Sudahkah Anda Bershalawat???

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)” HR an-Nasa’i (no. 1297)

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا {56}

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. 33:56)

Ahlul Bait

مَثَلُ أَهْلِ بَيْتِي مَثَلُ سَفِيْنَةِ نُوْحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

“Perumpamaan Ahlul baitku seperti kapal nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya maka dia akan selamat dan barangsiapa yang enggan maka dia akan tenggelam (binasa).”

Selasa, 14 Juli 2015

PBB: Kekerasan Bunuh 15.000 Warga Irak sejak 2014

PBB: Kekerasan Bunuh 15.000 Warga Irak sejak 2014


 Menurut Misi Bantuan PBB untuk Irak (UNAMI) laporan, berjudul "Laporan tentang Perlindungan Penduduk Sipil dalam Konflik Bersenjata di Irak", total 14.947 warga Irak tewas sementara 29.189 lainnya terluka sejak awal 2014 sampai akhir April 2015.


Sebuah laporan baru yang dikeluarkan oleh PBB menunjukkan bahwa terorisme dan konflik bersenjata telah menewaskan hampir 15.000 warga sipil dan melukai puluhan ribu warga di Irak sejak awal tahun 2014.

Menurut Misi Bantuan PBB untuk Irak (UNAMI) laporan, berjudul "Laporan tentang Perlindungan Penduduk Sipil dalam Konflik Bersenjata di Irak", total 14.947 warga Irak tewas sementara 29.189 lainnya terluka sejak awal 2014 sampai akhir April 2015.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa situasi warga sipil di daerah yang dikuasai oleh ISIS terus memburuk.

"Warga sipil terus dibunuh, ungkapnya, menambahkan mereka yang dianggap menentang ideologi ISIS atau berafiliasi dengan pasukan pemerintah Irak akan diculik, disiksan dan dibunuh.

Laporan UNAMI lebih lanjut mencatat bahwa anggota masyarakat etnis dan agama yang berbeda di daerah yang dikuasai ISIS terus dianiaya, sebanyak 3.500 Izadi Kurdi ditahan oleh ISIS, mereka menderita kekerasan fisik dan seksual setiap hari.

ISIS juga memaksa anak-anak untuk bergabung dengan militan takfiri. Beberapa anak dibawa ke kamp-kamp pelatihan, di mana mereka diajarkan keterampilan tempur, belajar bagaimana menggunakan senapan serbu dan berbagai macam keterampilan militer lainnya, dan mereka juga menadapatkan pelajaran ideologi ekstremis.



Source : http://www.islamtimes.org

Senin, 13 Juli 2015

Adab Fathimiyah

Pertanyaan berikut ditujukan kepada Yang Mulia Ayatullah Shafi Luthfullah Gulpaygani oleh sekelompok orang mukmin:
Seraya mengucapkan takziah dan bela sungkawa atas syahidnya Sayidah Fathimah Zahra, satu-satunya putri Nabi (salam atas mereka berdua) yang menyayat hati, kami ingin menanyakansuatu masalah. Karenakita tidak tahu hari sebenarnya dari kesyahidan beliau, maka pada tanggal manakah kita harus memperingatikesyahidannya? Selain itu, apa adab tepatketika berkabung atas tragedi kesyahidan beliau?


adab-fathimiyah


Ayatullah Gulpaygani:
Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang
Memang ada riwayat yang berbeda-beda tentang kesyahidan Sayidah Fathimah Zahra. Namun ada dua tanggal dianggap paling diterima oleh kalangan ulama yaitu tanggal-tanggal yang dikenal populer sebagai Fathimiyyah Pertama (13 Jumadil Awal) dan Fatimiyyah Kedua (3 Jumadil Akhir). Kiranya lebih baik bagi orang-orang mukmin untuk mengadakan majelis duka dari tanggal 13 Jumadil Awal hingga 3 Jumadil Akhir, serta mengekspresikan cinta mereka kepada Ahlulbait yang suci (salam atas mereka) dan menahan diri dari tindakan yang tidak pantas pada hari-hari berkabung selama periode ini.
Cara terbaik untuk meratapi beliau adalah berbicara tentang kebajikan dan penderitaannya dan untuk menyampaikan contoh-contohetika dan moralnya. Secara khusus, sikap keberanian beliau dalammembela hak-hak Amirul Mukminin asharusdiingatdi setiap saat dan di sepanjang zaman.
Insya Allah, orang-orang mukmin akan mampumengungkapkanpenghormatan mereka kepada Sayidah Fathimah dengan tetap setia pada ajaran-ajaranal-Quran dan Ahlulbait. Secara khusus, kaum mukmininah harus berusaha meniru teladannya dan, pada gilirannya, memberikanperhatian khususdalam kesopanan dan kesucian sendiri.




Sumber: www. islamicinsights.com/religion/clergy-corner/the-etiquette-of-fatimiyya.html

Tata Krama Berbicara

Tata Krama Berbicara



Imam Husein as berkata kepada Abdullah bin Abbas:
“Wahai Ibnu Abbas! Jangan berbicara yang tidak ada hubungannya denganmu. Karena saya mengkhawatirkan dampaknya yang berat kepadamu. Begitu juga dengan ucapan yang ada hubungannya denganmu. Jangan katakan itu selain di tempat yang sesuai. Karena betapa banyak orang yang mengatakan kebenaran tidak pada tempatnya dan akhirnya membuatnya malu. Jangan berdebat dengan orang yang sabar dan sombong. Karena orang yang sabar akan menjauhimu dan orang sombong akan merendahkanmu. Jangan membicarakan orang yang tidak ada di tempat, kecuali omongan yang engkau dapat menerimanya ketika orang itu membicarakannya di belakangmu. Berlakulah seperti seorang hamba yang mengerti bahwa bila ia berbuat dosa maka akan mendapat azab dan bila berbuat baik maka akan mendapat pahala.” (Abu al-Fath, Muhammad bin Ali Karajiki, Kanz al-Fawaid, Qom, Entesharat Mostafavi, 1369 Hs, hal 194) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)
Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Saat Wajah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Diludahi

Di masa perang Khandaq, umat Islam pernah ditantang duel Amr bin Abd Wad al-Amiri, dedengkot musyrikin Quraisy yang sangat ditakuti. Nabi bertanya kepada para sahabat tentang siapa yang akan memenuhi tantangan ini.
  Para sahabat terlihat gentar. Nyali mereka surut. Dalam situasi ini Sayyidina Ali bin Abi Thalib maju, menyanggupi ajakan duel Amr bin Abd Wad. Melihat Ali yang masih terlalu muda, Nabi lantas mengulangi tawarannya kepada para sahabat. Hingga tiga kali, memang hanya Ali yang menyatakan berani melawan jawara Quraisy itu.

Amr bin Abd Wad menanggapinya dengan tertawa mengejek. Namun faktanya, selama perkelahian nasib mujur tetap ada di tangan Ali. Usai paha kekarnya disabet pedang, Amr bin Abd Wad pun tumbang ke tanah. Kemenagan Ali sudah di depan mata. Hanya dengan sedikit gerakan saja, nyawa musuh dipastikan melayang.

Dalam situasi terpojok Amr bin Abd Wad masih menyempatkan diri membrontak. Tiba-tiba ia meludahi wajah sepupu Rasulullah itu. Menaggapi hinaan ini, Ali justru kian pasif. Ali menyingkir dan mengurungkan niat membunuh hingga beberapa saat.

”Saat dia meludahi wajahku, aku marah. Aku tidak ingin membunuhnya lantaran amarahku. Aku tunggu sampai lenyap kemarahanku dan membunuhnya semata karena Allah SWT,” kata Ali menjawab kegelisahan sebagian sahabat atas sikapnya.

Meskipun Amr bin Abd Wad akhirnya gugur di tangan Ali, proses peperangan ini memberikan beberapa pelajaran. Perjuangan dan pembelaan Islam harus didasarkan pada ketulusan iman, bukan kebencian dan kemarahan. Sahabat Rasulullah yang kelak menjadi khalifah keempat ini juga menjernihkan bahwa spirit ketuhanan adalah satu-satunya landasan, mengalahan nafsu keinginan di balik ego pribadi dan golongan.




Source : http://www.madinatuliman.com

Sayyidina Ali dan Seorang Tua Nasrani






Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap pagi dan sore Allah SWT selalu memandang wajah orang yang sudah tua, kemudian Allah SWT berfirman: Wahai hamba-Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka.

Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Sayyidina Ali KW sedang tergesa-gesa berjalan menuju masjid untuk melakukan jamaah shubuh. Akan tetapi dalam perjalanan - di depan beliau - ada seorang kakek tua yang berjalan dengan tenang. Kemudian Sayyidina Ali memperlambat langkah kaki tidak mendahuluinya karena memuliakan dan menghormati kakek tua tersebut. Hingga hampir mendekati waktu terbit matahari barulah beliau sampai dekat pintu masjid. Dan ternyata kakek tua tersebut berjalan terus tidak masuk ke dalam masjid, yang kemudian Sayyidina Ali KW akhirnya mengetahui bahwa kakek tua tersebut adalah seorang Nasrani.

Pada saat Sayyidina Ali KW masuk ke dalam masjid beliau melihat Rasulullah SAW beserta jamaah sedang dalam keadaan ruku'. (Sebagaimana diketahui bahwa ikut serta ruku' bersama dengan imam berarti masih mendapatkan satu rakaat). Rasulullah SAW waktu itu memanjangkan waktu ruku'nya hingga kira-kira dua ruku'. Kemudian Sayyidina Ali KW ber-takbiratul ihram dan langsung ikut serta ruku'.

Setelah selesai shalat para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah tidak biasanya engkau ruku' selama ini, ada apakah gerangan? Beliau menjawab: Pada waktu aku telah selesai ruku' dan hendak bangkit dari ruku' tiba-tiba datang malaikat Jibril AS meletakkan sayapnya di atas punggungku, sehingga aku tidak bisa bangkit dari ruku'. Para sahabatpun bertanya: Mengapa terjadi demikian? Beliau menjawab: Aku sendiri pun tidak tahu.

Kemudian datanglah malaikat Jibril AS dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali waktu itu sedang bergegas menuju masjid untuk jama'ah shubuh, dan di perjalanan ada seorang kakek tua Nasrani berjalan di depannya, Ali pun tidak mengetahui kakek tua itu beragama Nasrani. Ali tidak mau mendahuluinya karena dia sangat menghormati dan memuliakan kakek tua tersebut. Kemudian aku diperintah oleh Allah SWT untuk menahanmu saat ruku' sampai Ali datang dan tidak terlambat mengikuti jama'ah shubuh. Selain itu Allah SWT juga memerintah malaikat Mikail untuk menahan matahari menggunakan sayapnya hingga matahari tidak bersinar sampai jama'ah selesai.

Demikianlah hikmah kisah teladan Sayyidina Ali KW yang sangat menghormati dan memuliakan orang yang tua walaupun beragama Nasrani. Semoga bermanfaat bagi kita semua.





Source : 

Rekomendasi Konferensi Internasional Persatuan Islam

Segala puji bagi Allah Swt, Pengatur alam semesta dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta para sahabatnya yang mulia.

Dengan inayah dan bantuan Allah Swt dan bertepatan dengan peringatan Pekan Persatuan di hari kelahiran Rasul yang mulia saw, Muhammad bin Abdillah dan Imam Ja’far ash Shadiq, Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam (FIPMI) berhasil mengadakan Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-23 pada tanggal 15-17 Rabiul Awal 1431 H/2-4 Maret 2010 M yang dihadiri 650 kaum cendekiawan Muslim dari Republik Islam Iran dan pelbagai negara Islam, termasuk Indonesia yang mengirim tiga orang utusannya. Konferensi ini membahas dengan serius tema yang diusungnya, yaitu: Islamic Ummah from Religious Pluralism to Sectarianism. Konferensi ini dibuka oleh orasi ilmiah dan komprehensif Ayatullah Hasyimi Rafsanjani, ketua Dewan Pakar dan sekaligus ketua Dewan Penentuan Kebijakan Republik Islam Iran. Para peserta konferensi kali ini juga bertemu dan beramah tamah dengan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Khamene’i dan mereka mengambil manfaat dari ceramah dan petuah yang penuh makna dan solusi dari beliau.




Konferensi ini berlangsung selama tiga hari dan menyoroti beberapa tema penting, dan di akhir pertemuan, konferensi ini melahirkan pelbagai keputusan dan pernyataan serta rokomendasi sebagai berikut:

1-Para peserta konferensi menegaskan bahwa Al-Qur’an al Karim dan sunah Rasul yang mulia saw telah menyiapkan aspek yang dibutuhkan oleh manusia dan peradaban agung bagi umat Islam dan mendorong mereka untuk memberdayakan rasionalitas dan membangun dialog yang efektif dan kebebasan berijtihad dalam ruang lingkup ketentuan syariat. Mereka sepakat untuk menjaga semangat persaudaraan dan persatuan yang begitu jelas menjadi karakter ajaran Islam bagi seluruh dunia, dan akhirnya mereka pun menilai bahwa pluralisme mazhab sebagai hal yang alami yang membawa dampak positif pada adanya beragam solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan pelbagai problema di bawah naungan ajaran syariat Islam dan prinsip-prinsipnya.

2-Konferensi menghimbau untuk diadakannya usaha di bidang penguatan prinsip-prinsip ini dan membikin sebuah pedoman guna menjamin beragam teori dan pelbagai solusi serta mengaktifkan ijtihad untuk memahami Islam dan Al-Qur’an yang mulia serta menjaga kejayaan dan gerakan peradaban Islam dan melindunginya dari pelbagai syubhah dan penyimpangan pemikiran.

3-Para peserta konferensi menegaskan bahwa umat Islam sampai sekarang masih menghadapi pelbagai problema besar. Problema ini membidik tokoh masyarakat, budaya dan unsur-unsur kekuatan yang ada serta peranan peradaban yang diharapkannya dimana semua itu rentan terhadap pelbagai konspirasi yang mengarah pada desintegrasi geografi, nasional, mazhab dan bahkan sejarah. Para musuh berusaha untuk tetap mempertahankan umat Islam dalam kemunduran sains, ekonomi, militer dll. Demikian juga musuh berupaya untuk menjauhkan umat Islam dari agama mereka dengan menumbuhkan keraguan dan ketergantungan serta kekaguman yang berlebihan terhadap Barat. Di samping itu, mereka pun menunjukkan kelemahan ajaran dan system pendidikan Islam dalam kaitannya dengan kemajuan manusia dan mereka melemahkan dakwah Islam dan pengaruhnya dengan cara menanamkan ketidakmampuan dan pengakuan terhadapnya, sehingga dengan begitu peran efektif Islam dapat mereka cegah.

4-Para peserta konferensi yakin bahwa hawa nafsu dan pelbagai motif politik dan psikologis serta menebarkan fanatisme sempit dan kejahilan sebagian pengikut mazhab berkaitan dengan hakikat mazhab lainnya adalah hal yang keluar dari ruang lingkup alaminya dan justru menjurus ke arah perpecahan yang pada akhirnya menyebabkan percekcokan dan kerengangan serta pergulatan pemikiran yang berdampak pada tindakan yang tidak diinginkan. Hal ini akan membawa dampak negative yang cukup besar terhadap kekuatan umat dan solidaritas mereka dan justru akan membuka peluang masuknya musuh untuk melakukan serangan terhadap akidah dan system teoritis dan praktisnya.

5-Para peserta konferensi meyakini—sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an dan sunah Rasul saw—bahwa Islam-lah yang mengumpulkan kaum Muslimin yang memiliki kiblat yang sama dan yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dua hal ini merupakan jaminan keselamatan jiwa, harta dan kehormatan kaum Muslimin. Mereka juga percaya bahwa pendekatan antara mazhab-mazhab Islam merupakan langkah penting dalam merealisasikan persatuan dalam pelbagai bidang. Mazhab-mazhab Islam sama-sama meyakini prinsip-prinsip keimanan dan tidak mengingkari masalah yang cukup gamblang dalam Islam. Para pengikut pelbagai mazhab merupakan satu umat Islam. Satu sama lain harus saling membantu dan masing-masing harus memikirkan keselamatan jiwa saudaranya. Sesuatu yang paling minimal untuk mereka upayakan adalah berusaha mencari kerelaan di antara mereka. Dan untuk mewujudkan tujuan agung Islam, mereka harus bekerja sama secara efektif. Tentu saja pelbagai perbedaan visi politik kiranya tidak mengiring mereka pada perselisihan akidah, sejarah atau fikih di antara mereka. Dan gerakan apapun yang menjurus pada perpecahan dan penyulutan api fitnah serta tindakan yang berbau sektarian cuma akan mendatangkan manfaat bagi musuh dan membantu lancarnya proposal perpecahan dan tipu daya mereka terhadap umat Islam serta mengukuhkan pendudukan mereka. Maka, umat Islam dengan cara apapun harus melawan rencana jahat musuh ini.

6-Untuk mewujudkan persatuan antara umat Islam dan usaha mendekatkan pelbagai pengikut mazhab Islam, para peserta konferensi menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk menghormati para pengikut mazhab lainnya, dan hendaklah mereka menyerahkan masalah-masalah yang masih diperselisihkan di tangan para ulama dan para pakar, sehingga masalah-masalah ini kiranya dapat diselesaikan secara ilmiah, tanpa ketegangan dan permusuhan. Para peserta konferensi juga menghimbau supaya masing-masing pengikut mazhab tidak berburuk sangka terhadap sesama saudaranya dan tidak menciptakan opini buruk di antara mereka. Di samping itu, para peserta konferensi juga menegaskan pentingnya para pengikut mazhab untuk tidak menghina dan menyudutkan hal-hal yang dihormati/disucikan di mazhab lainnya, khususnya tidak dibenarkannya menghina kesucian ahlul bait atau menyatakan permusuhan atau menyepelekan kedudukan mereka dengan cara apapun yang dinisbatkan kepada mereka. Peserta konferensi juga menyatakan penentangan terhadap pelbagai bentuk tindakan asusila, baik secara lisan maupun praktis dan tidak diperkenankannya menggunakan secara negative tempat-tempat suci, seperti masjid, husainiyah, makam, musala dll.

7-Mengingat pelbagai kebutuhan yang telah dipaparkan di atas, para peserta konferensi menegaskan pentingnya menyiapkan sebuah rancangan/pedoman yang terperinci guna merealisasikan hal-hal di bawah ini:
a-Meningkatkan tingkat pengetahuan kaum Muslimin di pelbagai bidang, khususnya di bidang pemahaman terhadap Islam dan ajarannya serta tujuannya dan memahami realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.
b-Menghimbau negara-negara Islam untuk melaksanakan syariat Islam dalam seluruh bagian kehidupan, seperti dalam memahami Islam dan ajarannya serta tujuan-tujuannya dan mencermati realita yang ada di pelbagai aspek dan kondisi yang terkait dengannya.
c-Mengaktifkan pelbagai gerakan pendidikan yang menyeluruh di pelbagai bagian umat yang berdasarkan ajaran Islam.
d-Berupaya mewujudkan satu sikap praktis umat Islam dalam pelbagai masalah dan merealisasikan solidaritas dan persaudaraan di tengah umat Islam dalam pelbagai bidang.
e-Memperkuat lembaga-lembaga yang memiliki kegiatan keislamanan bersama, seperti OKI (Organisasi Konferensi Islam) dan pelbagai lembaga dakwah yang tidak resmi dan sosial serta pendidikan dan media massa.
f-Memanfaatkan secara baik pelbagai potensi politik, ekonomi, geografi dan kapasitas keilmuan umat Islam guna merealisasikan tujuan-tujuan besar dan berjuang menghadapi pelbagai problema.
g-Membantu minoritas umat Islam yang terdapat di pelbagai penjuru dunia.
h-Melakukan usaha serius guna menerapkan proposal dunia Islam di bidang HAM (hak asasi manusia) yang dikeluarkan oleh OKI dalam rangka menjaga identitasnya dan melaksanakan ritual mazhab mereka.
i-Menegaskan peran umat Islam dalam membangun masa depannya dan pertisipasi aktif mereka dalam pembangunan diri dan system kehidupan internalnya serta laju peradaban manusia.
j-Mendidik generasi Islam dalam budaya, perjuangan dan kemuliaan.

8-Para peserta konferensi mengecam segala bentuk agresi rezim Zionis terhadap bangsa Palestina yang sabar dan yang rela berkorban, utamanya tindakan buas dan membabi buta mereka terhadap rakyat Gaza yang tangguh dan pejuang, seperti pembunuhan massal dan pengusiran ribuan orang yang tak bertempat tinggal, begitu juga perusakan terhadap Baitul Maqdis dan tindakan mereka akhir-akhir ini yang berusaha memasukkan Haram Ibrahim dan Masjiid Bilal dalam warisan budaya Yahudi. Para peserta konferensi menuntut supaya tindakan Zionis ini dijegah. Mereka memuji dan mendoakan kesuksesan perlawanan bangsa Palestina. Mereka mendukung perdamaian dan persatuan di antara pelbagai kelompok Palestina dan menegaskan kembali hak bangsa Palestina untuk mendapatkan hak sah mereka dimana yang paling penting adalah hak mereka dalam menentukan nasib mereka sendiri, seperti hak mereka dalam membangun negara independen di tanah airnya dengan ibu kota Baitul Maqdis dan mereka juga berhak untuk kembali ke rumah dan tanah mereka. Para peserta konferensi menuntut PBB supaya memperhatikan laporan Goldstone yang sampai di tengan mereka berkaitan dengan kejahatan perang kaum Zionis dan supaya para pelakunya diseret ke meja hijau dan mereka harus diadili karena kejahatan perang dan tindakan tak manusiawi.

9- Para peserta konferensi mendukung supaya segala potensi yang ada di Somalia digunakan di bidang dialog dan kerja sama guna membangun Somalia baru dan masa depannya tanpa ada kekerasan dan pembunuhan, dan mereka juga mendukung segala bentuk usaha positif di bidang ini.

10- Para peserta konferensi mendoakan kesuksesan negara Republik Islam Iran dan para pejabatnya yang telah berusaha sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat Islam dalam pelbagai bidang kehidupan dan mereka mengecam segala usaha yang mencoba mengganggu dan melemahkan Iran. Mereka mendukung sepenuhnya program nuklir damai Iran dan mengecam segala usaha yang mengahalangi Iran untuk memiliki hak sahnya secara undang-undang internasional dan mereka meminta dunia Islam supaya belajar dari pengalaman Iran di bidang ini.

11- Para peserta konferensi mengucapkan terima kasih kepada Republik Islam Iran dan pimpinan mereka, Imam Khamene’i, begitu juga mereka berterima kasih terhadap FIPMI (Forum Internasional Pendekatan Mahab Islam) atas usahanya menyelenggarakan konferensi ini yang penuh dengan berkah dan mereka yakin bahwa diadakannya konferensi seperti ini akan membawa kebaikan dan keberkahan bagi umat Islam.




Dan akhirnya, semoga sholawat dan salam Allah Swt tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarga sucinya serta sahabatnya yang mulia.

Syiah Tidak Pernah Mengkafirkan Sahabat Nabi

 





 Ayatullah Jaafar Subhani salah seorang Marji’ Taqlid terkemuka menyatakan, “Syiah tidak pernah mengkafirkan para sahabat, bahkan mencintai dan menghormati mereka. Namun kami tidak menganggap mereka semua adil.”

Ayatullah Jaafar Subhani dalam kuliah tafsir surah al-Hasyr di Madrasah ‘Ali Fiqh mendedahkan, “Hanya orang yang tidak berpelajaran sahaja yang menganggap sahabat Nabi bersikap adil dari awal sampai akhir hayat mereka, atau mengatakan riwayat daripada mereka itu muktabar. Meskipun Syiah memberi penghormatan kepada mereka, ini bukanlah alasan untuk menutup mata dan memuktabarkan riwayat daripada sahabat.” Beliau menambah, tidak seperti fitnah yang tersebar luas, Syiah juga mengasihi mereka namun sebahagian pembohongan menuduh Syiah mengkafirkan sahabat.”

“Kekafiran dan keadilan adalah dua masalah entiti yang berbeza dan tidak boleh kedua-duanya dicampur adukkan. Pada pandangan Syiah dikalangan sahabat lebih dari 70 peratus mereka itu bertaqwa dan berlaku adil, namun sebilangan daripada mereka ada juga bersikap tidak adil. Tidak adil dan kafir sangat jauh bezanya.”

“Bagaimana mungkin Syiah mengkafirkan semua sahabat sedangkan lebih 150 orang daripada kalangan mereka itu adalah pengikut Ali (as). Oleh itu hendaklah mereka yang membuat tuduhan itu takut kepada Allah dan tidak berdusta lagi.” tambah beliau.

Berkenaan riwayat-riwayat Ahlusunnah seperti di dalam Sahih Bukhari beliau mengatakan, “Dalam kitab Sahih Bukhari sebahagian riwayat menunjukkan kemurtadan para sahabat. Syiah menganggap kemurtadan ini adalah berpaling dari kepimpinan, bukannya keluar dari Islam. Oleh itu barangsiapa yang membuat tuduhan liar terhadap Syiah, mereka itu dikira tidak berpelajaran.”

Merujuk kepada beberapa peristiwa bersejarah tentang ketidak adilan sebahagian para sahabat, ulama tafsir ini menjelaskan, “Sejarah menunjukkan bahawa sahabat Nabi beberapa kali mengingkari baginda dan banyak ayat telah turun untuk memberi hidayat dan menghalang mereka dari kesesatan dan kefasikan yang mana teladan itu dapat disaksikan dalam surah al-Hasyr.”

Ayatullah Subhani menegaskan, “Sebahagian khutbah Nabi dan peperangan setelah wafat baginda seperti perang Jamal, Nahrawan dan….. perkara ini membuktikan sebahagian para sahabat terjebak seperti apa yang dirisaukan baginda dan gugurlah keadilan dari mereka itu.”

Menurut beliau lagi, “Allah (swt) mendifinisikan sifat dan ciri-ciri para sahabat di dalam berbagai ayat, namun jelas sekali definisi itu tidaklah meliputi semua sahabat namun kebanyakan daripada mereka termasuk di dalamnya.”

“Maksud ayat-ayat seperti ini ialah sahabat hakiki yang memiliki sifat dan personaliti seperti ini sahaja, bukan bermaksud pakaian keadilan dan kesucian dibusanakan ke tubuh semua sahabat.” menurut beliau lagi.




Source : http://ahlulbaitnabisaw-sejarah.blogspot.com