Sudahkah Anda Bershalawat???

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)” HR an-Nasa’i (no. 1297)

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {56}

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. 33:56)

Ahlul Bait

مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“Perumpamaan Ahlul baitku seperti kapal nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya maka dia akan selamat dan barangsiapa yang enggan maka dia akan tenggelam (binasa).”

Selasa, 27 September 2016

Tawassul, Tanda Cinta Nabi pada Ummatnya

tawasul+wali



“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada- Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Qs. Al-Maidah : 35).


Al-Qur’an menyatakan kepada kita bahwa ada suatu cara pendekatan “al-wasilah” untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, dan kita diperintahkan mencarinya. Salah satu wasilah pendekatan kepada Allah SWT yang kebanyakan kaum muslimin melupakannya, malah oleh rekayasa sejarah dianggap kesyirikan adalah tawassul. Sesungguhnya tawassul dan wasilah berasal dari akar kata yang sama. Tawassul adalah usaha pendekatan kepada Allah melalui perantara yang lebih taat kepada Allah. Karena melalui perantara maka wasilah ini dianggap kesyirikan dengan dalih mengganggap ada selain Allah yang bisa mendatangkan manfaat dan memberikan mudharat atau praktik berdoa melalui perantara sama halnya memohon pertolongan kepada selain Allah. Sesungguhnya dalih ini tidak beralasan menganggap tawassul adalah usaha yang sesat dalam mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi menyamakan tawassul dengan menyembah berhala atau praktik tawassul kaum kafir jahiliyah yang menjadikan patung-patung buatan mereka sendiri sebagai perantara diri mereka dengan Allah.

Alasan praktik penyembahan kaum kafir jahiliyah dilarang dan dianggap kesyirikan bukan karena menggunakan perantara melainkan keyakinan mereka terhadap berhala yang mereka jadikan perantara dapat mendatangkan kehancuran dan memberikan manfaat. Alasan selanjutnya adalah mereka menggunakan perantara yang salah, perantara yang menurut prasangkaan mereka dapat memberikan pertolongan padahal yang mereka jadikan perantara tidak dapat memberikan manfaat apa-apa, “Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka.” (Qs. Ar-Ra’d: 14).


Sedangkan jika bertawassul kepada orang yang dekat kepada Allah dan tidak meyakini bahwa yang menjadi perantara memiliki kekuatan sendiri selain dari Allah tetapi yang mereka miliki adalah kedudukan ruhani di sisi Allah dan Allah tidak mengabaikan permohonan mereka apabila mereka berdoa kepada Allah atas diri kita, bukanlah perbuatan syirik. Dan saya akan memberikan beberapa referensi singkat mengenai hal ini.

Memohon Kepada Allah Melalui Perantara

Saya akan mengawalinya dari yang telah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin, bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan di kalangan ulama bahwa memohon kepada Allah melalui perantara, secara prinsip adalah sah. Tidak ada perbedaan dikalangan ummat Islam mengenai bolehnya tiga jenis tawassul kepada Allah :

  1. Bertawassul kepada orang yang sangat dekat kepada Allah yang masih hidup. Contohnya seorang pelajar memohon di doakan oleh ulama agar bisa memiliki konsentrasi penuh dalam belajar. Tawassul sejenis ini juga pernah dilakukan oleh putra-putra Nabi Yakub as, “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah “. (QS. Yusuf : 97). Begitu juga pernah dilakukan oleh sahabat-sahabat yang meminta kepada Rasulullah saww agar memohon kepada Allah SWT supaya menurunkan hujan bagi mereka. (HR Bukhari No. 1013 dan Muslim 897)
  2. Bertawwassul kepada Allah melalui perbuatan baik dan amal salehnya. Contohnya, pada hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam shahihnya tentang tiga orang yang terkurung oleh batu besar dalam sebuah gua. Mereka memohon kepada Allah SWT melalui perantaraan amal-amal saleh yang pernah mereka lakukan.
  3. Bertawassulnya seseorang kepada Allah melalui nama-nama-Nya yang indah. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan Allah memiliki Asma’ul Husna (nama-nama yang indah) maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu…” (Qs. Al-A’raf: 180).

Karena legalitas tiga jenis tawassul ini telah disepakati, tidak ada alasan untuk menunjukkan bukti. Ketidaksepakatannya adalah bertawassul kepada seorang yang shalih yang telah meninggal dunia.

Disini, saya kemukakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam al-Hakim melalui rangkaian perawi dari Usman bin Hunaif, “Suatu hari seorang yang lemah dan buta datang kepada Rasulullah saww dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai orang yang menuntunku dan aku merasa berat” Rasulullah berkata, “Ambillah air wudhu, lalu beliau berwudhu dan sholat dua rakaat, dan berkata: “Bacalah doa (artinya)” Ya Allah sesungguhnya aku memintaMu dan menghadap kepadaMu melalui nabiMu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta tuhanmu melaluimu agar dibukakan mataku, Ya Allah berilah ia syafaat untukku dan berilah aku syafaat”. Utsman berkata:”Demi Allah, kami belum lagi bubar dan belum juga lama pembicaraan kami, orang itu telah datang kembali dengan segar bugar”.

Dari hadits ini, praktik tawassul adalah absah dalam ibadah, secara implisit hal ini tidak hanya membenarkan tawassul kepada orang saleh yang masih hidup (seperti Nabi yang waktu itu masih hidup) tetapi juga membenarkan keabsahan tawassul melalui orang yang sudah meninggal dunia juga, karena dari gambaran hadits tersebut, Rasulullah saww mengajarkan rangkaian lafadz do’a tanpa menyampaikan keharamannya untuk dibaca apabila beliau telah meninggal dunia. Artinya setiap memiliki hajat-hajat yang serupa, lafadz do’a tersebut bisa dibaca kapan saja, tidak ada syarat atau kaitannya dengan kehidupan dan kematian Rasulullah saww. Pada hakikatnya, tawassul melalui orang yang masih hidup atau sudah meninggal bukan melalui tubuh fisik, kehidupan atau kematian, tetapi melalui makna positif (ma’na tayyib) yang melekat pada orang itu baik dalam keadaan masih hidup atau sudah meninggal. Tubuh hanyalah kendaraan yang memuat makna, yang dalam dirinya tetap dihormati baik dalam keadaan masih hidup atau sudah meninggal.

Dalam surah an-Nisa’ ayat 64, Allah SWT berfirman: “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. Ayat ini menegaskan ketaatan kepada Rasulullah saww tidak memiliki kaitan dengan kehidupan dan kematian beliau, meskipun Rassullah saww sudah meninggal dunia sehingga kaum muslimin pada masa ini tidak hidup bersama beliau dan tidak bisa bertemu langsung namun ajaran-ajaran, pesan-pesan moral serta sabda-sabdanya adalah keniscayaan untuk ditaati bagi segenap kaum muslimin tanpa terkecuali disetiap tempat dan masa. Karenanya demikian pula dengan kasih sayang Rasulullah terhadap umatnya, setiap dari umatnya yang telah menzalimi diri mereka sendiri ‘datang’ kepada Rasulullah dan memohon ampun kepada Allah SWT maka Rasulullah saww pun turut memohonkan ampun buat mereka.

Pada bagian yang lain banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang mengindikasikan bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan. Adalah salah besar jika memahami bahkan meyakini bahwa dengan kematian segala sesuatu yang menyangkut dengan manusia berakhir sudah dan tidak ada yang tersisa dari manusia selain tubuh fisiknya yang secara bertahap kembali melebur menjadi tanah. Al-Qur’an menegaskan bahwa kematian fisik tidak meniscayakan kehidupan ruh juga turut berakhir, melainkan ruh terus hidup meski telah berpisah dengan raganya. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Qs. Al-Baqarah: 154). Tidak ada keraguan sama sekali, bahwa Rasulullah saww adalah yang termasuk gugur di jalan Allah bahkan yang paling utama. Berdasarkan ayat ini, pada hakikatnya Rasulullah saww masih hidup, masih mendapat rezeki dan nikmat-nikmat dari Tuhannya, maka berdoa dengan menjadikan beliau saww sebagai wasilah masih tetap absah dan berlaku sebagaimana sahabat-sahabat Nabi dimasanya melakukannya. Karenanya, bagi ulama atau kelompok Islam yang mempersyaratkan bahwa tawwasul yang diperbolehkan adalah melalui perantaraan orang-orang shalih selagi masih hidup maka bertawassul melalui Rasulullah saww dan orang-orang yang gugur di jalan Allah termasuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan, dan dalil untuk menyebutnya syirik atau kesesatan tidak cukup kuat sebab akan mendapat penentangan dari Allah SWT, “… mereka tidaklah mati, mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”




-- Source : syiahmenurutsyiah.com

Meretas Hubungan antara Agama dan Kebudayaan

diambil dari deviantart.net


Menjelaskan hubungan yang terjalin di antar agama dan kebudayan dapat dilakukan dengan mengenal secara utuh esensi, tujuan dan peran agama dan kebudayaan dalam masyarakat.

Meski sebagian orang mengingkari adanya hubungan antara agama dan kebudayaan namun sejatinya pandangan ini tidak memiliki dasar dan pijakan. Adapun perkara bahwa sebagian unsur dari kebudayaan lantaran tidak sejalan dengan tujuan-tujuan transedental agama samawi yaitu sampainya manusia kepada kesempurnaan, bertolak belakang dengan agama atas alasan ini tidak diterima oleh agama, merupakan perkara yang jelas. Akan tetapi banyak unsur kebudayaan yang sejalan dengan program dan agenda agama. Dan adalah suatu hal yang wajar apabila mendapatkan sokongan agama. Dari sisi yang lain, banyak hal dari kebudayaan yang disuguhkan dalam tataran nilai-nilai yang dimunculkan dari agama.

agama dan budaya


Agama secara leksikal memiliki makna yang beragam. Seperti pembalasan (baca: ganjaran), ketaatan, penilaian. Dari makna-makna beragam agama, mengikut bukti kamus-kamus dan tafsir ayat-ayat al-Qur’an terkait agama, galibnya agama bermakna ketaatan dan ganjaran, dan terkadang bermakna pinjaman, hitungan dan hukum.[1]

Agama bermakna ketaatan dapat dijumpai pada ayat misalnya “laa ikraha fi al-din” (tiada paksaaan dalam beragama) (Qs. Baqarah [2]:256) Agama bermakna pembalasan dapat disaksikan pada ayat “malik yaum al-din” (penguasa pada hari pembalasan.” (Qs. Al-Fatiha [1]:4)

Secara teknikal agama menurut Raghib Isfahani diadopsi dari syariat.[2] Dan sesuai dengan ungkapan Fadhil Miqdad agama adalah thariqat dan syariat; artinya jalan dan aturan.[3] Kontrak-kontrak Ilahi ini menyeru kepada para pemeluknya untuk menjalankan aturan-aturan dan hukum-hukum yang telah disampaikan kepada Rasulullah Saw dan berada di sisinya. Demikianlah makna umum agama yaitu seluruh aturan Ilahi dan samawi yang disampaikan kepada masyarakat melalui para nabi.[4] Dengan kata lain, agama adalah sekumpulan akidah, akhlak dan hukum-hukum.[5]

Adapun makna khusus agama atau agama yang benar dan diterima (di sisi Allah) adalah Islam. “Inna al-Din ‘indaLlah al-Islam.” Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam.” (Qs. Ali Imran [3]:19)

Kebudayaan merupakan salah satu pahaman yang paling menyeluruh dan universal dalam ilmu-ilmu Sosial dimana terdapat ragam definisi yang diberikan tentangnya.

Secara leksikal kebudayaan (culture) bermakna adab, ilmu, pengetahuan dan makrifat.[6]

Dalam terminologi ilmu-ilmu Sosial disebutkan bahwa kebudayaan artinya ilmu dan adab, tradisi dan kebiasaan, hal-hal yang diterima di setiap kaum dan bangsa, baik itu ilmu, kebiasaan, adab dan tradisi – yang diterima dan diamalkan oleh masing-masing anggota komunitas kaum tersebut. Dengan kata lain, kebudayaan adalah sekumpulan ilmu, pengetahuan, seni, pemikiran dan keyakinan, moral, aturan, adab dan kebiasaan.[7]

Terkait pembahasan utama kita di sini tentang apakah terjalin hubungan antara agama dan kebudayaan atau tidak? Apabila terjalin hubungan eksistensial di antara keduanya? Apakah agama dan kebudayaan itu merupakan hal yang satu? Atau agama merupakan bagian dari kebudayaan setiap kaum dan bangsa. Atau agama itu sendiri adalah pencetak kebudayaan, dengan memperhatikan pelbagai definisi yang dibeberkan terkait dengan kebudayaan, masalah ini merupakan masalah yang dibahas tak henti-hentinya dan terdapat perbedaan pendapat di dalamnya.

Sebagian orang berpandangan bahwa di antara redaksi agama dan kebudayaan tidak terjalin hubungan apa pun; karena kebudayaan merupakan warisan komunitas yang memiliki sisi kebangsaan yang diperoleh atas proses menuju kesempurnaan secara natural dan gradual masyarakat. Kondisi-kondisi natural dan demografis mempengaruhi adanya perbedaan dalam kebudayaan. Dengan kata lain, apa yang diciptakan masyarakat dalam pelbagai kondisi natural, geografis dan mungkin historis dan dipersembahkan kepada manusia adalah kebudayaan. Akan tetapi agama bukan warisan masyarakat atau komunitas dan agama-agama bukanlah produk yang dicipta oleh manusia. Mengikut para teolog agama merupakan pranata Ilahi. Dengan asumsi sedemikian dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan antara agama dan kebudayaan, akan tetapi sejalan satu dengan yang lain.[8]

Sebagian pemikir meyakini bahwa menolak hubungan antara pahaman agama dan kebudayaan merupakan suatu hal pelik dilakukan. Apabila dalam agama dibahas masalah akhlak dan akidah maka ruh kebudayaan juga demikian adanya. Jika adab dan kebiasaan merupakan bagian dari kebudayaan maka syariat agama juga bertutur-kata tentang adab dan kebiasaan.[9]

Akan tetapi kebudayaan tidak satu karena perbedaan pelbagai kondisi dan situasi geografis. Sebagian kebudayaan seperti tradisi mengubur hidup-hidup anak-anak putri pada zaman jahiliyah. Pelbagai bid’ah dan khurafat yang merebak di tengah masyarakat dan seiring dengan berlalunya waktu berubah menjadi sebuah kebudayaan bagi masyarakat tersebut. Jelas bahwa kebudayaan semacam ini tidak ada sama sekali sangkut pautnya dengan agama. Sebagian kebudayaan diterima oleh agama dengan menggunakan metode jarh dan ta’dil dan pada kebanyakan perkara agama menjadi peletak dasar berkembangnya sebuah kebudayaan.

Terkait dengan munculnya agama, sejarah agama-agama menunjukan bahwa agama muncul tatkala perangkat-perangkat agama sebelumnya telah mengalami kerusakan dan penyimpangan moral-sosial dalam sebuah masyarakat. Bagaimanapun, tatkala sebuah agama atau maktab (school of thought) muncul biasanya terjadi sebuah revolusi atau perubahan asasi pada nilai-nilai dan sistem yang dianut sebuah masyarakat yang menjadi penyebab goncangnya kebudayaan. Sebagian dari unsur-unsur kebudayaan lama rontok dan unsur-unsur baru yang selaras dengan nilai-nilai baru atau maktab baru diadopsi. Melalui jalan ini, agama atau maktab-maktab mengkonstruksi kebudayaan.

Meski tatkala setiap agama muncul, ia tidak serta merta muncul bersama kebudayaan. Namun setiap agama memunculkan nilai-nilai baru atau mengemukakan nilai-nilai baru. Nilai-nilai ini, pertama, berada dalam format kebudayaan yang menggusur kebudayaan lama yang tidak sejalan dengan nilai-nilai ini, misalnya kemunculan Islam yang menggusur kebudayaan mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan. Kedua, format-format yang kosong dari sisi kandungan dan bertentangan dengan nilai-nilai baru, namun dapat ditiupkan ruh kepadanya yang didasarkan pada nilai-nilai baru dan mengeluarkannya dari kerusakan serta menjadikannya sebagai media bagi kemunculan nilai-nilai ini.

Dalam Islam, haji dapat dijadikan contoh dari format-format ini. Haji pada masa sebelum kedatangan Islam modelnya berisikan kemusyrikan, namun Islam tidak mengeliminir bentuk-bentuknya dan tetap memelihara adab-adab dan kebiasaan haji model lama lalu memberikan kandungan tauhid di dalamnya. Karena itu, kebudayaan lama itu menjadi kuat dan bertahan dalam sistem kebudayaan baru. Atau misalnya lagi, hari raya tahun baru di Iran sebelum dan setelah Islam.

Pada hakikatnya, agama baru tidak serta merta memunculkan kebudayaan baru, tetapi mengemukakan nilai-nilai baru dan masyarakat berdasarkan nilai-nilai ini melahirkan kebudayaan baru. Setelah munculnya kebudayaan baru, berdasarkan agama baru kini agama termasuk bagian dari kebudayaan masyarakat tersebut.[10]

Hal yang patut diperhatikan di sini adalah bahwa masuknya satu agama pada pelbagai kaum dan bangsa menjadi penyebab munculnya pelbagai ragam kebudayaan berdasarkan nilai-nilai maka agama dan kebudayaan akan menjadi satu. Gambaran semacam bukanlah gambaran benar sehingga kita menyangka bahwa agama yang masuk pada daerah mana pun akan melahirkan kebudayaan yang satu. Tidak demikian. Yang benar bahwa agama menjadikan nilai-nilai yang satu itu sebagai ukuran dan kriteria di setiap masyarakat. Namun ragam kebudayaan akan bermunculan lantaran adanya kebudayaan-kebudayaan lama; karena pembentukan format-format kebudayaan ini bergantung sepenuhnya pada situasi geografis dan gaya hidup setiap kaum dan bangsa.[11]



Catatan Kaki

  • Dâirat al-Ma’ârif Tasyayyu’, jil. 7, redaksi agama.
  • Raghib Isfahani, Mufrâdât Alfâz Qur’ân, hal. 177, redaksi agama
  • Fadhil Miqdad, Syarh Bâb Hâdi ‘Asyar, hal. 2.
  • Dâirat al-Ma’ârif Tasyayyu’, jil. 7, redaksi agama.
  • Abdullah Jawadi Amuli, Fitrat dar Qurân, jil. 12, hal. 145.
  • Muhammad Mu’in, Farhang-e Mu’in, jil. 2, redaksi kebudayaan.




-- Source : syiahmenurutsyiah.com


Waspadai Syiah Takfiri!!

syiah-takfiri




Segala sesuatu berubah, kecuali tulisan menyerang Syiah, 
setiap awal tentu berakhir, kecuali tuduhan terhadap Syiah, 
setiap vonis berdasarkan hukum dan bukti, kecuali vonis terhadap Syiah.”

-Sayyid Murtadha al Askari-



Padahal faktanya, tidak ada satu orang Syiahpun yang memuji dan mengelu-elukannya.
Bahkan kalaupun sosok ini pernah ada, justru tokoh-tokoh besar Syiah sendiri mengecam dan berlepas diri dari keyakinan kufurnya. Literatur Sunni sendiri malah menukil kisah, Imam Ali As, Imam pertama mazhab Syiah menghukum Ibnu Saba dengan membakarnya.

Meski Syiah sendiri menolak riwayat tersebut, setidaknya ini menunjukkan bukti, Syiah sendiri menentang keras aqidah kufur Ibnu Saba. Tapi yang terjadi sampai hari ini, Syiah dengan semua golongan dan sektenya dianggap kufur, karena dinisbatkan kepada Ibnu Saba, yang diklaim sebagai pendirinya.

Kalau mau jujur dengan tuduhannya, harusnya yang dikecam dan dimusuhi itu Yahudi. Kan katanya Syiah itu bentukan agen Yahudi. Harusnya menyadari, orang-orang yang kepincut Syiah itu, hanyalah para korban. Tapi lihat, apa yang dilakukan mereka yang anti Syiah? para korban inilah yang kemudian diserukan untuk dibantai dan dihabisi karena divonis sudah murtad, sudah kafir, tapi dalang dibaliknya yaitu Yahudi tetap aman, tanpa diusik sama sekali.

Sebagaimana pepatah, sejarah selalu berulang. Hal itupun kembali terulang di masa ini.

Dimasa sekarang, Abdullah bin Saba dibentuk lagi oleh Yahudi Zionis. Yassir bin Habib di Inggris dan Hasan Allahyari di AS. Yassir bin Habib, berkebangsaan Kuwait, tapi hak kewarganegaraannya dicabut karena dianggap ceramah-ceramahnya memicu konflik sunni-syiah.  Ia diusir dari Kuwait. Inggris menerimanya. Diberi fasilitas, yayasan lengkap dengan stasiun televisi yang dinamainya Fadak. Jamaahnya tidak banyak, itupun karena kepincut dollar. Bukan karena kagum akan keluasan ilmu dan dakwah Yassir Habib. Lewat stasiun tv Fadak, Yassir Habib berceramah dengan materi-materi yang menghujat sahabat2 dan istri2 Nabi Saw. Dia kecam dan lecehkan keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah. Dia bahkan dengan mewah merayakan hari wafatnya Ummul Mukminin Aisyah dan disebutnya sebagai hari bersuka cita bagi umat Syiah.

Kelakuan Yassir ini dikecam oleh ulama-ulama Syiah, baik di Iran, Irak, Mesir, Lebanon, Saudi, Kuwait, dan kesemuanya menyatakan berlepas diri dari pernyataan-pernyataan Yassir Habib. Oleh pemimpin besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei, Yassir Habib ini disebutnya agen Zionis, disebutnya Syiah bentukan Inggris. Beliau memfatwakan keharamannya menghina dan melecehkan simbol-simbol yang dimuliakan Ahlus Sunnah. Ulama-ulama Syiah lainnya menyebut Yassir Habib sebagai Syiah Takfiri.

Keberadaan Yassir Habib, disambut suka cita oleh musuh-musuh Syiah. Kelompok Takfiripun menjadikan pernyataan-pernyataan kontroversial Yassir Habib untuk meyakinkan umat Sunni, bahwa Syiah adalah musuh besar bagi keyakinan Ahlus Sunnah. Hinaan Yassir Habib kepada sahabat dan istri-istri Nabi dijadikan sebagai bukti, sedemikian bencinya Syiah kepada tokoh-tokoh yang dimuliakan Ahlus Sunnah.

Semua Syiah, apapun sektenya lantas dituduh kafir, divonis sesat dan halal darahnya ditumpahkan, karena ceramah-ceramah Yassir Habib ini. Syaikh Syahatah, ulama Syiah Mesir, telah menjadi korban. Ia pernah diwawancarai stasiun TV Fadak. Ia tidak tahu hakikat dari tv Fadak itu sebenarnya. Beberapa hari setelah program itu disiarkan. Orang-orang yang tahu materi-materi program Fadak itu selalu menyerang simbol Ahlus Sunnah murka. Dirumah salah satu muridnya, saat Syaikh Syahatah berceramah, tanpa dimintai penjelasan, ia diseret seperti maling. Dipukuli berama-ramai. Dibawa keatas gedung, kemudian dilemparkan kebawah. Dan dibakar. Kejadian ini ditonton banyak orang. Tuduhannya, ia telah kufur karena melecehkan sahabat-sahabat Nabi. Buktinya? ia muncul di stasiun TV Fadak. Yassir Habib? aman, karena di Inggris.

Nah, kita kembali. Kalau mau jujur. Kalau memang kemarahannya itu asli dipicu kebencian karena simbol-simbol Ahlu Sunnah dilecehkan, mengapa sampai saat ini tidak ada satupun tuntutan dari pihak mereka untuk meminta agar TV Fadak itu disegel dan dilarang beroperasi?. Mengapa tdk ada kecaman kepada Inggris yang merawat dan membesarkan Yassir Habib?. Mengapa yang menyebut Yassir Habib sebagai musuh Islam, justru datang dari ulama-ulama Syiah sendiri?. Tahu jawabannya? itu karena takfiri yang mengklaim diri Ahlus Sunnah, juga lahir dari Inggris. Takfiri dari Syiah dan Sunni yang hanya segelintir itu, tapi dengan budget yang besar, diciptakan untuk mengadu domba Syiah dan Sunni yang sesungguhnya.

Tahu mengapa ulama-ulama Al Azhar Mesir, alm Syaikh Buthi, MUI Pusat, KH. Said Aqil Siraj [PBNU], Prof. Diin Syamsuddin [PP Muhammadiyah] dan ulama-ulama Sunni lainnya tidak mengeluarkan fatwa atau pernyataan Syiah itu harus dimusuhi dan dibenci? tidak pula mereka meminta pemerintah agar melarang Syiah beraktivitas di Indonesia? karena mereka sadar, dan mengenali dengan baik, siapa musuh yang sesungguhnya dan apa mau mereka. Tapi lihat apa yang dilakukan takfiri atas mereka? mereka mendapat dua tuduhan, kalau bukan karena telah masuk Syiah, mereka disuap oleh pemerintah Iran untuk membela Syiah. Benar-benar tuduhan yang serius.

Terus, mengapa Syiah berhasil dilarang di Malaysia? kita kenal sendiri Malaysia itu bentukan siapa. Tentu akan patuh pada majikan.

Satu lagi. Hasan Allahyari, berkebangsaan Afghanistan. Pernah belajar di Hauzah Qom Iran, tapi diusir karena kontroversial. Cabang TV Ahlul Bait yang diasuhnya di Qom tahun 2009, ditutup dan dilarang beroperasi tahun 2010. Sekarang dia bermukim di Amerika Serikat. Ia tetap mengasuh TV Ahlul Bait dengan dana full dari AS. Orang ini jauh lebih berbahaya dari Yassir Habib. Ia bukan hanya mengecam Sunni, tapi juga melecehkan ulama-ulama Syiah dan Iran. Berkali-kali dalam ceramahnya dia melecehkan Ayatullah Sayyid Ali Khamanei, yang disebutnya jauh lebih buruk dari wanita pezina. AS dipujinya jauh lebih baik dari Republik Islam Iran, karena memberikan kebebasan dan fasilitas untuknya mendakwahkan Islam versi dia.

Materi-materi ceramahnya menghujat dan menghina sahabat-sahabat Nabi. Khalifah Abu Bakar dan Umar, disebutnya lebih jelek dari anjingnya Ariel Sharon. Oleh ulama-ulama Syiah di Iran dia disebut Dajjal. Mereka mengeluarkan fatwa haramnya memberikan bantuan dan dukungan atas dakwah-dakwahnya.

Tapi apa yang dilakukan kelompok takfiri yang menyebut diri Ahlus Sunnah? apa dia mengecam dan melaknat Allahyari? apa mereka menuntut TV Ahlul Bait di tutup? apa mereka mencari tahu siapa yang mendanai dan siapa dibalik Allahyari? TIDAK. Yang mereka lakukan, menyebar video kecaman-lecaman dan hinaan-hinaan Allahyari kepada sahabat dan istri Nabi, sembari memprovokasi umat Sunni untuk membenci Syiah, mengecam ulama-ulama Syiah dan memusuhi Iran. Amerika Serikat? aman. Allahyari? tidak diusik sama sekali.

Orang-orang Iran yang geram, mengedit foto Allahyari dan mengubah surbannya dengan gambar bendera AS untuk menunjukkan Allahyari adalah kaki tangan AS, dan apapun yang disampaikannya adalah untuk kepentingan AS. Tapi apa yang dilakukan kelompok Takfiri Sunni? mengedit foto-foto Imam Khomeini, Sayyid Ali Khamanei, Ahmadi Nejad, tokoh-tokoh Syiah dan Iran untuk memperolok-olol Syiah dan Iran. Mereka melaknat Syiah, mencaci dengan makian kotor, siapapun di Indonesia yang mereka kenali sebagai Syiah tidak luput dari cercaan dan umpatan mereka. Kelakuan biadab Yassir Habib dan Allahyari yang dibaliknya adalah AS dan Zionis, tapi Syiah secara keseluruhan, Suriah dan Iran yang harus menanggungnya.

Ketika Al-Qur’an menyatakan, yang paling keras permusuhannya kepada umat Islam adalah Yahudi, mengapa kau malah mencari kelompok lain untuk kau musuhi dan benci?. Ketika Al-Qur’an memerintahkan untuk mengutamakan persatuan Islam, mengapa kau malah melarutkan diri pada kesibukan saling mencela dan memaki sesama muslim sementara dalang dibaliknya kau biarkan aman mengeruk kekayaan dan menistakan kehormatanmu?

Berpikirlah, sebelum kau kehilangan akal sehat…

(Ismail Amin, ABNA)




-- Source : syiahmenurutsyiah.com

Minggu, 25 September 2016

Brahmana Hindu dan Imam Husain di Karbala

Ketika tersiar kabar para teroris salafi berencana untuk menyerang makam Imam Husain di Karbala, surat kabar India Sahafat (Mumbai, 27 Juni 2014) melaporkan bahwa lebih dari 125 penganut agama Hindu bergabung bersama ribuan suni dan pengikut Syiah yang telah mendaftarkan nama mereka untuk berkunjung ke Karbala, Irak, demi melindungi makam Husain bin Ali.[1] Siapa dan mengapa pemeluk agama Hindu membela cucu Nabi Muhammad saw?

Mereka adalah kelompok Datt atau Dutt, sebuah klan prajurit di antara tujuh klan di dalam kelompok etnis Mohyal Brahmana yang berasal dari wilayah Punjab atau Haryana di utara India. Datt adalah seorang kepala suku dari kalangan Brahmana yang menemani Aleksander Agung kembali ke Macedonia. Ketika Aleksander wafat, Datt bersama pengikutnya pindah ke Arab. Sejarah lain menyebutkan, bahwa setelah perang Mahabarata, Aswata yang merupakan leluhur Datt mengungsi ke wilayah Arab bersama pengikutnya.[2] Datt sendiri berasal dari bahasa Hindi, daata, yang berarti dermawan.



Pada peperangan di Karbala tahun 681, seorang pedagang keturunan Datt, Rahib Sidh Datt, berjuang di sisi Imam Husain melawan pasukan Yazid bin Muawiyah. Karena melihat kecintaan Rahib kepadanya, Imam Husain memberikan gelar sultan dan memintanya untuk kembali ke India. Ketika cucu nabi tersebut dipenggal, Rahib kembali mengejar pembunuh Imam Husain hingga ke kota Kufah dan berhasil memperoleh kepala suci tersebut dengan mengorbankan ketujuh putranya. Satu tahun kemudian, kepala tersebut dibawa ke Damaskus dan digabungkan dengan jasadnya di Karbala.

Kelompok Datt ini juga bergabung dengan pasukan Mukhtar, pemimpin pendukung Imam Husain, yang berjuang melawan gubernur Yazid, Ubaidullah. Setelah meraih kemenangan, mereka mengklaim telah membalas darah Imam Husain yang tertumpah di Karbala. Patut juga dicatat bahwa sebelum peristiwa Karbala, Ali bin Abi Thalib telah mempercayakan jabatan bendahara publik kepada resimen Datt pada masa Perang Unta di Basrah, Irak.

Rahib kemudian bermigrasi menuju Afganistan melalui Iran, sementara klan Datt meninggalkan Hijaz pada tahun 728 dan kembali ke kampung halaman dan menetap di Dina Nagar, Punjab, India, sedangkan beberapa yang lain berpindah ke Pushkar, Rajasthan, India. Keturunan Rahib yang kembali ke India mendapat sambutan luar biasa dari penduduk asli Mohyal. Mereka menetap di sebuah wilayah bernama Sheikhupura yang sekarang masuk ke wilayah Provinsi Punjab, Pakistan. Pada abad kesepuluh, terjadi peristiwa menarik yang melibatkan Pir Wahun—seorang pemain catur licik, dan Shiv Datt—pemimpin klan Datt. Wahun dikenal karena keahliannya dalam memenangkan pertandingan. Dalam taruhan yang dibuatnya sendiri, pihak yang kalah harus membayar dengan kepala atau memeluk Islam. Dengan caranya ini, Wahun berhasil membuat banyak penganut agama Hindu menjadi muslim sampai kemudian ia menantang Shiv Datt.

Shiv Datt berhasil mengalahkan Pir tiga kali berturut-turut dalam permainan catur, karenanya Shiv Datt berhak atas kepala istri Wahun dan dua orang anaknya. Semata karena kebaikannya, Shiv Datt mengampuni mereka. Ketika Wahun tahu bahwa salah seorang leluhur Shiv Datt telah mengorbankan tujuh putranya untuk membela (cucu) Muhammad di peperangan Karbala, ia bersumpah tidak akan memaksa penganut agama Hindu untuk memeluk Islam. Pada saat itulah Wahun menggemakan kata-katanya yang terkenal:[3] Wah Datt sultan, Hindu ka dharam musalman ka iman. Adha Hindu adha musalman (Salam bagi Raja Datt karena ia diberkahi dengan darma Hindu dan keimanan muslim. Separuh Hindu, separuh muslim).

"Pertempuran Karbala merupakan sebuah peperangan untuk menyelamatkan iman dan kemanusiaan."
—Upendra Prasad Shahi

Sampai saat ini, kelompok Datt yang memperingati Muharam bersama umat Islam demi mengenang pengorbanan leluhur mereka yang berjuang bersama Imam Husain, menyebut diri mereka sebagai Brahmana Husaini. Purn. Kolonel Ramsarup Bakshi, salah seorang anggota Brahmana Husaini, menyatakan kepada Pune Mirror bahwa komunitasnya bangga karena memiliki ikatan dengan Imam Husain dan menghormati Asyura. “Kami merupakan komunitas yang sangat kecil di Pune. Tapi bagian kecil sejarah ini begitu penting dalam hidup kami. Kami menjadi lambang ikatan berabad-abad antara Hindu dan muslim.”

Sunil Dutt, aktor dan juga politisi India, merupakan salah seorang Brahmana Husaini yang dulunya mengikuti peringatan Asyura di bulan Muharam.[4] Ketika ditanya mengapa peringatan tersebut sempat terhenti selama berabad-abad, Sharma, seorang pengacara berkata, “Kami bisa katakan bahwa hal tersebut karena kesalahan ayah dan kakek kami yang tidak mengajarkan kepada kami tentang warisan sejarah dan budaya.” Aktivis dan pengacara, Netraprakash Bhog, juga berkata tentang kelompoknya, “Brahmana Husaini memiliki tempat khusus dalam sejarah Islam. Leluhur kami berjuang bersama Imam Husain demi kebenaran dan keadilan. Kami menghargai pengorbanan yang dilakukan kelompok kami.”

Referensi:

[1] ^ Abdul Nishapuri (28 Juni 2014). “125 Hindus will travel to Iraq to defend Imam Hussain’s shrine from Salafi and Deobandi terrorists”. Let Us Build Pakistan.

[2] ^ “The Brahmins Who Fought for Hussain at Karbala.”

[3] ^ “Brahmins Fought for Imam Hussain in the Battle of Karbala”. Hindu.bz.

[4] ^ Faizan Ahmad (21 Januari 2008). “Hindus participate in Muharram”. The Times of India.



-- Source; https://ejajufri.wordpress.com/ 

Cerita Cinta Penganut Syiah dan Suni

Romeo dan Juliet atau Layla dan Majnun telah dikenang abadi. Begitu juga dengan Zakia dan Mohammad Ali. Zakia adalah seorang Tajik bermazhab ahlusunah, sementara Ali adalah seorang Hazara bermazhab Syiah. Keluarga Zakia menentang hubungan mereka berdua atas dasar budaya, etnik, dan agama. Ayah, ibu, dan sepupunya rela mengorbankan harta dan nyawa mereka untuk memburu dan membunuh Zakia dan Ali karena kejahatan yang mereka dilakukan: jatuh cinta.

Cerita cinta mereka diangkat oleh jurnalis New York Times yang bertugas di Kabul, Afghanistan, Rod Nordland. Rod yang saat itu sedang memeriksa e-mail spam, mendapati sebuah surat. Surat darurat dari seorang pekerja PBB di kamp penampungan wanita Bamyan. Pekerja PBB itu dimutasi dan tak sanggup lagi menahan wanita yang akan dipanggil paksa oleh keluarga untuk dibunuh.[1] Wanita itu bernama Zakia.

Afghanistan memang satu dari sedikit tempat di dunia ini di mana membunuh demi kehormatan adalah hal lumrah. Hari ini, masih ada wanita yang dibunuh karena dosa kecil, seperti menatap atau berjalan dengan pria asing.

Ali dan Zakia

Malam hari tanggal 20 Maret 2014, Zakia tengah melawan ketakutannya. Memikirkan cara untuk melarikan diri dari kamp. Pelarian yang bukan hanya akan mengubah hidupnya, tapi juga hidup Ali yang menanti di seberang Lembah Bamyan. Jika berhasil, pelarian Zakia juga akan mengubahnya menjadi pahlawan bagi wanita muda Afghanistan sekaligus musuh utama kaum konservatif. Dibantu dua temannya, wanita buta huruf itu menghubungi Ali.[2]

Ali dan Zakia tumbuh bersama di sebuah ladang pertanian milik keluarga. Ketika diminta orang tua untuk menggembalakan domba, mereka melakukannya bersama. Mereka saling mengenal kehidupan masing-masing. Takdir yang telah mereka jalani menggiring mereka pada apa yang akan mereka hadapi di masa depan; salah satunya adalah Taliban.

Dalam budaya Afghanistan, seorang istri adalah properti suaminya; seorang anak perempuan adalah properti ayahnya; seorang wanita adalah properti saudaranya. Prialah yang menentukan kehidupan seorang wanita dengan siapa dia harus menikah. Zakia tidak hanya melawan kehendak mereka, tapi juga mencuri apa yang mereka anggap sebagai hak mereka.

Ali berusia tiga tahun lebih tua dari Zakia. Pamit pada ayahnya, Ali menghubungi seorang teman untuk menyiapkan kendaraan. Mengantarkan mereka menuju tempat persembunyian tertinggi di pegunungan.

Ketika Rod Nordland mengangkat kisah mereka dalam The Lovers, simpati dunia mengalir. Seorang rabi Yahudi asal Amerika Serikat sampai meminta pejabat negaranya untuk membantu mereka. Usaha Zakia dan Ali untuk meminta suaka melalui kedutaan besar negara-negara Barat di Kabul sudah gagal. Mereka justru diharuskan untuk meninggalkan Afghanistan lebih dahulu agar dapat dianggap sebagai pengungsi. “Kami berserah diri pada Allah. Kami mencoba segala hal, tapi tidak membuahkan hasil,” kata Ali.

Akhir tahun 2014, ketika Zakia dan Ali akhirnya tiba di Tajikistan justru berakhir bencana. Mereka dirampok dan dideportasi kembali ke Afghanistan. “Cerita cinta mereka terlanjur menarik perhatian media. Nyawa mereka semakin berbahaya jika terus bertahan di Afghanistan,” kata Manizha Naderi, direktur Women for Afghan Women, sebuah kelompok internasional yang berhasil menyelamatkan mereka.[3]



Women for Afghan Women membantu pengurusan visa Zakia, Ali, dan Ruqia—putri pertama mereka—untuk menuju Amerika Serikat. Pada bulan Mei 2016, keluarga kecil ini telah tiba di kota New York untuk membuka lembar hidup yang baru. Menghadapi tantangan kehidupan dalam bentuk yang berbeda.

Referensi:

[1] ^ Murphy, Beth (12 Februari 2016). “Valentine’s Day with Zakia and Ali, Afghanistan’s Romeo and Juliet”. The Huffington Post. Diakses pada 12 Juli 2016.

[2] ^ Nordland, Rob (26 Januari 2016). “The Lovers: The True Story of Aghanistan’s Romeo and Juliet”. Mashable. Diakses pada 12 Februari 2016.

[3] ^ Mashal, Mujib (25 Mei 2016). “Afghan Lovers Begin an Asylum Odyssey in New York”. The New York Times. Diakses pada 13 Juli 2016.




-- Source : https://ejajufri.wordpress.com/

Filosofi Mencontek Dan Memberi Contekan : Demi Kebaikan Yang Lebih Besar

Image result for contek



Perhatian judulnya memang sengaja dibuat menyesatkan, jadi jangan menilai isi dari bungkusnya. Saya hadiahkan tulisan ini bagi para berandalan yang sedang berkeliaran di luar sana. Apa kabar kalian dan semoga “kesesatan” yang ada pada diri kalian membuat kalian terus berjuang untuk mencari jalan yang lurus?.

Dunia cepat sekali berubah masbro, kampus kita sekarang sudah tidak seperti dulu. Generasi baru sekarang tidak seperti generasi kita yang dahulu. Kos-kosan kita dulu sudah lebih megah sekarang. Warung makan kita dulu sudah lebih mewah sekarang. Dan apakah kalian sadar wahai “pejuang” kita yang sekarang sudah tidak seperti dulu. Seperti kata “guru besar” kita : itulah hakikat kehidupan, Perubahan.
Mari mengenang masa kejayaan kita dulu, saat dimana kita melawan dengan cara kita sendiri, saat dimana kita melakukan “hal buruk” demi kebaikan yang lebih besar. Saat kita menunjukkan eksistensi diri dengan membuat kekacauan. Bacalah baik-baik wahai kawan dan mari kita sama-sama berdoa agar tidak ada orang yang disesatkan oleh kita dan tidak pula ada orang yang menyesatkan kita.
.
.
.
Latar Belakang
Mencontek, yah para pembaca sudah pada tahu bahwa ini bukan perbuatan baik. Tidak ada guru yang mengajarkan muridnya untuk mencontek. Sayangnya isu “mencontek” ini di tangan para ahli [baca : mereka yang tidak jelas keahliannya] pernah menjadi kontroversial. Yang saya maksud adalah kejadian di masa saya kuliah dahulu. Ada sekelompok orang di masa itu yang mengatakan haram dan ada pula yang mengatakan “laba’sa bihi” [tidak ada masalah]. Adapun kami “sekumpulan pemikir yang tidak jelas” berijtihad bahwa Mencontek itu boleh ketika ada orang yang Memberi Contekan dengan tujuan demi kebaikan yang lebih besar.
Sufi pertama mengatakan “itu darurat”. Sang Raja mengatakan “mau bagaimana lagi, kasihan kan”. Dan saya mengatakan kepada keduanya “jangan lupa bahwa kita harus bertanggung-jawab”. Apa maksud sebenarnya wahai pembaca?. Dibaca pelan-pelan ya
Mari renungkan, apa yang membuat “mencontek” itu disebut perkara yang buruk?. Mungkin ada banyak sekali alasan yang bisa disebutkan. Diantaranya adalah Itu perbuatan tidak jujur dan membuat orang jadi malas atau tambah bodoh. Lantas mengapa kami bisa begitu naifnya merendahkan diri dengan mengizinkannya. Di masa itu kami berhadapan dengan kondisi khusus demi kebaikan yang lebih besar.
Tidak ada mahasiswa kedokteran yang bodoh. Silakan cek, dahulu untuk bisa lulus masuk kedokteran universitas negri nilainya harus lumayan tinggi. Jadi tidak ada ceritanya mahasiswa kedokteran itu bodoh. Teman-teman saya dari fakultas lain sering menganggap tinggi anak-anak kedokteran. Di mata mereka itu seperti kasta paling atas di universitas. Terus mengapa ada mahasiswa kedokteran yang nilainya jelek? Karena hal-hal berikut
Terkadang kepintaran itu tidak berguna ketika anda berada di tengah semua orang-orang pintar. Juara kelas, nilai tes IQ tinggi, juara olimpiade, atau semua sisa kejayaan masa lalu saat SMU, itu tidak ada gunanya di medan ini. Mungkin disekolah dulu anda adalah orang paling pintar tetapi disini anda bisa jadi paling bodoh. Intinya anda bersaing dengan orang yang sama pintarnya dengan anda atau lebih pintar dari anda.
Sistem pengajaran yang luar biasa bikin stress, tidak hanya beban sks tetapi beban materi kuliah dan ujian yang bisa bikin “naik darah”. Dahulu di masa saya kuliah, secara umum sistem pengajaran masih konvensional dengan kuliah biasa dimana dosen di depan kelas mengajarkan materi kuliah yang terkadang satu buku beratus-ratus halaman diringkas menjadi 30 slide power point. Mereka yang gagal beradaptasi dengan sistem ini bakal punah akibat seleksi alam.
Tidak ada niat dan semangat. Kuliah di kedokteran karena dorongan orang tua. Kekurangan motivasi ditambah tekanan dari pihak keluarga atau tekanan bathin selalu takut gagal. Apalagi jika berasal dari keluarga yang mohon maaf kurang mampu orang tua banting tulang cari uang buat kuliah maka ada tekanan psikis tersendiri. Dalam sistem seperti ini stressor sangat tidak baik. Saya jadi ingat “Raju Rastogi” dalam film 3 idiots.
Waktu yang tidak banyak. Ya saya akui untuk menghadapi semua tekanan kita butuh waktu yang cukup. Untuk mempelajari banyak hal kita butuh waktu yang banyak pula. Bagaimana caranya bisa mempelajari berjilid-jilid buku hanya dalam waktu enam bulan [satu semester]?. Jangan dikira enam bulan itu waktu yang cukup. Dalam satu semester bisa ada lebih kurang sepuluh mata kuliah dan satu mata kuliah bisa ada lebih kurang tiga buku dengan tebal seperti bantal. Anggap tiga puluh buku dalam enam bulan berarti satu bulan lima buku, artinya satu buku harus selesai dalam enam hari. Enam hari cukup?. Ya jangan dihitung waktu kuliah, kuliah dari pagi sampai sore [paling sering sampai rumah jam tiga sore]. Kalau biasa tidur jam Sembilan ya berarti hanya punya waktu enam jam buat belajar. Potong waktu makan dan sholat jadi efektifnya lima jam dalam satu hari. Enam hari satu buku artinya 30 jam satu buku. Mau tahu berapa halaman buku kedokteran?. Tidak banyak, sekitar 900 halaman. Jika 30 jam untuk 900 halaman artinya 1 jam untuk 30 halaman atau dua menit untuk 1 halaman. Cukup untuk dibaca, tetapi cukupkah untuk dihafal atau dipahami?. Jawabannya tidak, rata-rata orang butuh membaca berkali-kali agar bisa hafal dan paham.
Bayangkan keempat hal ini menyerang orang tertentu. Ia yakin bahwa ia pintar tetapi faktanya kepintaran itu tidak bisa menghadapi beban materi yang terlalu banyak dan waktu yang singkat. Ia selalu khawatir dan takut gagal sehingga susah fokus jadinya susah belajar atau zhahirnya nampak belajar tetapi tidak ada yang masuk atau malah “gagal paham”. Pada ujian semester pertama hasil akhir jelek banyak mata kuliah yang tidak lulus. Terus tambah stress, tambah khawatir tambah susah fokus dan tambah susah belajar sampai di ujian semester kedua hasil akhir tetap jelek juga banyak mata kuliah yang tidak lulus. Ini seperti lingkaran setan yang cepat atau lambat bakal membuat yang bersangkutan punah.
.
.
Kami menyadarinya, kami melihat dirinya sebagai teman yang baik, akhlaknya luar biasa jauh lebih baik dari saya. Kami bisa melihat beban yang menggantung di lehernya walaupun ia tidak menceritakannya dan tidak berkeluh kesah tentangnya [ya pasti tahulah nilai akhir mata kuliah kan selalu ditempel di papan keramat].
Tentu kami sendiri masing-masing juga berusaha keras untuk bertahan dalam sistem ini tetapi kondisinya jelas parah sekali dibanding kami. Salah seorang dari kami seringkali menggerutu “alangkah jeleknya sistem ini, sistem ini tidak membuat orang menjadi pintar tetapi hanya menyaring mana orang pintar yang layak dan mana orang pintar yang tidak layak”. Saya awalnya bukan orang yang pedulian, jujur saja awal masuk kuliah saya dikenal sebagai orang pendiam, kurang bersosialisasi dan tidak pedulian. Tetapi melihatnya saya tidak ingin dia terus-terusan dalam kondisi seperti itu.
“Sufi Pertama” adalah orang yang paling dekat dengannya diantara kami. Ia berusaha membantu mengajarkan tetapi hasilnya tidak jauh berbeda. Ada juga sebab lain yang tersembunyi disini. Sebagian orang pintar ternyata mengidap penyakit “gengsian”. Tidak paham tetapi malu bertanya dengan teman. Ketika teman mengajarkan dan apa yang diajarkan teman susah dipahami malu untuk memintanya menjelaskan ulang. Takut kalau dianggap teman bodoh atau membosankan. Itulah sebabnya bantuan “sufi pertama” tidak efektif.
Sebenarnya saya melihat usaha “sufi pertama” itu tidak akan banyak membantu walaupun orang itu tidak gengsian. Akar masalah disini terletak pada sistem pengajaran dan penilaian. Semakin seseorang paham dengan sistem tersebut maka ia akan mencari cara agar bisa bertahan akan tetapi jika ia sendiri tidak paham dengan sistem tersebut maka berbagai cara yang dipakai tidak akan berguna. Tidak ada gunanya memanah, menembak, bahkan mengebom jika arah sasarannya salah.
.
.
.
Akar Masalah
Sistemnya yang bermasalah, yang dimaksud disini adalah sistem pengajaran materi kuliah dan sistem penilaian. Sistem pengajaran yang konvensional dimana dosen mengajarkan poin-poin materi tidak efektif untuk materi yang terlalu banyak. Hasilnya adalah sengaja diringkas terlalu banyak atau hanya mengajarkan yang pokok-pokok saja tetapi celakanya yang diuji tidak hanya yang pokok-pokok saja. Dari awal sang dosen sudah menuntut agar mahasiswa tidak hanya mengandalkan materi slide power point saat kuliah. Dengan gampangnya dosen tersebut tinggal menyebutkan buku-buku tebal yang harus kami baca. Mau tidak mau, suka tidak suka ya harus dibaca.
Sistem Penilaian juga agak mengganggu. Soal-soal ujian dibuat dalam dua bentuk yaitu soal yang menguji pemahaman dan soal yang menguji hafalan. Yang mengecewakan adalah soal yang menguji hafalan jauh lebih banyak dibanding soal yang menguji pemahaman. Anda paham ilmunya tidak menjamin anda bisa lulus kalau anda tidak hafal. Dan betapa hebatnya sang dosen ketika ia membuat soal-soal yang hanya bisa dijawab jika anda telah membaca buku-buku tebal yang ia tuntut harus dibaca oleh mahasiswanya. Anda membaca setengah buku maka anda tidak akan bisa menjawab soal-soal yang berasal dari setengahnya yang belum anda baca.
.
.
Bagaimana cara belajar yang benar agar bisa bertahan dalam sistem ini?. Orang-orang pintar yang idealis biasanya dalam kepala mereka tertanam konsep “belajar untuk ilmu”. Standar yang biasanya dipakai adalah pemahaman terhadap materi kuliah yang disampaikan dosen. Walaupun sebenarnya standar ini kurang karena apa yang disampaikan dosen biasanya hanya hal-hal yang pokok atau umum saja. Detail penjelasannya anda harus merujuk pada textbook yang kalau dilempar ke kepala bisa bikin pingsan. Kalau mahasiswa kedokteran ingin menjadi dokter yang berilmu maka mereka harus belajar dengan konsep “belajar untuk ilmu”.
Hanya saja konsep “belajar untuk ilmu” tidak menjamin anda bisa lulus karena ada porsi besar dari soal yang dibuat dosen dengan tujuan menguji hafalan. Seolah-olah sang dosen ingin memastikan mahasiswanya telah menyelesaikan membaca buku-buku tebal yang ia rekomendasikan. Mau tidak mau muncul konsep belajar yang lain yaitu “belajar untuk nilai”.
Idealnya adalah membaca dan menghafal semua bahan yang mungkin dijadikan dosen untuk membuat soal termasuk materi kuliahnya beserta textbook rujukannya. Tetapi karena hal ini menyulitkan hanya segelintir “orang gila” yang mau dan bisa melakukannya.
Cara lain yang dipakai adalah mengira-ngira soal yang dibuat dosen atau soal yang akan keluar saat ujian. Bagaimana caranya?  Yah para dosen juga manusia, punya kecenderungan atau gaya masing-masing. Mereka sudah bertahun-tahun mengajar dan menguji mahasiswa. Kebiasaan selalu membentuk pola. Untuk mengetahui jenis soal yang biasa dikeluarkan oleh dosen-dosen tertentu mau tidak mau anda harus merujuk pada salafus shalih, pendahulu sebelum anda alias kakak-kakak tingkat yang mulia yang telah berhasil melewati mata kuliah tersebut. Anda tahu polanya maka anda tahu apa yang harus anda pelajari atau anda hafalkan. Cara ini dinilai lebih waras untuk rata-rata mahasiswa kedokteran dibanding membaca seluruh textbook.
Tentu namanya mengira-ngira bisa jadi benar dan bisa jadi tidak tetapi kebanyakan benar tergantung masing-masing dosen. Ada yang memang pola soalnya selalu sama setiap tahunnya dan ada juga yang memang polanya sebagian besar sama dan sebagian kecil berubah bahkan ada juga dosen rajin kreatif dan inovatif sehingga sebagian besar pola soalnya berubah setiap tahun hanya sebagian kecil yang sama.
Dengan konsep “belajar untuk nilai” maka sangat besar untuk membantu anda lulus. Perbedaannya tergantung dengan usaha masing-masing orang yaitu apakah lulus dengan nilai pas-pasan atau lulus dengan nilai memuaskan. Kalau mahasiswa kedokteran ingin lulus mata kuliah agar bisa menjadi dokter maka dalam sistem ini mereka harus menerapkan belajar dengan konsep “belajar untuk nilai”.
.
.
Agar para pembaca mengerti perbedaan kedua konsep tersebut berikut akan saya contohkan. Contoh perbedaan ekstrim antara “belajar untuk ilmu” dan “belajar untuk nilai” adalah sistem peredaran darah manusia. Secara sederhana sistem ini mencakup jantung yang memompa darah ke pembuluh darah nadi besar terus ke pembuluh darah nadi kecil ke seluruh tubuh kemudian lewat pembuluh darah balik kecil terus ke pembuluh darah balik besar akhirnya kembali ke jantung. Untuk konsep “belajar untuk ilmu” pemahaman ini cukup tetapi kadang yang diuji bukan itu tetapi yang diuji adalah nama-nama pembuluh darah yang terlibat dalam sistem tersebut dan bisa terjawab dengan konsep “belajar untuk nilai” yaitu menghafal nama-nama pembuluh darah tersebut.
Tidak semua orang pintar bisa beradaptasi dengan sistem ini. Apalagi jika orang tersebut sudah terbiasa belajar dengan konsep “belajar untuk ilmu”. Termasuk teman kita yang kondisinya parah tadi. Beliau tidak terbiasa menghafal hal-hal yang seharusnya dihafalkan untuk bisa menjawab soal.
Di dunia nyata mungkin kasusnya seperti ini, anda mungkin saja bisa dan tahu pasti rumah salah satu teman anda karena anda sudah pernah pergi langsung kerumahnya. Ini saya sebut paham. Tetapi anda mungkin tidak hafal secara detail hal-hal yang terkait untuk menuju sampai kesana. Ketika ada yang menguji anda dengan detail tersebut bukan berarti anda tidak paham. Misalkan pertanyaannya adalah berapa persimpangan jalan yang akan anda temui dari rumah anda ke rumah teman anda? Atau berapa rumah yang akan anda lewati dari perjalanan menuju rumah teman anda?. Atau berapa ukuran jaraknya dalam meter atau km dari rumah anda ke rumah teman anda tersebut? . Ya mungkin saja anda tidak tahu tetapi ketidaktahuan itu tidak menunjukkan bahwa anda tidak bisa ke rumah teman anda.
Begitulah ilustrasinya, salah seorang diantara kami yang suka menggerutu berkata “seberapa penting sih detail tersebut untuk menjadi dokter yang baik, toh kalau kita lupa sebagian detail itu ya wajar saja dan tidak ada manfaat langsungnya bagi seorang dokter”. Saya sih simple saja jawabnya “kalau mau lulus ya detail itu penting”.
.
.
.
Solusi Kreatif Dan Inovatif
Cara belajar yang saya jelaskan itu adalah solusi standar yang bisa digunakan agar bertahan dalam sistem ini. Tetapi ada lagi solusi lain yang bermunculan. Diantaranya sadar ataupun tidak, mahasiswa kedokteran itu membentuk geng-geng atau kelompok atau klub untuk saling mengisi kekurangan. Beruntung kalau satu geng dengan “orang-orang gila” yang melihat textbook seperti melihat wanita pujaannya. Orang-orang gila ini tidak banyak jumlahnya dan mereka memiliki tingkat kewarasan yang berbeda-beda.
Ada yang pelit tidak mau berbagi dan ada yang murah hati suka berbagi bahkan ada yang murahan suka membuat kekacauan. Bayangkan saja orang yang sudah membaca berbagai materi kuliah dan textbook ketika ujian mau saja memberi contekan kepada orang lain sampai 80 % jawaban soal ujian. Tidak susah untuk melihat aksinya, jika soal ujian ada seratus, ia akan menuliskan jawaban 80 soal pada kertas kecil yang akan ia tinggalkan di toilet. Maka orang yang meminta contekan bisa melihatnya dengan tinggal pergi ke toilet saja.
Awalnya sih banyak yang pesimis atau tidak percaya. Masa’ sih sebanyak itu, murahan sekali, kok bisa ya kan sudah capek-capek belajar kesannya tidak menghargai usaha kerasnya sendiri atau jangan-jangan bohong, ia sengaja kasih jawaban yang salah. Memang apakah orang itu memberikan jawaban yang benar atau tidak ya dia sendiri yang tahu tetapi ada juga orang yang “cukup bodoh” untuk taklid buta pada jawaban-jawaban tersebut dan hasil akhir nilai ujiannya memuaskan. Ketika melihat nilai ujian di papan keramat itu suara-suara sumbang mendadak bungkam. Ternyata “orang gila” itu memang memberi contekan jawaban yang benar. 80 % cukup untuk mendapat nilai A kalau jawabannya benar semua.
.
.
Beberapa orang pernah mendiskusikan “orang gila ini” secara khusus. Alasan orang itu ternyata sederhana yaitu sekedar mau tahu siapa orang yang percaya dengannya. Kemudian orang yang percaya dengannya akan ia jadikan teman dekat. Ia akan membantu orang yang ia beri contekan agar pemahamannya tidak tersesat. Ia rela mengajaknya belajar bersama. Ia rela mengajarkan ilmu yang dengan “susah payah” ia dapatkan dan dengan senang hati ia akan memberi contekan pada saat ujian.
Bagi orang yang ketiban rezeki menjadi teman dekat, maka orang gila tersebut seperti juru selamat yang akan membimbingnya melalui jalan terjal dalam sistem ini. Tetapi ada sekelompok kecil orang lain yang melihat tingkah orang gila ini keterlaluan dan dianggap membuat kekacauan. Ada yang cukup berani untuk mengajaknya bicara empat mata agar ia menghentikan ulahnya. Banyak orang lain yang memberi contekan tetapi tidak mereka permasalahkan. Yang dipermasalahkan sih agak lucu yaitu jangan memberi contekan banyak-banyak dan benar semua. [Hee apa ini maksudnya mau nyuruh kasih contekan yang salah]. Pada akhirnya seiring waktu berjalan, sekelompok kecil orang yang protes akhirnya sadar bahwa ini adalah realita yang mau tidak mau harus diterima.
.
.
Saya melihat cara yang dilakukan “orang gila” tersebut adalah solusi untuk permasalahan teman kami yang parah itu. Entah kapan pastinya dimulai, yang jelas kami mulai memberi contekan dan mulai lebih dekat membimbing teman kami yang parah itu. Saya juga menggandeng “sufi pertama” dan “sang raja” untuk ikut andil. Kami serius mengajaknya belajar bersama. Meluruskan pemahaman ilmunya yang salah dengan cara yang sesuai dengan karakternya yang gengsian.
Yah orang yang gengsian itu terkadang suka pura-pura paham padahal sebenarnya tidak. Jadi ya kami terpaksa harus berpura-pura atau bersandiwara. Terkadang “sufi pertama” mendadak bego dan saya dengan pura-pura serius mengajarkan seperti orang bodoh, orang gengsian itu ikut mendengarkan dan akhirnya ia benar-benar paham. Terkadang kami dengan terpaksa memburuk-burukkan sistem ini di depannya dengan tujuan memberi kesan padanya bahwa sistem ini hanya untuk orang yang super pintar. Orang-orang biasa seperti kita kalau tidak saling membantu dalam sistem ini ya tidak bisa bertahan [kira-kira begitu bisikannya]. Terkadang saya, “sufi pertama” dan “sang raja” juga pura-pura saling mencontek dan memberi contekan dengan tujuan agar orang gengsian ini tidak malu untuk mencontek dari kami atau merasa rendah diri ketika kami memberi contekan. Di saat-saat tertentu kami mendadak pura-pura lupa dan meminta contekan darinya. Jadi ia tidak merasa sekedar mencontek tetapi juga memberi contekan. Hasilnya nilai akhir orang itu berangsur-angsur membaik, beban berkurang, makin percaya diri dan sudah tahu cara belajar yang benar.
Inti dari mencontek dan memberi contekan ini adalah tanggung jawab. Filosofi yang dibangun adalah kita bersama-sama “belajar untuk ilmu” dan “belajar untuk nilai”. Kita saling membantu, saling menjaga, saling mengisi dan kita bertanggung jawab agar membuat orang yang kita beri contekan menjadi orang yang paham. Saya dengan serius meluangkan waktu untuk mengajarinya bersama beberapa teman lain. Saya tidak ragu untuk berbagi ilmu dari buku atau textbook yang sudah saya baca. Kami membantu orang pintar yang biasa-biasa saja agar layak bertahan dalam sistem ini. Modal utama seorang dokter bukan “super pintar” tetapi “jiwa yang baik” dan orang baik seperti Beliau tidak layak punah dari sistem ini. Berani memberi contekan maka harus berani bersusah-susah untuk membuat orang yang kita beri contekan menjadi orang yang berilmu. Semua ini demi kebaikan yang lebih besar.
Mungkin dengan melihat hal inilah, sebagian teman yang awalnya beranggapan bahwa mencontek itu haram pada akhirnya tidak mempermasalahkan ulah kami walaupun ia sendiri tetap tidak mau mencontek atau memberi contekan. Oh iya tidak setiap yang anti mencontek mengatakan mencontek itu haram lho seperti teman saya Mr Cool yang satu ini. 
.
.
.
Penutup
Tidak ada yang bilang kalau kisah ini nyata dan tidak ada juga yang bilang kalau kisah ini fiktif belaka. Bukan itu yang penting dan sebenarnya saya juga tidak tahu apa yang penting dari kisah ini. Selamat bingung dan bagi yang tidak bingung maka selamat tercerahkan.
.
.
Note :
Teman yang kondisinya parah itu sekarang sudah jadi dokter yang hebat, hidup bahagia nan jauh disana, btw dia bukan termasuk salah seorang dalam klub SP karena orangnya tidak terlalu suka diskusi serius. Oh iya saya pernah membuat tulisan yang memuat tentang salah satu kisah cintanya, baca disini dan Beliau adalah orang korban pertama.
“Sufi Pertama” dan “Sang Raja” adalah orang yang akhirnya menjadi bagian dari klub SP. Ehem akhir bulan ini konon kabarnya ada reuni masbro tetapi saya ragu kalian bisa ikut.
Sekarang sistem pengajaran dan penilaian di kampus tecinta sudah berubah, konon kabarnya sudah jadi lebih baik.




Doa Tawasul

imam_ali_dan_11_imam_syiah



اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ وَ أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ؛

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan (perantara) Nabi-Mu, Nabi (pembawa) rahmat, Muhammad, shalawat atasnya dan keluarganya;

يَا أَبَا الْقَاسِمِ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، يَا إِمَامَ الرَّحْمَةِ ؛
Wahai Abul Qasim, wahai Rasulullah, wahai pemimpin (pembawa) rahmat,

يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَقَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ؛
Wahai junjungan dan pemimpin kami, sesunguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا أَبَا الْحَسَنِ، يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ، يَا عَلِيَّ بْنَ أَبِيْ طَالِبٍ ؛
Wahai Abul Hasan, wahai Amirul Mukminin, wahai Ali bin Abi Thalib,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ، يَا بِنْتَ مُحَمَّدٍ، يَا قُرَّةَ عَيْنِ الرَّسُوْلِ ؛
Wahai Fathimah az-Zahra`, wahai putri Muhammad, wahai cahaya mata Rasul,
يَا سَيِّدَتَنَا وَ مَوْلاَتَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكِ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكِ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهَةً عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعِيْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, memohon syfaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedapankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا أَبَا مُحَمَّدٍ، يَا حَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، أَيُّهَا الْمُجْتَبَى، يَا ابْنَ رَّسُوْلِ اللَّهِ ؛
Wahai Hasan bin Ali, wahai al-Mujtabâ, wahai putra Rasulullah,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛

Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، يَا حُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ، أَيُّهَا الشَّهِيْدُ، يَا ابْنَ رَّسُوْلِ اللَّهِ ؛
Wahai Abu Abdillah, wahai Husein bin Ali, wahai syahid, wahai putra Rasulullah,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا أَبَا الْحَسَنِ، يَا عَلِيَّ بْنَ الْحُسَيْنِ، يَا زَيْنَ الْعَابِدِيْنَ، يَا ابْنَ رَّسُوْلِ اللَّهِ ؛
Wahai Abul Hasan, wahai Ali bin Husein, wahai Zainal Abidin, wahai putra Rasulullah,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا أَبَا جَعْفَرٍ، يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ، أَيُّهَا الْبَاقِرُ، يَا ابْنَ رَّسُوْلِ اللَّهِ ؛
Wahai Abu Ja’far, wahai Muhammad bin Ali, wahai al-Bâqir, wahai putra Rasulullah,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، يَا جَعْفَرَ بْنَ مُحَمَّدٍ، أَيُّهَا الصَّادِقُ، يَا ابْنَ رَّسُوْلِ اللَّهِ ؛
Wahai Abu Abdillah, wahai Ja’far bin Muhammad, wahai ash-Shâdiq, wahai putra Rasulullah,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا أَبَا الْحَسَنِ، يَا مُوسَى بْنَ جَعْفَرٍ، أَيُّهَا الْكَاظِمُ،يَا ابْنَ رَّسُوْلِ اللَّهِ ؛
Wahai Abul Hasan, wahai Musa bin Ja’far, wahai al-Kâzhim, wahai putra Rasulullah,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا أَبَا الْحَسَنِ، يَا عَلِيَّ بْنَ مُوسَى، أَيُّهَا الرِّضَى، يَا ابْنَ رَّسُوْلِ اللَّهِ ؛
Wahai Abul Hasan, wahai Ali bin Musa, wahai ar-Ridhâ, wahai putra Rasulullah,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا أَبَا جَعْفَرٍ، يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ، أَيُّهَا التَّقِيُّ الْجَوَّادُ، يَا ابْنَ رَّسُوْلِ اللَّهِ ؛
Wahai Abu Ja’far, wahai Muhammad bin Ali, wahai at-Taqî al-Jawwâd, wahai putra Rasulullah,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا أَبَا الْحَسَنِ، يَا عَلِيَّ بْنَ مُحَمَّدٍ، أَيُّهَا الْهَادِي النَّقِيُّ، يَا ابْنَ رَّسُوْلِ اللَّهِ ؛
Wahai Abul Hasan, wahai Ali bin Muhammad, wahai al-Hâdî an-Naqî, wahai putra Rasulullah,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا أَبَا مُحَمَّدٍ، يَا حَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، أَيُّهَا الزَّكِيُّ الْعَسْكَرِيُّ، يَا ابْنَ رَّسُوْلِ اللَّهِ ؛
Wahai Abu Muhammad, wahai Hasan bin Ali, wahai az-Zakî al-‘Askarî, wahai putraRasulullah,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;

يَا وَصِيَّ الْحَسَنِ وَ الْخَلَفَ الْحُجَّةَ، أَيُّهَا الْقَائِمُ الْمُنْتَظَرُ الْمَهْدِيُّ، يَا ابْنَ رَّسُوْلِ اللَّهِ ؛
Wahai Washî al-Hasan, wahai pengganti yang hujjah, wahai pemimpin yang dinanti (kedatangannya), al-Mahdi, wahai putra Rasulullah,

يَا حُجَّةَ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ، يَا سَيِّدَنَا وَ مَوْلاَنَا، إِنَّا تَوَجَّهْنَا وَ اسْتَشْفَعْنَا وَ تَوَسَّلْنَا بِكَ إِلَى اللَّهِ وَ قَدَّمْنَاكَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَاتِنَا، يَا وَجِيْهًا عِنْدَ اللَّهِ اشْفَعْ لَنَا عِنْدَ اللَّهِ ؛
Wahai hujjah Allah atas makhluk-Nya, wahai junjungan dan pemimpin kami, sesungguhnya kami menghadap, meminta syafaat, dan bertawassul denganmu kepada Allah, serta mengedepankanmu demi terkabulnya hajat-hajat kami, wahai yang terpandang di sisi Allah, karuniakanlah syafaat kepada kami di sisi Allah;
( Kemudian, mintalah hajat-hajat Anda. Semua hajat tersebut akan dikabulkan insyâ-Allah. Dalam sebuah hadis dianjurkan untuk membaca doa berikut setelah membaca doa Tawassul di atas. )

يَا سَادَتِيْ وَ مَوَالِيَّ، إِنِّيْ تَوَجَّهْتُ بِكُمْ أَئِمَّتِيْ وَ عُدَّتِيْ لِيَوْمِ فَقْرِيْ وَ حَاجَتِيْ إِلَى اللَّهِ
Wahai junjungan dan pemimpin-pemimpinku, sesungguhnya aku menghadap kepada Allah dengan (perantara) kalian para imamku dan bekalku di saat kepapaan dan keperluanku,

وَ تَوَسَّلْتُ بِكُمْ إِلَى اللَّهِ وَ اسْتَشْفَعْتُ بِكُمْ إِلَى اللَّهِ، فَاشْفَعُوْا لِيْ عِنْدَ اللَّهِ، وَ اسْتَنْقِذُوْنِيْ مِنْ ذُنُوْبِيْ عِنْدَ اللَّهِ ؛
dan aku bertawassul dengan kalian kepada Allah, dan memohon syafaat kepada Allah melalui perantara kalian. Maka, karuniakanlah syafaat kepadaku di sisi Allah dan selamatkanlah aku dari jeratan dosa-dosaku di sisi Allah,

فَإِنَّكُمْ وَسِيْلَتِيْ إِلَى اللَّهِ، وَ بِحُبِّكُمْ وَ بِقُرْبِكُمْ أَرْجُوْ نَجَاةً مِنَ اللَّهِ، فَكُوْنُوْا عِنْدَ اللَّهِ رَجَائِيْ
karena kalianlah perantaraku kepada Allah, dan hanya dengan kecintaan kepada kalian serta kedekatan kepada kalian aku memohon keselamatan kepada Allah. Oleh karena itu, jadilah kalian tumpuan harapanku di sisi Allah,

، يَا سَادَتِيْ، يَا أَوْلِيَاءَ اللَّهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ وَ لَعَنَ اللَّهُ أَعْدَاءَ اللَّهِ ظَالِمِيْهِمْ مِنَ الْأَوَّلِيْنَ وَ الْآخِرِيْنَ، آمِينَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
wahai pemimpin-pemimpinku, wahai kekasih-kekasih Allah. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat atas mereka semua dan melaknat para musuh Allah, yaitu orang-orang yang menzalimi mereka dari yang pertama hingga yang terakhir. Amin, ya Rabbal ‘Âlamîn.