Sudahkah Anda Bershalawat???

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)” HR an-Nasa’i (no. 1297)

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {56}

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. 33:56)

Ahlul Bait

مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“Perumpamaan Ahlul baitku seperti kapal nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya maka dia akan selamat dan barangsiapa yang enggan maka dia akan tenggelam (binasa).”

Jumat, 29 Juli 2016

Hadis Akhlak Ushul Kafi: Hak Tetangga

Hadis Akhlak Ushul Kafi: Hak Tetangga

Hak Tetangga


1. Rasulullah Saw bersabda, "Tetangga seperti diri sendiri, tidak merugikan dan juga tidak berdosa. Menghormati tetangga sama dengan menghormati ibu."[1]

2. Imam Shadiq as berkata, "Berbuat baik kepada tetangga akan menambah rezeki."[2]

3.Imam Shadiq as berkata, "Berbuat baik kepada tetangga akan membuat rumah lebih makmur dan menambah umur."[3]

4. Imam Kazhim as berkata, "Berbuat baik kepada tetangga bukan hanya tidak mengganggunya, tapi bersabar atas gangguannya."[4]

5. Imam Shadiq as berkata, "Ketahuilah bahwa seseorang yang tidak berbuat baik dengan tetangganya bukan dari kita."[5]

6. Imam Shadiq as berkata, "Seorang mukmin adalah orang yang melindungi tetangganya dari gangguan dan kezalimannya."[6]

7. Rasulullah Saw bersabda, "Tetangga terhitung sampai 40 rumah, baik itu dari depan, belakang, kanan dan kiri."[7]

Sumber: Vajeh-haye Akhlak az Ushul Kafi, Ibrahim Pishvai Malayeri, 1380 Hs, cet 6, Qom, Entesharat Daftar Tablighat-e Eslami.
Baca juga:

Hadis Akhlak Ushul Kafi: Hak Mukmin atas Saudaranya
Hadis Akhlak Ushul Kafi: Berprasangka Baik

[1]. Bab Haq al-Jiwar, hadis 2.
[2]. Ibid, hadis 3.
[3]. Ibid, hadis 8.
[4]. Ibid, hadis 9.
[5]. Ibid, hadis 11.
[6]. Ibid, hadis12.
[7]. Bab Hadd al-Jiwar, hadis 1.




- Source : allaboutahlulbait.blogspot.sg

Falsafah Salam Salat Menurut Imam Ja’far Shadiq





Salat adalah salah satu ibadah personal yang banyak memiliki rahasia. Rahasia ini tidak diketahui kecuali oleh mereka yang telah dipercaya untuk memegangnya. Mereka tidak lain adalah Ahlul Bait Rasulullah saw.


Salah satu kewajiban yang harus kita lakukan dalam salat adalah mengucapkan salam:as-salāmu ‘alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.

Kewajiban salam ini telah ditetapkan pada malam Mikraj. Ketika Rasulullah saw sedang membaca tasyahud di salat malam Mikraj ini, beliau menyaksikan banyak saf para malaikat dan para nabi utusan Allah. Beliau diperintahkan, “Wahai Muhammad! Ucapkanlah salam kepada mereka.” Beliau pun mengucapkan, “As-salāmu ‘alaikum wa rahmatullāh wa barakātuh.”

Lalu Allah mewahyukan, “Aku adalah salam dan rahmat. Sedangkan engkau dan keturunanmu adalah berkah.”

Imam Ja’far Shadiq as pernah ditanya alasan mengapa salam diwajibkan dalam salat. Beliau menjawab, “Salam bisa membebaskan salat.”

Mufadhdhal bin Umar bertanya, “Mengapa mushalli mengucapkan salam dengan mengisyaratkan kepala ke arah kanan, bukan ke arah kiri?”

Imam Shadiq as menjawab, “Malaikat yang diperintahkan untuk menulis kebaikan berada di sebelah kanan. Sedangkan malaikat yang diperintahkan untuk menulis keburukan berada di sebelah kiri.”

“Lalu mengapa salam bersifat plural? Padahal malaikat di sebelah kanan hanya satu orang,” lanjut Mufadhdhal.

Imam Shadiq menjawab, “Mushalli mengucapkan salah untuk malaikat di sebelah kanan dan juga malaikat di sebelah kiri. Tetapi keutamaan sebelah kanan terwujud dengan mengisyaratkan ke arah kanan.”



-Source : allaboutahlulbait.blogspot.sg

Kisah: Mengapa Istikharahku Buruk tapi Hasilnya Baik?






Suatu hari, ada seorang datang kepada Imam Ja’far As-Shodiq, Ia berkata, “ Wahai Imam, aku ingin pergi berlayar untuk bekerja, tolong lakukan istikharah untukku agar aku tau apakah baik jika aku berangkat kali ini.”

Sesaat kemudian Imam melakukan istikharah dan memberi jawaban, “Tidak baik untukmu jika berlayar saat ini.”

Setelah mendapat jawaban, orang ini pulang dengan raut wajah gelisah. Mana mungkin istikhoroh itu buruk padahal saat ini waktu yang sangat tepat untuk berniaga. Kegelisahannya tak kunjung hilang hingga dia memutuskan untuk tetap berlayar.

Tak disangka-sangka, ternyata perjalanannya membuahkan hasil. Ia mendapat untung berkali lipat dari biasanya. Dia menemukan semuanya dalam keadaan baik dan hampir tidak menemui masalah sedikit pun. Sampai akhirnya dia pulang dengan rasa puas dan gembira.

Ketika sampai di kotanya, dia merasa bingung. Kenapa istikharahnya buruk tapi hasilnya amat baik. Bahkan dia belum pernah mendapat untung sebesar ini. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk menghadap kepada Imam Ja’far As-Shodiq.

Dia bertanya, “Wahai Imam, kemarin aku meminta tolong kepadamu untuk istikharah namun hasilnya buruk. Tapi aku tetap berangkat dan ternyata mendapatkan hasil yang berlipat ganda.”

Imam tersenyum mendengarnya, beliau pun menjawab, “Ingatkah engkau ketika hendak pulang ke kotamu, setelah melaksanakan solat maghrib dan isya’ kau duduk bersama rekan-rekan untuk membicarakan hasil perdagangan yang memuaskan.”

“Iya benar” Jawabnya.

“Kau makan dan minum hingga larut malam kemudian tidur. Dan ketika hendak melaksanakan solat subuh, ternyata matahari telah terbit.”

“Iya benar wahai Imam”

Kemudian Imam berkata,

“Andaikan Allah swt memberimu dunia dan seisinya engkau tidak akan bisa membayar kerugian itu”

Betapa besar kerugian orang yang melewatkan waktu solatnya. Berulang kali Rasulullah saw menekankan untuk memperhatikan waktu solat. Tidak meremehkannya dengan menunda-nunda waktunya. Tidak mendahulukan urusan dunia dihadapan amalan yang paling dicintai Allah ini.

Adakah yang lebih penting dari solat? Rasul pernah bersabda,

“Kelak tidak akan mendapat syafaatku, orang yang meremehkan (waktu) solat”

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ -٤- الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ -٥

 “Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.”
(Al-Ma’un 4-5)





- Source : allaboutahlulbait.blogspot.sg



SAYA BUKAN SYIAH



Betapa agungnya ketika orang akhirnya melihat saya sebagai syiah. Tapi begitu kecilnya, ketika diri mengetahui bahwa aku bukanlah seorang syiah.

Karena Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Wahai orang-orang Syi’ah, jadilah hiasan bagi kami dan jangan menjadi noda untuk kami, berbicaralah santun kepada masyarakat, jagalah lidah kalian, dan hindarilah campur tangan dalam urusan orang lain dan perkataan yang buruk..”

Aku sungguh belum sanggup mencapai hal itu..

Dan jangan pernah bilang jika aku syiah, karena kata Imam Ja’far Ash-Shadiq lagi :

“Syi’ah kami adalah warak dan pekerja, mereka adalah orang-orang yang percaya dan terpercaya, ahli zuhud dan ibadah, se-nantiasa menunaikan lima puluh satu rakaat shalat sehari semalam, orang-orang yang terjaga di malam hari dan berpuasa di siang hari. Mereka menunaikan ibadah haji ke Baitul Haram … dan menjaga diri dari segala yang haram”.

Sungguh, aku tidak akan mampu mendekati dari kriteria yang ada.

Aku sangat sedih ketika aku dituding syiah, karena kata Imam Jafar as :

“Demi Allah, Syi’ah Ali as. tidak lain adalah orang yang suci perut dan kemaluannya, orang yang beramal hanya untuk Penciptanya, dan mengharapkan pahala-Nya serta takut akan siksa-Nya”.

Aku hanya mampu melihat dari luar, karena aku tahu sangat banyak yang harus aku perbaiki dalam diriku.

Karena itu jangan pernah tuduh aku sebagai syiah, sebab beliau berkata lagi :

“Wahai Syi’ah keluarga Muhammad saw.! Sesungguhnya bukanlah dari kami orang yang tidak menguasai dirinya pada saat marah, tidak berkata sopan pada orang yang berbicara dengannya, tidak menjaga persahabatannya dengan orang yang ber-samanya, dan tidak memegang janji perdamaian dengan orang yang mengajaknya berdamai”.

Semakin faham betapa berat menjadi Syiah, maka semakin kecil rasanya hatiku. Apalagi ketika kalian mengejekku sebagai syiah. Sungguh malu diriku rasanya ketika Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata :

“Ujilah Syi’ah kami di waktu shalat;
bagaimana mereka menjaga waktu-
waktu-nya? Dan bagaimana mereka
menjaga rahasia kami dari musuh-musuh kita?”.

Betapa aku merasa jauh dari semua kriteria syiah. Aku bukanlah syiah. Aku hanya mencoba patuh pada Imamku dan berusaha yang terbaik supaya hidupku menjadi lebih baik.

“Sampaikanlah salam kepada
siapa saja dari mereka yang kamu pandang patuh padaku dan mendengarkan kata-kataku, wasiatkanlah pada mereka takwa kepada Allah swt, warak dalam beragama, usaha keras demi Allah, jujur dalam berbicara, menjalankan amanat, lama dalam sujud dan baik dalam bertetangga, karena Nabi saw. datang dengan membawa ajaran-ajaran tersebut.

Laksanakanlah amanat kalian secara penuh untuk orang yang mempercayakanmu agar menjaganya, baik dia orang yang saleh maupun orang yang jahat, karena Nabi saw. senantiasa menganjurkan masyarakat agar menyelesaikan kontrak yang telah disepakati bersama.

Jagalah silaturahmimu dengan keluarga, hadirilah jenazah mereka, jenguklah mereka yang sakit, penuhilah hak-hak mereka, karena orang yang warak dalam beragama, jujur dalam bertutur kata, setia dalam amanat dan berbudi pekerti
kepada masyarakat, niscaya orang lain akan menyebutnya sebagai Ja’fari (pengikut Imam Ja’far Ash-Shadiq as.),

Dengan begitu dia telah menggembirakanku dan membuat hatiku senang...."

Sungguh, aku bukan syiah.. Sedikitpun tidak akan menyamai..





- Source : allaboutahlulbait.blogspot.sg

Kamis, 28 Juli 2016

Hakekat Taqiyah versi Syiah

Beberapa pihak melancarkan kritik terhadap pihak Syi’ah dengan mengatakan bahawa melakukan taqiyah dalam agama adalah bertentangan dengan nilai keberanian. Pemikiran yang paling sederhana sekalipun akan menunjukkan bahawa tuduhan itu salah, sebab taqiyah harus dipraktikkan dalam keadaan orang tersebut menghadapi sesuatu bahaya yang tidak dapat ditolak dan dilawankan. Perlawanan terhadap bahaya semacam itu dan kegagalan untuk mempraktikkan taqiyah dalam keadaan seperti itu menunjukkan tindakan yang semberono dan membabi-buta, dan bukan keberanian.
———————————-

Hakekat Taqiyah versi Syiah

Salah satu aspek dalam Syi’ah yang paling di salahfahamkan adalah, praktik taqiyah atau menyembunyikan sesuatu dengan berpura-pura. Di sini kami mengabaikan makna yang lebih luas dari taqiyah:”menghindari atau menjauhkan diri dari setiap jenis bahaya”. Kami lebih cenderung mendiskusikan jenis taqiyah dalam arti seorang menyembunyikan agamanya atau beberapa praktik tertentu dari agamanya dalam keadaan-keadaan yang mungkin atau pasti akan menimbulkan bahaya sebagai akibat tindakan-tindakan dari orang-orang yang menentang agamanya atau praktik-praktik keagamaan tertentu.
Di antara pengikut-pengikut berbagai mazhab dalam Islam maka kaum Syi’ah terkenal akan praktik taqiyah mereka. Dalam keadaan bahaya, mereka menyembunyikan agama mereka dan merahasiakan praktik-praktik dan upacara-upacara keagamaan yang khas terhadap lawan-lawan mereka.
Sumber-sumber yang menjadi dasar kaum Syi’ah dalam persoalan ini, termasuk ayat-ayat al-Qur’an seperti di bawah:
“Jangan sampai orang-orang yang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman mereka selain orang-orang yang beriman. Barang siapa yang melakukan hal itu maka tidak ada pertolongan dari Allah kecuali untuk menjaga diri terhadap mereka (orang-orang kafir) dengan sebaik-baiknya. Allah memperingatkan kalian (agar selalu ingat) kepadaNya. Dan kepada Allahlah kalian kembali.”[al-Qur’an(3): 28]. (Ungkapan menjaga diri terhadap mereka (orang-orang kafir) dengan sebaik-baiknya diterjemahkan dari tattaqu minhum tuqatan, kata tattaqu dan tuqatan mempunyai akar kata yang sama dengan taqiyah.)
Sebagaimana jelas dari ayat al-Qur’an tersebut, Allah SWT sangat melarang wilayah (yang dalam hal ini bererti persahabatan yang sedikit banyak mempengaruhi hidup seseorang) dengan orang-orang kafir yang memerintahkan agar berhati-hati dan mempunyai rasa khuwatir dalam keadaan semacam itu.
Di tempat lain Ia berfirman:
“Barangs siapa mengingkari Allah sesudah mengimaniNya (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali dia yang terpaksa untuk melakukan itu sedang hatinya masih tenteram dalam keimanan; akan tetapi barang siapa yang membuka dadanya untuk kekafiran, maka laknat Allah menimpa mereka, dan bagi mereka azab yang dahsyat.” [al-Qur’an (16): 106]
Sebagaimana disebutkan dalam kedua sumber, Sunni dan Syi’ah, ayat ini diturunkan mengenai Ammar ibn Yasir. Setelah Nabi SAWW berhijrah, kaum kafir Mekah memenjarakan beberapa orang Islam Mekah, menyiksa dan memaksa mereka untuk meninggalkan Islam dan kembali pada agama mereka semula, yakni menyembah berhala. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Ammar, berserta ayah dan ibunya. Orang tua Ammar menolak untuk mengingkari Islam dan meninggal kerana siksaan. Tetapi Ammar – untuk menghidari siksaan dan kematian – pura-pura meninggalkan Islam dan menerima penyembahan berhala, dan kerana itu ia terhindar dari bahaya. Setelah dibebaskan, dengan diam-diam ia meninggalkan Mekah pergi ke Madinah. Di Madinah ia mengadap Nabi Muhammad SAWW, dan dalam keadaan menyesal dan sedih dengan apa yang telah dilakukannya ia bertanya kepada Nabi apakah dengan berbuat demikian ia telah keluar dari wilayah kesucian agama. Nabi menjawab bahawa kewajipannya ialah apa yang telah ia lakukan. Kemudian ayat tersebut diwahyukan.
Kedua ayat yang dikutip di atas diturunkan mengenai kes-kes tertentu, akan tetapi pengertiannya begitu rupa, sehingga mencakup seluruh situasi yang menyebabkan pengungkapan kepercayaan dan amal keagamaan yang mungkin dapat membahayakan diri. Selain ayat-ayat ini, terdapat banyak hadith dari Ahlu l-Bait Nabi yang memerintahkan taqiyah jika terdapat kekhawatiran akan bahaya.
Beberapa pihak melancarkan kritik terhadap pihak Syi’ah dengan mengatakan bahawa melakukan taqiyah dalam agama adalah bertentangan dengan nilai keberanian. Pemikiran yang paling sederhana sekalipun akan menunjukkan bahawa tuduhan itu salah, sebab taqiyah harus dipraktikkan dalam keadaan orang tersebut menghadapi sesuatu bahaya yang tidak dapat ditolak dan dilawankan. Perlawanan terhadap bahaya semacam itu dan kegagalan untuk mempraktikkan taqiyah dalam keadaan seperti itu menunjukkan tindakan yang semberono dan membabi-buta, dan bukan keberanian. Sifat-sifat keberanian dapat diamal hanya paling sedikit ada kemungkinan untuk berhasil. Akan tetapi menghadapi suatu bahaya yang pasti atau mungkin terjadi, yang di dalamnya tidak terdapat kemungkinan untuk menang, seperti minum air yang mungkin ada racunnya, atau melemparkan diri ke muka sebuah meriam yang ditembakkan, atau berbaring di atas rel di depan keretapi yang sedang berjalan dengan cepatnya – semuanya perbuatan yang semacam itu – tidak lain daripada kegilaan yang bertentangan dengan logika dan fikiran yang waras.
Dari hal itu, dapat disimpulkan bahawa taqiyah harus dipraktikkan hanya apabila terdapat suatu bahaya yang pasti yang tidak dapat dihindari dan tidak ada harapan menang dalam menghadapinya.
Batas bahaya yang tepat yang memungkinkan dilakukan taqiyah telah diperdebatkan di antara para mujtahid Syi’ah. Dalam pandangan kami, menjalankan taqiyah dapat dibenarkan apabila terdapat bahaya yang pasti, yang mengancam hidup seseorang atau keluarganya, atau kemungkinan hilangnya kehormatan dan kesucian isteri seseorang atau anggota-anggota keluarga wanita lainnya, atau bahaya hilangnya harga benda yang sedemikian banyaknya sehingga mengakibatkan kemiskinan yang total dan tidak memungkinkan seseorang untuk seterusnya memberikan nafkah kepada keluarganya dan dirinya sendiri. Pendek kata, sifat berhati-hati dan menghindari dari bahaya yang pasti atau mungkin datang dan tidak dapat dicegah, merupakan hukum logika yang biasa dan diterima oleh semua orang dan dipraktikkan oleh orang-orang dalam seluruh tahap kesempurnaan mereka yang berbeda-beda.
(Oleh Al-Marhum Allamah Thabathaba’i – Ansariyan Publication,Qum, 1989,Shi’a, hlm. 223; PU Grafiti, 1989, Indonesia,Islam Syi’ah, hlm. 259)



- Source : https://islamsyiah.wordpress.com/

Abdullah Bin Saba’ Pendiri Syiah, Benarkah?

Mereka semua itu sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ dari satu sumber yaitu; Sayf ibn Umar at-Tamimi dalam bukunya “al-Futuh al-kabir wa al-riddah dan al-Jamal wal-masir Aishah wa Ali”. Dari cerita Sayf inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ tersebut. Padahal pribadi Sayf adalah seorang penulis yang tidak dipercaya oleh kebanyakan penulis-penulis kitab rijal seperti Yahya ibn Mu’in, Abu Dawud, al-Nasai, Ibn Abi Hatim, Ibn al-Sukn, Ibn Hibban, al-Daraqutni, al-Hakim, al-Firuzabadi, Ibn Hajar, al-Suyuti, dan al-Safi al-Din. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Sayf ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijrah yang menggunakannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang kononnya diasaskan oleh tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’.

—————————————————


Abdullah Bin Saba’ Pendiri Syiah, Benarkah?

Tuduhan bahwa madzhab syiah adalah ajaran dari si Yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’ telah lama diketengahkan kepada masyarakat muslim dan semacam sudah merasuk di tengah masyarakat bahwa syiah adalah ajaran Yahudi Abdullah ibn Saba’ yang berpura-pura memeluk Islam tetapi bertujuan untuk menghancurkan pegangan aqidah umat Islam.

Abdullah bin Saba’ dikatakan sebagai pendiri madzhab Saba’iyyah yang mengemukakan teori bahwa Ali adalah wasi Muhammad SAWW. Abdullah ibn Saba’ juga dikenali dengan nama Ibn al-Sawda’ atau ibn ‘Amat al-Sawda’- anak wanita kulit hitam. Pada hakikatnya cerita Abdullah ibn Saba’ adalah satu dongengan (fiktif) semata.

Allamah Murtadha Askari telah membuktikan bahwa cerita Abdullah ibn Saba’ yang terdapat dalam beberapa kitab Ahlusunah bersumber dari Al-Tabari (w.310H/922M), Ibn Asakir (w571H/1175M), Ibn Abi Bakr (w741H/1340M) dan al-Dhahabi (w747H/1346M). Mereka semua itu sebenarnya telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ dari satu sumber yaitu; Sayf ibn Umar at-Tamimi dalam bukunya “al-Futuh al-kabir wa al-riddah dan al-Jamal wal-masir Aishah wa Ali”. [Murtadha Askari, Abdullah ibn Saba’ wa digar afsanehaye tarikhi, Tehran, 1360 H].

Sayf adalah seorang penulis yang tidak dipercaya oleh kebanyakan penulis-penulis kitab rijal seperti Yahya ibn Mu’in (w233/847H), Abu Dawud (w275H/888M), al-Nasai (w303H/915M), Ibn Abi Hatim (w327H/938M), Ibn al-Sukn (w353H/964M), Ibn Hibban (w354H/965M), al-Daraqutni (w385H/995M), al-Hakim (w405H/1014M), al-Firuzabadi (w817H/1414M), Ibn Hajar (w852H/1448M), al-Suyuti (w911H/1505M, dan al-Safi al-Din (w923H/1517M).

Abdullah ibn Saba’, kononnya seorang Yahudi yang memeluk Islam pada zaman Uthman, dikatakan seorang pengikut Ali yang setia. Dia mengembara dari satu tempat ke satu tempat lain untuk menghasut orang banyak supaya bangun dan memberontak menentang khalifah Uthman bin Affan. Sayf menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah sebagai pengasas ajaran Sabaiyyah dan pengasas madzhab ghuluww (sesat). Menurut Allamah Askari, pribadi Abdullah ibn Saba’ ini adalah hasil rekaan Sayf yang juga telah berhasil mencipta beberapa pribadi, tempat, dan kota lain hasil khayalannya. Dari cerita Sayf inilah beberapa orang penulis telah mengambil cerita Abdullah ibn Saba’ tersebut. Beberapa orang yang erpengaruh dengan kisah bohong Sayf seperti: Said ibn Abdullah ibn Abi Khalaf al-Ashari al-Qummi (w301H/913M) dalam bukunya al-Maqalat al-Firaq, al-Hasan ibn Musa al-Nawbakhti (w310H/922M) dalam bukunya Firaq al-Shiah, dan Ali ibn Ismail al-As’ari (w324H/935M) dalam bukunya Maqalat al-Islamiyyin.

Allamah al-Askari mengupas hakekat cerita Abdullah ibn Saba’ dari riwayat syiah dari Rijal oleh al-Kashshi. Al-Kashshi telah meriwayatkan dari sumber Sa’d ibn Abdullah al-Ashari al-Qummi yang menyebut bahawa Abdullah ibn Saba’ mempercayai kesucian Ali sehingga menganggapnya sebagai seorang nabi. Hal itu karena mengikut dua riwayat ini, Ali AS memerintahkannya menyingkirkan fahaman tersebut, dan disebabkan keengganannya itu Abdullah ibn Saba telah dihukum bakar hidup-hidup. Walau bagaimanapun menurut Sa’d ibn Abdullah, Ali telah menghalau Ibn Saba’ ke Madain dan di sana dia menetap sehingga Ali AS menemui kesyahidannya. Pada ketika itu Abdullah ibn Saba’ mengatakan: Ali AS tidak wafat, sebaliknya, ia akan kembali semula ke dunia.

Al-Kashshi, selepas meriwayatkan lima riwayat yang berkaitan dengan Abdullah ibn Saba’ menyatakan bahwa tokoh ini didakwa oleh golongan Sunni sebagai orang yang pertama yang mengumumkan tentang Imamah (kepemimpinan) Ali AS. Allamah Askari menyatakan bahwa hukuman bakar hidup-hidup adalah satu perkara bid’ah yang bertentangan dengan hukum Islam, tiada beda antara madzhab Syi’ah ataupun Sunnah.

Kisah tersebut tidak akan pernah kita jumpai dalam kitab-kitab karya tokoh-tokoh sejarah yang masyhur seperti Ibn al-Khayyat, al-Yakubi, al-Tabari, al-Masudi, Ibn Al-Athir, ibn Kathir atau Ibn Khaldun. Peranan yang dimainkan oleh Abdullah ibn Saba’ sebelum peristiwa pembunuhan Uthman atau pada zaman pemerintahan Imam Ali AS tidak pernah disebut oleh para penulis yang terdahulu seperti Ibn Sa’d (w230H/844M0, al-Baladhuri (w279H/892M) atau al-Yaqubi. Hanya al-Baladhuri yang hanya sekali saja menyebut namanya dalam buku Ansab al-Ashraf ketika meriwayatkan peristiwa pada zaman Imam Ali AS. Al-Baladuri berkata: ” Hujr ibn Adi al-Kindi, Amr ibn al-Hamiq al-Khuzai, Hibah ibn Juwayn al-Bajli al-Arani, dan Abdullah ibn Wahab al-Hamdani – ibn Saba’ datang kepada Imam Ali AS dan bertanya kepada Ali AS tentang Abu Bakar dan Umar…”. Ibn Qutaybah (w276H/889M) dalam bukunya al-Imamah wal-Siyasah dan al-Thaqafi (w284H/897M) dalam al-Gharat telah menyatakan peristiwa tersebut. Ibn Qutaybah memberikan identitas orang ini sebagai Abdullah ibn Saba’. Sa’d ibn Abdullah al-Ashari dalam bukunya al-Maqalat wal-Firaq menyebutkan namanya sebagai Abdullah ibn Saba’ pengasas ajaran Saba’iyyah – sebagai Abdullah ibn Wahb al-Rasibi. Ibn Malukah (w474H/1082M) dalam bukunya Al-Ikmal dan al-Dhahabi (w748H/1347M) dalam bukunya al-Mushtabah ketika menerangkan perkataan ‘Sabaiyyah ‘, menyebut Abdullah ibn Wahb al-Saba’i, sebagai pemimpin Khawarij. Ibn Hajar (w852H/1448M) dalam Tansir al-Mutanabbih menerangkan bahawa Saba’iyyah sebagai ‘ satu kumpulan Khawarij yang diketuai oleh Abdullah ibn Wahb al-Saba’i’. Al-Maqrizi (w848H/1444M) dalam bukunya al-Khitat menamakan tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’ ini sebagai ‘Abdullah ibn Wahb ibn Saba’, juga dikenali sebagai Ibn al-Sawda’ al-Saba’i.’

Allamah Askari mengemukakan rasa keheranannya disaat tidak seorang pun dari para penulis tokoh Abdullah ibn Saba’ ini menyertakan nasabnya, satu perkara yang agak ganjil bagi seorang Arab yang pada zamannya memainkan peranan yang penting. Penulis sejarah Arab tidak pernah gagal menyebutkan nasab bagi kabilah-kabilah Arab yang terkemuka pada zaman awal Islam. Tetapi dalam kisah Abdullah ibn Saba’, yang dikatakan berasal dari San’a Yaman, tidak dinyatakan kabilahnya. Allamah Askari yakin bahawa Ibn Saba’ dan golongan Sabai’yyah adalah satu cerita khayalan dari Sayf ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya. Walau bagaimanapun, nama Abdullah ibn Wahb ibn Rasib ibn Malik ibn Midan ibn Malik ibn Nasr al-Azd ibn Ghawth ibn Nubatah in Malik ibn Zayd ibn Kahlan ibn Saba’, seorang Rasibi, Azdi dan Saba’i adalah pemimpin Khawarij yang terbunuh dalam Peperangan Nahrawan ketika menentang Imam Ali AS.

Nampaknya kisah tokoh Khawarij ini telah diambil oleh penulis kisah khayalan itu (Sayf bin Umar at-Tamimi) untuk melukiskan pribadi khayalan yang menjadi orang pertama menyebarkan Imamah Ali AS. Nama pribadi ini tiba-tiba muncul untuk memimpin pemberontakan terhadap khalifah Uthman, menjadi dalang mencetuskan Perang Jamal, menyebarkan kesucian Ali AS, kemudian dibakar hidup-hidup oleh Ali AS atau dihalau oleh Ali AS dan tinggal dalam buangan, selepas wafat Imam Ali AS. Abdullah bin Saba’ dinyatakan sebagai penyebar ajaran kesucian Ali AS, dan Ali tidak mati melainkan akan hidup kembali. Ia digambarkan sebagai pribadi yang paling vokal dan lantang di hadapan musuh-musuh Ali AS.

Menurut Allamah Askari, perkataan Saba’iyyah adalah berasal-usul sebagai satu istilah umum untuk kabilah dari bahagian selatan Semenanjung Tanah Arab iaitu Bani Qahtan dari Yaman. Kemudian disebabkan banyak daripada pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Talib AS berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik al-Ashtar, Kumayl ibn Ziyad, Hujr ibn Adi, Adi ibn Hatim, Qays ibn Sa’d ibn Ubadah, Khuzaymah ibn Thabit, Sahl ibn Hunayf, Uthman ibn Hunayf, Amr ibn Hamiq, Sulayman ibn Surad, Abdullah Badil, maka istilah tersebut ditujukan kepada para penyokong Ali AS ini. Justru Ziyad ibn Abihi pada suatu ketika mendakwa Hujr dan teman-temannya sebagai ‘Saba’iyyah.’ Dengan bertukarnya maksud istilah, maka istilah itu juga turut ditujukan kepada Mukhtar dan penyokong-penyokongnya yang juga terdiri dari kelompok-kelompok yang berasal dari Yaman. Selepas runtuhnya Bani Umayyah, istilah Saba’iyyah telah disebut dalam ucapan Abu al-Abbas Al-Saffah, khalifah pertama Bani Abbasiyyah, ditujukan kepada golongan Syi’ah yang mempersoalkan hak Bani Abbas sebagai khalifah.

Walau bagaimanapun Ziyad maupun Al-Saffah tidak mengaitkan Saba’iyyah sebagai golongan yang sesat. Malahan Ziyad gagal mendakwa bahwa Hujr bin Adi dan teman-temannya sebagai golongan sesat. Istilah Saba’iyyah diberikan maksudnya yang baru oleh Sayf ibn Umar pada pertengahan kedua tahun Hijrah yang menggunakannya untuk ditujukan kepada golongan sesat yang kononnya diasaskan oleh tokoh khayalan Abdullah ibn Saba’.




- Source : https://islamsyiah.wordpress.com/

Minggu, 24 Juli 2016

Al-Quran Sunni-Syiah Satu; Tiada Perobahan dalam Al-Quran

kitab-suciku-al-quran.gif


Al-Kafi bukanlah kitab shahih, yang hadisnya pun sampai sekarang masih diteliti, makanya tidak bernama “Shahih Al-Kafi”. Lucunya (atau tidak lucunya) di dalam kitab Ahlus Sunnah, yang bernama Shahih Bukhari atau Shahih Muslim, juga terdapat hadis tentang perubahan Al-Quran. Bedanya, ini kitab shahih! Tentu saja shahih menurut penulisnya. Jadi di dalam Shahih Bukhari atau Muslim tidak perlu pengklasifikasian hadis, karena semuanya shahih (menurut saudara Ahlus Sunnah). Ada beberapa riwayat tahrif Al-Quran yang ada dalam kitab Ahlus Sunnah. Jadi baik Syiah maupun Ahlus Sunnah ada riwayat tahrif, bedanya yang satu shahih yang satu lagi tidak shahih (menurut masing-masing). Jadi jangan mengatakan bahwa Syiah mempunyai Quran yang berbeda, sementara di sisi lain ada juga riwayat tahrif dalam kitab shahih. Sudah saatnya berhenti bertikai. Justru kita harus mengamalkan apa yang ada di Al-Quran Al-Karim
—————————————–

Al-Quran Sunni-Syiah Satu, Tiada Perobahan dalam Al-Quran
Semakin banyak tulisan yang menyebutkan bahwa kaum Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda, hal ini menjadi salah satu alasan kafirnya Syiah dari sekian banyak tuduhan yang tidak berdasar. Tuduhan yang mengatakan bahwa kaum Syiah mempunyai Al-Quran yang berbeda sangatlah tidak adil.
Kaum Syiah meyakini tidak terjadinya tahrif di dalam Al-Quran dari zaman kapan pun sampai zaman kapan pun. Bukankah Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Hijr ayat 9, “Sungguh Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sungguh Kamilah yang menjaganya.”
Tidak dapat disangkal bahwa di dalam kitab hadis Syiah terdapat riwayat yang menyebutkan hal tersebut, namun perlu diingat bahwa kitab tersebut, Al-Kafi, bukanlah kitab hadis yang shahih, sebagaimana Shahih Bukhari atau Muslim.
Seorang ulama Syiah, Sayid Hasyim Ma’ruf Al-Hasani, pernah melakukan penelitian dan menyatakan bahwa Al-Kafi berisi 16.199 hadis; diantaranya 5.072 dianggap shahih, 144 hasan, 1128 nuwatstsa’, 302 qawiy, dan 9.480 hadis dhaif. Pengklasifikasian itu pun baru berdasarkan keabsahan sanad, belum isinya (matan).
Penolakan Tahrif (Perobahan) Al-Quran oleh Ulama Syiah
Abu Ja’far Muhammad ibn Ali ibn Husain ibn Babawaih Al-Qummiy (Ash-Shaduq): “Keyakinan kita tentang Al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yaitu ada di antara dua sisi kitab yang berada di tangan kaum Muslim dan tidak lebih dari itu. Maka barang siapa yang mengatakan bahwa kami meyakini yang lebih dari itu, pastilah orang tersebut berbuat dusta.”
Syaikh Thaifah Abu Ja’far Muhammad ibn Hasan Ath-Thusiy: “Pembicaraan tentang adanya penambahan dan pengurangan pada Al-Quran adalah sesuatu yang tidak pantas… Dan itulah yang sesuai dengan kebenaran dari mazhab kita. Itulah yang dibela Al-Murtadha (Imam Ali ibn Abi Thalib AS), yang tampak dari banyak riwayat…”
Abu Ali Thabarsi: “…Adapun tentang adanya penambahan pada Al-Quran maka hal tersebut disepakati sebagai sesuatu yang batil…”
Sayid Ibnu Thawus: “Imamiyah yakin tidak ada tahrif dalam Al-Quran.”
Syaikh Muhammad ibn Hasan Al-Hurr Al-Amiliy: “Barang siapa mau meneliti tarikh, riwayat-riwayat dan atsar, maka dia tahu dengan pasti bahwa Al-Quran telah ditetapkan pada tingkat ke-mutawatir-an yang sangat kuat, dan dengan penukilan ribuan sahabat, dan bahwa Al-Quran telah tersusun dan terkumpul rapi pada masa Rasulallah SAW.”
Syaikh Abu Zuhrah: “Sejumlah ulama besar Imamiyah yang diketuai Al-Murtadha, Syaikh Thusi, dan lain-lain menolak…”
Ayatullah Sayid Burujerdi: “Merupakan suatu kemestian logis untuk menolak (tahrif) dan kabar-kabar yang menolak kemurnian ayat Al-Quran amat sangat lemah dan bertentang dengan hadis yang pasti (qath’i) dan mesti (dharurah), malah bertentangan dengan tujuan kenabian.Kemudian, sungguh sangat mengherankan adanya sebagian orang-orang yang mempertahankan kabar angin ini, lisan maupun tulisan yang tersimpan selama lebih dari tiga belas abad, yang menyatakan bahwa ada penghapusan ayat-ayat dalam Al-Quran Al-Majid.”
Allamah Syahsyahani: “Hadis-hadis ini tidak pantas diperhatikan bila ditinjau dari segi sanadnya. Tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa ada satu ayat saja dari hadis itu yang shahih… Hadis-hadis ini bertentangan dengan hadis-hadis mutawatir yang lebih kuat, dan sesuai dengan Al-Quran, sunnah, akal sehat, dan kesepakatan.”
Imam Khomaini: “Lemah, tidak pantas berdalil dengannya.”
Dan masih banyak ulama-ulama Syiah yang menolak perubahan Al-Quran, seperti Zainuddin Al-Bayadli, Al-Muqaddas Al-Baghdadi, Kasyful-Ghitha, Sayid Muhammad Jawad Al-Balaghiy, Sayid Muhammad Thabathaba’i Bahrul-Ulum, Ayatullah Kuh Kamariy, Sayid Muhsin Al-Amin Al-Amiliy, Sayid Muhammad Mahdi Syirazy, dll. Oleh karena di dalam kitab Al-Kafi terdapat hadis yang lemah, maka juga terdapat periwayat (rawi) yang lemah. Seperti Abi Al-Jarud Ziyad ibn Mundzir As-Sarhub (pemimpin sekte Jarudiyah/Sarhubiyah), Ahmad ibn Muhammad As-Sayyari, Mankhal ibn Jamil Al-Kufi, Muhammad ibn Hasan ibn Jumhur, dll.
Itulah akidah Syiah Imamiyah terhadap Al-Quran yang tidak mengalami pengurangan atau penambahan hingga akhir zaman. Jadi apabila masih ada yang mengatakan bahwa Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda, itu merupakan hal dusta, dan lebih konyol lagi ada yang mengatakan bahwa Jibril AS salah menyampaikan wahyu yang seharusnya diturunkan kepada Imam Ali AS. Pastilah kaum Syiah akan menertawakannya.
Al-Quran yang ada di Iran pun (yang notabene mayoritas Syiah) tidak sedikit yang didatangkan/dicetak dari Beirut (Lebanon) dan Kairo (Mesir). Iran pun mengadakan MTQ Internasional yang dihadiri negara-negara Timur Tengah, bahkan kalau tidak salah Indonesia pernah mengirim wakilnya. Entah bagaimana jadinya jika Quran yang dibaca wakil Iran berbeda? Pastilah juri akan pusing menilainya…
Pernah di kampus ada seminar tentang “Dikotomi Sunni Syiah” dan tema Al-Quran Syiah pun sempat ditanyakan. Pak Miftah (sebagai pembicara dari Syiah nya) menjelaskan, “Jadi perbedaan antara Al-Quran Syiah dan (Ahlus) Sunnah hanya terletak pada jenis kertas saja. Di Iran dicetak dengan jenis kertas yang paling mahal dan di dalamnya terdapat keindahan, karena Al-Quran merupakan kalamullah.” Jadi kaum Syiah di Indonesia tidak perlu impor Quran dari Iran, karena Quran nya sama.
Hadis Perubahan Al-Quran dalam Kitab Ahlus Sunnah
Seperti yang sudah disebutkan bahwa Al-Kafi bukanlah kitab shahih, yang hadisnya pun sampai sekarang masih diteliti, makanya tidak bernama “Shahih Al-Kafi”. Lucunya (atau tidak lucunya) di dalam kitab Ahlus Sunnah, yang bernama Shahih Bukhari atau Shahih Muslim, juga terdapat hadis tentang perubahan Al-Quran. Bedanya, ini kitab shahih! Tentu saja shahih menurut penulisnya. Jadi di dalam Shahih Bukhari atau Muslim tidak perlu pengklasifikasian hadis, karena semuanya shahih (menurut saudara Ahlus Sunnah).
Tentang Surah Al-Lail
Dari Qabshah ibn Uqbah yang berasal dari Ibrahim ibn Al-Qamah. Ia berkata kepada kami: “Saya bersama pengikut Abdullah ibn Ubay datang ke Syam. Abu Darda’ yang mendengar kedatangan kami segera datang dan bertanya: ‘Adakah di antara kalian yang membaca Al-Quran?’ Orang-orang menunjuk saya. Kemudian ia berkata: ‘Bacalah!’ Maka saya pun membaca: Wal-Laili idzaa yaghsyaa, wan-nahaari idzaa tajallaa, wadzdzakraa wal-untsaa… Mendengar itu dia bertanya: ‘Apakah engkau mendengar dari mulut temanmu Abdullah ibn Ubay?’ Saya menjawab: ‘Ya.’ Ia melanjutkan: ‘Saya sendiri mendengarnya dari mulut Nabi SAW. Dan mereka menolak untuk menerimanya’.” (Shahih Bukhari, Kitab At-Tafsir, bab Surah wal-Laili idzaa yaghsyaa; pada catatan kaki As-Sanadiy, jilid III, hlm. 139; jilid VI, hlm. 21; jilid V, hlm. 35; Musnad Ahmad, jilid VI, hlm. 449, 451; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid VI, hlm. 358 dari Said ibn Manshur, Ahmad Abd ibn Hamid, Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Marduwaih, Ibn Al-Qamah, dll.) Padahal yang tertulis dalam Al-Quran sekarang adalah Wal-Laili idzaa yaghsyaa, wan-nahaari idzaa tajallaa, wamaa khalaqadzdzakraa wal-untsaa…
Ayat Rajam
Umar ibn Khaththab berkata: “Bila bukan karena orang akan mengatakan bahwa Umar menambah (ayat) ke dalam Kitab Allah, akan kutulis ayat rajam dengan tanganku sendiri.” (Shahih Bukhari, bab Asy-Syahadah ‘indal-Hakim fi Wilayatil-Qadha; Al-Itqan, jilid II, hlm. 25-26; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid I, hlm. 230; jilid V, hlm. 179 dari Imam Malik, Bukhari, Muslim, dan Ibnu Dhurais, dan hlm. 180 berasal dari Nasa’i, Ahmad, Ibnu Auf; Musnad Ahmad, jilid I, hlm. 23, 29, 36, 40, 43, 47, 50, 55; jilid V, hlm. 132, 183; Hayat Ash-Shahabah, jilid II, hlm. 12; jilid III, hlm. 449) Jadi, Umar meyakini Ayat Rajam itu ada dalam Al-Quran, tapi kenyataannya tidak ada. Tapi Umar tidak menulisnya karena takut ucapan orang-orang bahwa Umar menambah ayat. Seperti itulah yang dijelaskan As-Suyuthi dalam Al-Itqan jilid II, hlm. 26, mengutip tulisan Az-Zarkasyi: “Tampaknya penulisan ayat tersebut boleh saja. Hanya ucapan oranglah yang mencegah (Umar melakukan) hal itu… Seharusnya ayat itu dimasukkan ke dalam Al-Quran, ayat itu semestinya ditulis.” Ayat rajam ini juga pernah disebut-sebut waktu saya (pertama kali) belajar Ulumul-Quran di kampus:)
An-Naas dan Al-Falaq
Dinukil dari Ibnu Mas’ud, bahwa dia membuang Surah Mu’awidzdzatain (An-Naas dan Al-Falaq) dari mushhafnya dan mengatakan keduanya tidak termasuk Al-Quran. (Ad-Durr Al-Mantsur, jilid VI, hlm. 146; Ruhul-Ma’ani, jilid I, hlm. 24; Al-Itqan, jilid I, hlm. 79; Fathul-Bari, jilid VIII, hlm. 581)
195 Ayat Surah Al-Ahzab Hilang
Demikian riwayat dari Abdurrazaq yang berasal dari Tsauri, dari Zirr ibn Hubaisy yang berkata: “Ubay ibn Kaab telah bertanya kepada saya: ‘Berapa jumlah ayat yang kalian baca dalam surah Al-Ahzab?’ Saya menjawab: ’73 atau 74 ayat.’ Dia bertanya: ‘Hanya sebanyak itu? Pada mulanya surah tersebut sama panjangnya dengan Al-Baqarah atau lebih. Dan di dalamnya terdapat surah (ayat) rajam.’ Saya bertanya: ‘Wahai Abu Mundzir, bagaimana bunyinya?’ Dia menjawab: ‘Ayat tersebut berbunyi: Idzaa zanayaa asysyaikhu wasy-syaikhah farjamuu…’.” (Al-Itqan, jilid II, hlm. 25; Mushhanaf Abdurrazaq, jilid VII, hlm. 320; Muntakhab Kanzul-Ummal pada catatan kaki Musnad Ahmad, jilid II, hlm. 1) Ternyata ayat rajam tersebut tidak ada dalam Al-Quran, dan tampaknya sama seperti apa yang diucapkan oleh khalifah kedua bahwa ada ayat rajam.
Ada Surah seperti At-Taubah yang Hilang
Abu Harb ibn Abi Aswad meriwayatkan dari ayahnya yang berkata: “Abu Musa Al-Asyari berkunjung ke Basrah untuk menemui para qari di sana. Dia bertemu dengan 300 qari dan berkata kepada mereka: ‘Kalian adalah sebaik-baiknya penduduk Basrah dan qari mereka.’ Maka mereka membaca surah panjang seperti Al-Bara’ah (At-Taubah). Saya lupa surah tersebut. Akan tetapi beberapa ayatnya masih saya hapal, yaitu: …Law kaani li ibni Adam… Demikian pula kami pernah membaca surah mirip dengan satu surah yang diawali shabaha lillaahi. Saya telah lupa surah itu. Hanya beberapa ayatnya masih saya ingat. Di antaranya: Yaa ayyuhalladziina aamanuu limaa taquuluu… (Shahih Muslim, jilid II, hlm. 100; Al-Itqan, jilid II, hlm. 25; Al-Burhan fii Ulumil-Quran, jilid II, hlm. 43)
Ayat Radha’ah yang Hilang
Dari Ummul-Mu’minin Aisyah yang berkata: “Di antara ayat-ayat Al-Quran yang diwahyukan adalah: “‘Asyru radha’aat ma’luumaat yuharramna… (Shahih Muslim, jilid IV, hlm. 167-168; Al-Bidayatul-Mujtahid, jilid II, hlm. 36; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid II, hlm. 135)
Awal Surah At-Taubah Hilang dengan Basmalah
Dari Imam Malik: “Ketika awal surah Al-Bara’ah (At-Taubah) hilang, maka basmalah (bismillahirrahmaanirrahiim) pun hilang bersamanya. Padahal sudah pasti sebelumnya surah tersebut sama panjangnya dengan surah Al-Baqarah (Al-Itqan, jilid I, hlm. 65) Sebagaimana diketahui bersama bahwa At-Taubah merupakan satu-satunya surah yang tidak diawali dengan basmalah. Dan terlihat riwayat ini sesuai dengan riwayat sebelumnya bahwa 195 ayat surah At-Taubah hilang, sehingga panjangnya sama seperti Al-Baqarah.
Ayat Ali Mawla Mu’minin
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang berkata: “Pada masa Rasulallah kami membaca ayat yang berbunyi: Yaa ayyuharrasuul ballagh maa anzal ilayka min rabbika anna Aliyan mawlal-mu’minin wa in lam… (Ad-Durr Al-Mantsur, jilid II, hlm. 298; At-Tahmid fi Ulumil-Quran, jilid I, hlm. 261) Padahal dalam surah Al-Maidah ayat 67 tidak ada kata-kata Ali, dan kaum Syiah pun menolak adanya kalimat tersebut dalam Al-Quran.
Itulah sebagian riwayat tahrif Al-Quran yang ada dalam kitab Ahlus Sunnah. Jadi baik Syiah maupun Ahlus Sunnah ada riwayat tahrif, bedanya yang satu shahih yang satu lagi tidak shahih (menurut masing-masing). Jadi jangan mengatakan bahwa Syiah mempunyai Quran yang berbeda, sementara di sisi lain ada juga riwayat tahrif dalam kitab shahih. Sudah saatnya berhenti bertikai. Justru kita harus mengamalkan apa yang ada di Al-Quran Al-Karim, insya Allah. Mohon maaf apabila ada kata-kata kurang berkenan. [YAPI]








- Source : https://islamsyiah.wordpress.com