruk itu terjadi, sehingga kebatilan pun tersingkirkan dan agama tetap tegak kuat.’[10]

Surat ini menerangkan secara gamblang bahwa meskipun Amirul Mukminin Ali as mengkritik badan khilafah dan pemerintahan pada zamannya, beliau tetap bekerjasama dengan mereka sampai batas-batas yang memungkinkan dan beliau senantiasa menyelesaikan kendala keilmuan serta politik mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.

Catatan :
[1] Nahj Al-Balaghoh, surat no. 28.
[2] Shohih Bukhari, Bab Ghozwah Khaibar, hadis no. 4241.
[3] Shohih Bukhari, Kitab Fardhu Khumus, hadis no. 3093.
[4] Shohih Muslim, Bab Amarah, hal. 58, hadis no. 88.
[5] Musnad Ahmad, jld. 2, hal. 96.
[6] Mustadrok Hakim, jld. 3, hal. 156.
[7] Nahj Al-Balaghoh, pidato no. 6.
[8] Ibid., pidato no. 172.
[9] Bihar Al-Anwar, jld. 29, hal. 605.
[10] Nahj Al-Balaghoh, surat no. 62.




Nasihat Imam Husein as: Ragam Ibadah

Hasil gambar untuk imam husain'

Imam Husein as berkata:


“Sesungguhnya manusia yang menyembah Allah Swt karena ingin mendapakan surga, maka model penyembahan ini merupakan ibadah para pedagang. Sesungguhnya manusia yang menyembah Allah Swt karena takut, maka ini adalah cara ibadah para budak. Untuk itu, sembahlah Allah swt demi menyampaikan rasa syukur dan ini merupakan ibadah manusia bebas. Model ibadah seperti ini merupakan penyembahan kepada Allah Swt yang derajatnya paling tinggi.” (Tuhaf al-Uqul, hal 250)

Betapa banyak amal perbuatan kecil yang dilakukan secara kontinyu mampu meninggikan derajat manusia. Begitu pula sebaliknya, terkadang pekerjaan besar yang dibarengi riya dan niat yang tidak murni untuk Allah akhirnya membuat manusia terjatuh dan menjadi hina di hadapan Allah. Ibadah juga demikian.

Ibadah akan dipertimbangkan sesuai dengan tujuan dan niat ketika melakukannya. Bila seseorang dalam beribadah senantiasa memikirkan keuntungan bagi dirinya, maka ia tengah beribadah bak para pedagang. Ia mendefinisikan perbuatan dan ibadahnya demi meraih surga. Begitu juga dengan orang beribadah karena takut akan neraka. Segala yang dilakukannya untuk menjauhkannya dari neraka, maka orang ini seperti budak yang senantiasa takut kepada tuannya.

Namun ada ibadah yang lebih tinggi dari keduanya. Ibadah ini berangkat dari pengenalan yang benar akan makna ibadah dan dilakukan hanya untuk Allah yang layak disembah. Manusia melakukan ibadah untuk menyampaikan rasa syukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya. Ini merupakan ibadah yang hakiki dan pelakunya merupakan orang-orang yang bebas. Ibadah seperti ini akan menaikkan derajat manusia ke tempat yang lebih tinggi di sisi Allah.





Jumat, 12 Agustus 2016

Kejatuhan Dunia serta Ganjaran dan Hukuman di Akhirat

Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ra.

Khotbah No 52 Dari Kitab Nahjul Balaghah:


(Khotbah ini telah muncul sebelumnya, tetapi karena ada perbedaan antara kedua versinya maka kami kutip lagi.) Pokoknya ialah kejatuhan dunia serta ganjaran dan hukuman di akhirat

Berhati-hatilah, dunia sedang menggulung dan telah memaklumkan perpisahannya. Ihwalnya yang dikenal telah menjadi asing dan ia sedang bergerak mundur dengan cepat. la sedang memajukan penghuninya kepada kehancuran dan menggiring para tetangganya kepada kematian. Hal-halnya (kenikmatannya) yang manis telah menjadi asam, dan hal-halnya yang jernih telah tercemar. Akibatnya, yang tertinggal darinya hanyalah seperti air sisa dalam sebuah bejana atau seteguk air dalam ukuran. Apabila seseorang kehausan meminumnya, dahaganya tak terpuaskan.


Wahai hamba-hamba Allah, bersiaplah untuk keluar dari dunia ini yang bagi penghuninya kebusukan telah ditetapkan, dan (berhati-hatilah) agar hasrat hati tak menaklukkan Anda, jangan pula Anda menganggap tinggalnya Anda di dunia ini akan lama. Demi Allah, apabila Anda berteriak seakan unta betina yang telah kehilangan anaknya, mendekut seperti bunyi merpati, bergumam seperti pertapa yang khusyuk dan berpaling kepada Allah dengan meninggalkan kekayaan Anda dan anak-anak sebagai sarana untuk mendapatkan kedekatan kepada-Nya dan kedudukan tinggi di sisi-Nya, atau keampunan dosa yang telah diliput Kitab-Nya dan dicatat oleh malaikat-malaikat-Nya, maka semua itu masih kurang dari ganjaran yang saya harapkan bagi Anda, atau hukuman-Nya yang saya takutkan menimpa Anda.

Demi Allah, apabila hati Anda larut sepenuhnya dan mata Anda me-numpahkan air mata darah untuk hidup di dunia ini selama dunia ini ada, dalam keadaan demikian pun amal Anda tak dapat membayar nikmat-Nya yang besar atas Anda dan atas pemberian petunjuk-Nya pada Anda kepada keimanan.

Gambaran tentang ‘Idul-Qurban serta Sifat-sifat Hewan Kurban

Hewan yang sepenuhnya cocok untuk kurban, telinganya harus tegak dan matanya sehat. Apabila telinga dan matanya sehat maka hewan kurban itu sehat dan sempuma, sekalipun tanduknya patah atau ia berjalan menyeret kaki ke tempat pengurbanan.

Sayid Radhi mengatakan: Di sini tempat kurban berarti tempat penyembelihan.