Minggu, 24 Juli 2016
PERAN MA’RIFAT DALAM MENCAPAI KESEMPURNAAN
19.34
Ahlul Bayt, Info Lainnya, Inspiratif, Lainnya, Madzhab, Persatuan Madzhab, Sejarah, Sunni dan Syiah, Syiah, Syiah dan Sunni, Tentang Lainnya, Ukhuwah
No comments
Dilihat dari sisi definisi, ibadah berbeda dengan ma’rifat. Namun, jika kita lihat hubungan keduanya, maka kita akan dapat menilai eratnya hubungan itu, karena bagaimana mungkin kita akan beribadah kepada Zat yang tidak kita kenal, dan mungkinkah kita merasa sudah mengenal Zat Mahasempurna, yang selayaknya disembah dan harus kita tuju untuk kesempurnaan jiwa kita, sementara kita tidak melakukan ibadah kepada-Nya, padahal kita tahu bahwa kesempurnaan jiwa mustahil dicapai tanpa ibadah.
————————————————————————————-
PERAN MA’RIFAT DALAM MENCAPAI KESEMPURNAAN
Oleh: Muchtar Luthfi
“…Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Q.S. Az-Zumar:9)
Landasan utama kesempurnaan setiap individu ataupun suatu komunitas terletak pada kualitas ma’rifat (pengetahuan) dan pola fikir mereka. Kesempurnaan tersebut tidak mungkin terealisasi secara utuh tanpa didukung kualitas pengetahuan yang tinggi.Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu dan pengetahuan. Pesan Islam tentang pentingnya peningkatan intelektual dan keilmuan akan banyak kita dapati di berbagai rujukan tradisional yang tidak terhitung jumlahnya. Sebagai contoh, hadis yang berbunyi,: “Tafakur sesaat lebih utama dibanding ibadah tiga puluh tahun.”
Sedemikian tinggi nilai ma’rifat di mata Islam, sehingga ia dikategorikan sebagai paling mulianya ibadah, yang jika dibandingkan dengan ibadah sekian puluh tahun lamanya dan tanpa didasari ilmu dan ma’rifat, maka ia jauh lebih baik dari pada ibadah tersebut.
Allah swt dalam al-Quran menjelaskan bahwa salah satu fungsi diutusnya rasul adalah untuk meningkatkan kualitas keilmuan dan pola fikir manusia, ” ….dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah ….” (Q.S. Jum’ah : 2).
Dalam pandangan Islam, kualitas sebuah perbuatan bisa diukur dari tingkat ma’rifat si pelakunya. Jika pelaku tidak melandasi perbuatannya dengan pengetahuan atau ma’rifat, perbuatannya itu tidak bernilai sama sekali. Dengan kata lain, tingkat kualitas suatu tindakan ditentukan sesuai dengan derajat ma’rifat pelakunya. Semakin tinggi derajat ma’rifat seseorang, semakin tinggi pula kualitas perbuatannya, meskipun perbuatan itu secara lahiriah nampak remeh, sebagaimana yang ditegaskan dalam riwayat “Tidurnya orang alim adalah ibadah.”
Di sisi lain, penekanan Islam dalam pengutamaan kualitas ibadah dibanding kuantitasnya sangat mencolok, seperti yang kita amati dari ayat 2 surat Al-Mulk: “… supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya… “
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah swt lebih menekankan amal yang terbaik, bukan yang terbanyak. Jelas bahwa amal terbaik adalah amal yang dilandasi dengan ma’rifat.
Imam Abu Ja’far a.s. bersabda, “Wahai anakku! Ketahuilah bahwasanya derajat syiah (pengikut) kita akan sesuai dengan kadar ma’rifat mereka karena aku pernah melihat di dalam “Kitab Ali” (Mushaf Ali) tertulis bahwa nilai kesempurnaan seseorang ditentukan oleh kadar ma’rifat-nya” (Ma’ani al-Akhbar).
Tentu saja, riwayat ini sama sekali tidak bertentangan dengan ayat yang mengatakan, “… Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu …” (Q.S. Al-Hujurat : 13) karena kalau ditelusuri lebih dalam lagi kita akan ketahui bahwa ketakwaan diperoleh berkat amal saleh dan amal saleh sendiri tidak akan lahir kecuali dari sumber keimanan, sedangkan keimanan ini mustahil dicapai tanpa landasannya, yaitu ma’rifat.
Ringkasnya, ketakwaan tidak mungkin didapati kecuali dengan ilmu dan ma’rifat. Di samping itu, kemuliaan manusia yang dinilai dengan ketakwaannya, juga dinilai dengan sumber ketakwaannya tersebut; yaitu ma’rifat.
Maka, betapa besar perhatian dan penekanan ajaran Islam terhadap nilai ilmu dan ma’rifat, sebagaimana yang ditegaskan firman Allah swt dalam hadis qudsi berikut ini: “Aku ibarat harta yang terpendam, maka Aku senang untuk diketahui. Oleh karena itu, Kuciptakan makhluk agar diriku diketahui” (Bihar al-Anwar).
Penciptaan makhluk yang ada di alam semesta ini, khususnya manusia yang memiliki berbagai potensi, adalah untuk ber-ma’rifat kepada Allah yang merupakan tujuan utama penciptaan. Imam Ja’far Shadiq a.s. dengan menukil riwayat dari kakek beliau, Imam Ali Zaenal Abidin a.s. menafsirkan kata “al-Ibadah” yang tercantum dalam ayat “Tidaklah Kucipta-kan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Q.S Al-hujarat : 13), bersabda, “Wahai para manusia! Sesung-guhnya Allah swt tidak menciptakan hamba-hamba-Nya kecuali untuk mengenal (ber-ma’rifat) kepada-Nya” (Biharul Anwar).
Jelas, dilihat dari sisi definisi, ibadah berbeda dengan ma’rifat. Namun, jika kita lihat hubungan keduanya, maka kita akan dapat menilai eratnya hubungan itu, karena bagaimana mungkin kita akan beribadah kepada Zat yang tidak kita kenal, dan mungkinkah kita merasa sudah mengenal Zat Mahasempurna, yang selayaknya disembah dan harus kita tuju untuk kesempurnaan jiwa kita, sementara kita tidak melakukan ibadah kepada-Nya, padahal kita tahu bahwa kesempurnaan jiwa mustahil dicapai tanpa ibadah.
Imam Ali a.s. dalam Nahjul Balaghah membuka khutbah pertamanya dengan ucapan, “Awal agama adalah mengenal-Nya.” Maka, awal yang harus diraih seorang hamba dalam ber-ma’rifat adalah pengetahuan tentang penciptanya yang melahirkan suatu keyakinan. Ia tidak akan mencapai suatu keyakinan tanpa pengetahuan.
Lawan ma’rifat adalah taqlid. Kata ini berarti mengikuti ucapan seseorang tanpa landasan argumen. Maka, taqlid tidak dikategorikan sebagai ilmu. Ia sama sekali tidak akan meniscayakan keyakinan.
Sehubungan dengan ma’rifatullah dalam pandangan Islam, khususnya mazhab Ahlul Bayt, setiap manusia harus meyakini keberadaan Allah swt dengan berbagai konsekuensi ketuhanan-Nya, karena keyakinan tidak mungkin muncul tanpa landasan ilmu dan argumen. Oleh karena itu, Islam melarang taqlid dalam masalah ini.
Tentu saja, manusia tidak mungkin ber-ma’rifat dan mengenal Zat Allah SWThaqqu ma’rifatih (secara utuh dan sempurna), sebagaimana yang dibuktikan oleh akal. Karena, bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas (makhluk) dapat mengetahui dan menjangkau zat yang tidak terbatas (al-Khaliq) dari berbagai sisi-Nya. Oleh sebab itu, rasul sebagai makhluk yang paling sempurna pernah bersabda dalam penggalan munajatnya, “Wahai Tu-hanku, diriku takkan pernah mengetahui-Mu sebagaimana mestinya.”
Hal ini tidak berarti kita bebas dari kewajiban1 mengenalnya2, Imam Ali a.s. pernah menegaskan, “Allah swt tidak menyingkapkan hakikat sifat-Nya kepada akal, kendati Dia pun tidak menggugurkan kewajibannya untuk mengenal diri-Nya” (Nahjul Balaghah).
Setiap ilmu dan ma’rifat, khususnya ma’rifatullah, yang dimiliki oleh setiap individu ataupun suatu komunitas sangat berpengaruh pada perilaku moral dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita bisa bandingkan mereka yang meyakini pandangan dunia Ilahi dengan mereka yang menganut pandangan dunia materialis. Kelompok kedua ini menganggap bahwa kehidupan manusia tidak memiliki kepastian dan kejelasan tujuan yang harus ditempuh, anggapan yang bermuara dari keyakinan bahwa kebermulaan alam ini dari shudfah (kebetulan), sehingga mereka melihat bahwa kematian merupakan titik akhir dari kehidupan dan manusia menjadi tiada hanya dengan kematian. Kematian itu akan menghadang setiap orang tanpa pandang bulu, zalim maupun adil, berbudi luhur maupun tercela.
Maka, ketika anggapan-anggapan tersebut menjadi dasar pengetahuan, sekaligus menjadi dasar keyakinan, mereka hidup sebagai hedonis yang selalu berlomba untuk mencari segala bentuk kenikmatan duniawi dan menganggapnya sebagai kesempurnaan sejati yang harus dicari oleh setiap orang, sebelum ajal mencengkeram mereka. Menurut mereka, tidak ada sesuatu yang lebih sakral dibanding kenikmatan hidup ini, dan nilai-nilai moral seseorang akan terus berubah seiring dengan perubahan situasi dan kondisi dunia dengan berbagai atributnya, sehingga standar etika mereka adalah segala hal yang berkaitan dengan prinsip materialisme dan hedonisme.
Berbeda dengan pandangan agama samawi, khususnya Islam. Bertolak dari prinsip tauhid3 muncullah keyakinan-keyakinan, seperti adanya tujuan-tujuan pasti yang tak pernah sia-sia di balik penciptaan alam semesta ini, termasuk penciptaan manusia, sebagaimana firman Allah SWT, “Apakah engkau menyangka bahwa telah kami ciptakan dirimu (manusia) dengan kesia-siaan, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (Q.S. Al-Mu’minun : 115)
Oleh karena itu, kematian menurut mereka bukanlah akhir dari kehidupan. Sebaliknya, ia lebih merupakan gerbang awal dari kehidupan abadi. Maka, suatu keniscayaan bagi Allah swt Zat yang Maha adil dan Maha tahu akan setiap gerak perilaku makhluk-Nya, untuk menjadikan suatu alam selain alam dunia ini sebagai tempat pertanggung-jawaban atas setiap perbuatan manusia selama masa hidupnya di dunia.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa hanya Allah swt satu-satunya Zat yang Mutlak dari berbagai sifat kesempurnaan, sehingga jika kita dapati kebaikan dan keindahan di alam fana ini, maka itu merupakan bentuk manifestasi (penjelmaan) kebaikan dan keindahan-Nya.
Yang dimaksud dengan “manusia sempurna” adalah suatu derajat di mana manusia telah mampu mencapai bentuk penjelmaan sifat-sifat Ilahi dalam dirinya, sekaligus berhasil menjauhkan diri dari berbagai sifat yang harus dijauhkan dari sifat-sifat Allah swt. Hal inilah yang selalu dianjurkan oleh Rasul dalam sabda beliau: “Berakhlaklah dengan akhlak Allah.“
Dalam konteks ibadah4 sehari-hari, kita selalu dianjurkan berniat untuk taqarrub, yaitu mendekatkan diri kepada-Nya. Taqarub di sini mengisyaratkan pada tasyabbuh (penyerupaan diri dengan sifat-sifatNya). Semakin bertambah kualitas dan kuantitas manisfestasi sifat-sifat kesempurnaan Ilahi dalam diri asyiq (seorang pecinta Tuhan), niscaya ia semakin dekat dengan ma’syuq-nya (kekasih), begitu pula sebaliknya. Jika manifestasi itu minim dan pudar, atau bahkan tidak ada sama sekali, ia akan selalu jauh dari penciptanya.
Berbicara tentang penyerupaan sudah menjadi hal yang wajar bagi seseorang mencintai sesuatu. Ia akan selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang mengingatkan dirinya kepada kekasihnya seperti; meniru gaya hidup, mencintai apa yang dicintai kekasihnya dan seterusnya. Begitu juga jika ia membenci sesuatu, maka ia selalu berusaha untuk melupakan dan menjauhkan diri dari apa yang ia benci. Demikian pula yang dialami oleh pecinta Ilahi.
Perlu ditekankan bahwa jauh-dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya bukan berupa jarak materi, tapi merupakan tingkat manifestasi sifat-sifat Ilahi pada diri hamba tersebut, karena kesempurnaan Ilahi tidak teratas, sementara manusia diliputi oleh berbagai macam keterbatasan. Oleh sebab itu, perjalanan untuk liqa’ (bertemu) dengan Allah swt5 pun tidak berbatas.
Untuk sampai dan bertemu dengan Tuhannya, para salik akan melalui banyak rintangan, berupa hijab (tabir-tabir penghalang) yang harus ia singkirkan untuk sampai pada tujuan yang dia rindukan. itu semua perlu usaha optimal, baik berupa pengetahuan yang bersifat teoritis ataupun aplikatif nyata. Karena, tanpa pengetahuan yang maksimal, suluk seorang hamba tidak akan bisa terwujud. Bekal ilmu seorang salik yang terbatas akan menjauhkan diri dari tujuannya. Imam Shadiq a.s. bersabda, “Seorang pelaku perbuatan tanpa landasan pengetahuan ibarat berjalan di luar jalur yang akan ditempuh. Semakin cepat ia bergerak, tidak akan menambah (cepat sampai tujuan), akan tetapi malah semakin menjauh (dari tujuan).” (Ushul al-Kafi)
Kegagalan perjalanan seorang hamba dalam mencapai tujuannya disebabkan oleh bekal pengetahuan yang tidak cukup, karena pengetahuan yang minim menyebabkan kerancuan memilah baik dari buruk, keyakinan yang benar dari yang salah, juga niat yang tulus dari yang tercemar oleh syirik atau bisikan setan; memperdaya dan menipu dengan berbagai angan dan khayalan, sehingga menerjang apa yang harus dihindari dan meninggalkan apa yang harus dilakukan. Maka, bagaimana mungkin seorang hamba yang rindu bertemu dengan kekasih sejatinya dan mendapatkan keridhoan-Nya, sementara ia menempuh jalan yang tidak diridhai, bahkan dibenci oleh sang kekasih.
Seperti yang telah kita ketahui ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah. Ilmu tidak akan memberi manfaat apapun bila tidak diamalkan. Allah swt berfirman dalam surat Al-Jatsiah ayat 23, “Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya.” Ayat ini menjelaskan bahwa ilmu tidak menjamin orang untuk mendapatkan hidayah (petunjuk). Sedangkan penyesatan yang dilakukan oleh Allah swt terhadap orang yang berilmu tadi, hanya karena ketaatan mereka kepada hawa nafsu dan ketidaksesuaian amal mereka dengan pengetahuannya.
Allamah Thabatha’i r.a. dalam tafsir al-Mizan dalam mengomentari ayat di atas menjelaskan bahwa pertemuan ilmu –tentang jalan yang harus ditempuh– dengan kesesatan bukan suatu kemustahilan. Bukankah Allah swt berfirman, “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka sungguh meyakini kebenarannya” (an-Naml:14)..
Tidak ada konsekuensi antara ilmu dan hidayah atau antara kejahilan dan kesesatan. Akan tetapi, petunjuk (hidayah) merupakan penjelmaan ilmu di mana si empunya (alim) selalu komitmen dengan ilmunya, namun jika tidak, maka kesesatan akan menimpanya walaupun ia berilmu.
Dalam kehidupannya, terkadang manusia melupakan apa yang disebut dengan maslahat universal yang harus ia raih, sehingga ia lebih mengedepankan maslahat7 semu di depan matanya dibanding
maslahat jangka panjang yang hakiki. Dalam meraih hal semu tersebut tak jarang ia menggunakan dengan cara-cara yang bertentangan dengan perintah Allah dan lebih mengikuti hawa nafsunya, “Terangkan kepadaku tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya…” (Q.S. Al-furqan : 43).
Oleh karena itu, dalam menuju kesempurnaan abadi dan maslahat hakiki, selain diperlukannya ma’rifat sebagai pondasinya, juga tarbiyah yang dalam bahasa al-Quran disebut tazkiyah (penyucian diri) sebagai salah satu fungsi diutusnya rasul, “…Yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkannya ….” (Q.S. Al-jum’ah : 2). Tazkiyah inilah sebagai pilar utama dari tegaknya bangunan kesem-purnaan jiwa manusia.
Semoga Allah swt selalu memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua dengan perantara Rasul dan keluarga suci beliau. Amin.
Daftar pustaka:
1. Asykewari. Mabani-e nazari wa amali-e ahlaq.
2. Jawad Amuli. Tafsir-e maudhu’i.
3. Allamah Thaba’thaba’i. Tafsir Al-mizan.
4. Syuja’i. Maqolaat.
________________________________________
1. Wajib mengenal Allah telah ditetapkan oleh argumen akal ataupun nash Islami ( Al Quran dan hadis) sebagaimana tercantum dalam pembahasan akidah. Bagi ikhwan yang ingin menelaah argumen-argumen tersebut bisa merujuk pada buku-buku dan bahasan-bahasan tentang akidah.
2. Ada satu kaidah yang berbunyi, “Apa yang tidak bisa diketahui semuanya jangan ditinggal semuanya.”
3. Khususnya dalam pembahasan “tauhid fil hakimiyah” (salah satu topik dalam akidah).
4. Ibadah yang dimaksud di sini lebih umum dari bentuk peribadatan seperti salat, puasa, haji dan seterusnya, tapi mencakup perilaku kita sehari-hari.
5. Yang dimaksud “bertemu dengan Allah” ialah dikarenakan Dia hadir dalam setiap tingkatan (maqam) kesempurnaan yang dilalui oleh setiap musafir Ilahi dan dalam setiap maqam itulah sang musafir mendapati penampakkan (tajalliat) perwujudan Ilahi. Tentu dengan kadar dan tingkatan yang berbeda-beda. Jadi yang dimaksud dengan bertemu dengan Allah bukanlah sampainya tujuan akhir bagi sang musafir, karena Allah Zat yang tidak berawal dan berakhir.
6. Hal tersebut karena ia telah diperbudak nafsu dan setan : “Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah swt melainkan dalam keadaan musyrik.” (Q.S. Yusuf : 106)
7. Pada hakekatnya bukan maslahat tapi mafsadah yang telah dihiasi oleh setan seakan-akan adalah maslahat.
- Source : https://islamsyiah.wordpress.com
Penciptaan Bumi Dan Langit Serta Kelahiran Adam
19.18
Ahlul Bayt, Info Lainnya, Inspiratif, Kisah, Lainnya, Madzhab, Nahjul Balaghah, Persatuan Madzhab, Sejarah, Sunni dan Syiah, Syiah, Syiah dan Sunni, Tentang Lainnya, Ukhuwah
No comments

Khotbah No 1 dari Kitab Nahjul Balaghah:
Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tak dapat diuraikan oleh para pembicara, yang nikmat-nikmat-Nya tak terhitung oleh para penghitung, yang hak-hak-Nya (atas ketaatan) tak dapat dipenuhi oleh orang-orang yang berusaha menaati-Nya; orang yang tinggi kemampuan akalnya tak dapat menilai, dan penyelam pengertian tak dapat mencapai-Nya; la yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. la mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu.
Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya.
Barangsiapa mengatakan “dalam apa la berada”, (berarti) ia berpendapat bahwa la bertempat, dan barangsiapa mengatakan “di atas apa la berada” maka ia beranggapan bahwa la tidak berada di atas sesuatu lainnya.
la Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. la ada tetapi bukan dari sesuatu yang tak ada. la bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. la berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. la berbuat tetapi tanpa konotasi gerakan dan alat. la melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. la hanya Satu, sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang dengannya la mungkin bersekutu atau yang mungkin la akan kehilangan karena ketiadaannya.
Tentang Penciptaan Alam
la memulai penciptaan dan memulainya secara paling awal, tanpa mengalami pemikiran, tanpa menggunakan suatu eksperimen, tanpa melakukan suatu gerakan, dan tanpa mengalami kerisauan. la memberikan waktunya pada segala sesuatu, mengumpulkan variasi-variasinya, memÂÂberikan kepadanya sifat-sifatnya, dan menetapkan corak wajahnya dengan mengetahuinya sebelum menciptakannya, menyadari sepenuhnya batas-batasnya dan kesudahannya, dan menilai kecenderungan dan kerumitannya.
Ketika Yang Mahakuasa menciptakan lowongan-lowongan atmosfer, mengembangkan ruang angkasa dan lapisan-lapisan angin, la mengalirkan ke dalamnya air yang ombak-ombaknya membadai dan yang gelombang-gelombangnya saling melompati. la memuatnya pada angin yang kencang dan badai yang mematahkan, memerintahkannya untuk mencurahkannya kembali (sebagai hujan), memberikan kepada angin kendali atas kekuatan hujan, dan memperkenalkannya dengan batasan-batasannya. Angin meniup di bawahnya sementara air mengalir dengan garang atasnya.
Kemudian Yang Mahakuasa menciptakan angin dan membuat gerakannya mandul, mengekalkan posisinya, mengintensifkan gerakannya dan menyebarkannya menjauh dan meluas. Kemudian la memerintahkan angin itu membangkitkan air yang dalam dan mengintensifkan gelombang laut. Maka angin mengocoknya sebagaimana mengocok dadih dan mendorongnya dengan sengit ke angkasa dengan melemparkan posisi depannya di belakang, dan yang berdiam pada yang terus mengalir, sampai permukaannya terangkat dan permukaannya penuh dengan buih. Kemudian Yang Mahakuasa mengangkat buih ke angin yang terbuka dan cakrawala yang luas dan membuat darinya ketujuh langit dan menjadikan yang lebih rendah sebagai gelombang yang berdiam dan yang di atas sebagai atap yang melindungi dan suatu bangunan tinggi tanpa tiang untuk menopang atau paku untuk menyatukannya. Kemudian la menghiasinya dengan bintang-bintang dan cahaya meteor dan menggantungkan padanya matahari dan bulan yang bercahaya di bawah langit yang beredar, langit yang bergerak dan cakrawala yang berputar.
Tentang Penciptaan Malaikat
Kemudian la menciptakan rongga-rongga di antara langit-langit yang tinggi dan mengisinya dengan segala golongan malaikat-Nya. Sebagian dari mereka dalam bersujud dan tidak bangkit berlutut. Yang lain-lainnya dalam posisi berlutut dan tidak berdiri. Sebagian dari mereka dalam keadaan berbaris dan tidak meninggalkan posisinya. Yang lain-lainnya sedang memuji Allah tanpa menjadi lelah. Tidurnya mata atau tergelincirnya akal, atau kelelahan tubuh atau kelupaan tidak menimpa mereka.
Di antara mereka ada yang bekerja sebagai pembawa risalah-Nya yang terpercaya, yang merupakan lidah-lidah berbicara untuk para nabi-Nya, dan mereka ini yang membawa kesana kemari perintah-perintah dan suruhan-Nya. Di antara mereka ada para pelindung makhluk-makhluk-Nya dan pengawal pintu surga. Di antara mereka ada yang langkah-langkahnya tetap di bumi tetapi lehernya menjulang ke langit, anggota badan mereka keluar dari segala sisi, bahu mereka sesuai dengan tiang-tiang ‘Arsy Ilahi, mata mereka tertunduk di hadapannya, mereka membentangkan sayap-sayapnya dan mereka membuat di antara sesama mereka dan semua yang selainnya tirai kehormatan dan layar kekuasaan. Mereka tidak memikirkan Pencipta mereka melalui khayal, tidak memberikan kepada-Nya sifat-sifat makhluk, tidak membataskan-Nya dalam suatu tempat kediaman dan tidak menunjuk kepada-Nya melalui gambaran.
Gambaran tentang Penciptaan Adam
Allah mengumpulkan lempung tanah yang keras, lembut, manis dan asam, yang dicelupkan-Nya ke dalam air dan mengadoninya dengan uap lembab sampai itu menjadi rekat. Darinya ia membuat patung dengan lekukan-lekukan, persendian, anggota dan bagian-bagian. la memadukannya sampai ia mengering untuk waktu tertentu dan jangka waktu yang diketahui. Kemudian la meniupkan ke dalamnya Ruh-Nya sehingga ia mengambilpola manusia dengan pikiran yang mengaturnya, kecerdasan yang digunakannya, anggota badan yang melayaninya, organ-organ yang merigubah posisinya, kebijaksanaan yang membedakan antara yang benar dan salah, rasa dan bau, warna dan jenis. la adalah suatu campuran antara lempung berbagai warna, bahan-bahan rekat, yang berlawanan, yang aneka ragam dan sifat-sifat yang berbeda seperti panas, dingin, lembut dan keras.
Kemudian Allah menyuruh kepada malaikat untuk memenuhi janji-Nya dengan mereka dan memenuhi janji menaati perintah-Nya kepada mereka dengan pengakuan kepada-Nya melalui sujud kepada-Nya dan tunduk kepada kedudukannya yang mulia. Maka Allah berfirman, “Tunduklah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun tunduk kecuali iblis.” (QS. 2:34; 7:11; 17:61; 18:50; 20:116). Kesombongan mencegah dia dan keburukan mengalahkannya. Maka ia membangga-banggakan penciptaannya sendiri (yang) dari api dan bersikap menghina ciptaan dari lempung. Maka Allah memberikan waktu kepadanya agar ia sepenuhnya patut menerima kemurkaan-Nya, dan melengkapi ujian (pada manusia) dan untuk meÂÂmenuhi janji (yang telah diberikan-Nya kepada iblis). Maka la berkata, “Sesungguhnya engkau telah diberi waktu sampai pada hari yang diketahui. ” (QS. 15:37-38; 38:81) Setelah itu Allah menempatkan Adam di suatu rumah di mana la membuat kehidupannya senang dan kediamannya aman, dan la memperingatkannya supaya berhati-hati terhadap iblis dan musuhnya. Lalu musuhnya (iblis) merasa iri atas tinggalnya di surga dan hubungan-hubungannya dengan yang bajik. Maka ia pun mengubah keyakinannya menjadi goyah, dan tekadnya menjadi lemah. Dengan demikian ia mengubah kebahagiaan Adam menjadi ketakutan, dan martabatnya menjadi sesal dan malu. Kemudian Allah memberikan kepada Adam kesempatan untuk bertaubat, mengajarkan kepadanya kata-kata dari Rahmat-Nya, menjanjikan kepadanya untuk kembali ke surga-Nya dan mengirimkannya ke tempat percobaan dan perkembangbiakan keturunan.
Allah Memilih Para Nabi-Nya
Dari antara keturunannya, Allah Yang Mahasuci memilih nabi-nabi dan mengambil janjinya untuk wahyu-Nya dan untuk menyampaikan risalah-Nya sebagai amanat mereka. Dalam perjalanan waktu, banyak orang menyelewengkan amanat Allah dan mengabaikan kedudukan-Nya, dan mengambil serikat bersama-Nya. Iblis memalingkan mereka dari mengenal-Nya dan menjauhkan mereka dari menyembah kepada-Nya. Kemudian Allah mengutus rasul-rasul-Nya dan serangkaian nabi-Nya kepada mereka agar mereka memenuhi janji-janji penciptaan-Nya, untuk mengingatkan kepada mereka nikmat-nikmat-Nya, untuk berhujah kepada mereka dengan tablig, untuk membukakan di hadapan mereka kebajikan-kebajikan dan kebijaksa-naan yang tersembunyi, dan menunjukkan kepada mereka tanda-tanda Kemahakuasaan-Nya, yakni langit yang ditinggikan di atas mereka, bumi yang ditempatkan di bawah mereka, rezeki yang memelihara mereka, ajal yang mematikan mereka, sakit yang menuakan mereka, dan kejadian susul-menyusul yang menimpa mereka.
Allah Yang Mahasuci tak pernah membiarkan hamba-Nya tanpa nabi diutuskan kepada mereka, atau tanpa kitab yang diturunkan kepada mereka atau argumen yang mengikat atau dalil yang kuat. Para rasul itu tidak merasa kecil karena kecilnya jumlah mereka dan besarnya jumlah yang mendustainya. Di antara mereka ada pendahulu yang akan menyebutkan nama yang akan menyusul atau pengikut yang telah dikenalkan oleh pendahulunya.
Pengutusan Muhammad SAWW
Secara demikian zaman-zaman berlalu dan waktu terus bergulir, ayah pergi sementara putra-putra mereka menggantikannya, sampai Allah mengutus Muhammad SAWW sebagai rasul-Nya, dalam memenuhi janji-Nya dan untuk melengkapi Kenabian-Nya. Janji-Nya telah diambil dari para nabi, tabiat karaktemya termasyhur dan kelahirannya mulia. Manusia bumi pada saat itu terbagi dalam berbagai kelompok, tujuan mereka terpisah dan jalan-jalan mereka beraneka. Mereka menyerupakan Allah dengan ciptaan-Nya atau menggeser nama-nama-Nya atau berpaling kepada yang selain Dia.
Melalui Muhammad SAWW, Allah memandu mereka keluar dari kesalahan, dan dengan usahanya la membawa mereka keluar dari kejahilan. Kemudian Allah memilih Muhammad SAWW dan keturunannya, untuk menemui-Nya, memilihnya untuk kedekatan kepada-Nya sendiri, memandangnya terlalu mulia untuk tinggal di dunia ini, dan memutuskan untuk mengeluarkannya dari tempat percobaan ini. la menariknya kepada Diri-Nya sendiri dengan kemuliaan. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau dan keluarganya.
Al Quran dan Sunah
Tetapi Nabi meninggalkan di antara Anda sesuatu yang sama sebagaimana yang ditinggalkan nabi-nabi lain di antara umat mereka, karena nabi-nabi tidak meninggalkan mereka dalam kegelapan tanpa jalan yang terang dan panji yang tegak, yakni Kitab dari Pencipta Anda yang menjelaskan yang halal dan haram, perintah-perintah dan keutamaan-keutamaannya, yang menasakh dan yang dinasakh, hal-halnya yang halal dan yang wajib, hal-halnya yang khusus dan umum, pelajaran dan amsalnya, yang panjang dan singkatnya, yang jelas dan samamya, mendetailkan singkatan-singkatannya dan menjelaskan yang samamya.
Di dalamnya ada beberapa ayat yang pengetahuan tentangnya diwajibkan,[i] dan yang lain-lainnya yang ketidaktahuan manusia tentangnya dibolehkan. la juga mengandung apa yang nampak sebagai wajib menurut Kitab[ii ](2) tetapi nasakhnya disuguhkan oleh sunah Nabi atau apa yang nampak sebagai wajib menurut sunah Nabi tetapi Kitab membolehkan orang tidak mengikutinya. Atau ada yang wajib pada suatu waktu tertentu tetapi tidak sesudahnya. Larangan-larangannya juga berbeda. Ada yang berat, yang mengenainya ada ancaman api (neraka), dan yang lainnya ringan, yang untuk itu terdapat harapan keampunan. Ada pula yang dalam ukuran kecil dapat diterima (bagi Allah) tetapi dapat membesar (bila diteruskan).
Dalam Khotbah yang Sama, tentang Haji
Allah telah mewajibkan Anda berhaji ke Rumah Suci-Nya yang merupakan kiblat bagi manusia yang pergi kepadanya sebagaimana hewan liar atau merpati pergi ke sumber air. Allah Yang Mahasuci menjadikannya pertanda atas ketundukan mereka di hadapan Keagungan-Nya dan pengakuan mereka akan Kemuliaan-Nya. la memilih dari antara ciptaan-Nya orang-orang yang ketika mendengar seruan-Nya menyambutnya dan mem-benarkan sabda-Nya. Mereka berdiri pada posisi para nabi-Nya dan menyerupai para malaikat-Nya yang mengelilingi Mahligai-Nya untuk mendapatkan segala manfaat dari melaksanakan pengabdian kepada-Nya dan bergegas untuk (mendapatkan) keampunan yang telah dijanjikan-Nya. Allah Yang Mahasuci menjadikannya sebagai syiar bagi Islam dan objek penghormatan bagi orang-orang yang berpaling ke situ. la mewajibkan hajinya dan meletakkan klaimnya yang untuk itu la menuntut tanggung jawab Anda untuk melaksanakannya. Dan Allah Yang Mahasuci berfirman, “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitulldh yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi semua manusia . ” (QS. 3:96)
[i] “Pangkal agama (din) adalah makrifat tentang Dia .” Makna din ialah ketaatan, dan makna populernya tatanan. Baik dalam makna harfiah, ataupun populer, apabila pikiran kosong dari konsepsi Ketuhanan, tak akan ada masalah ketaatan, tidak ada pula urusan dengan mengikuti suatu aturan. Karena, bila tidak ada tujuan maka tidak ada alasan untuk menuju ke sana; bila tidak ada tujuan yang diharap, tidak akan ada usaha untuk mencapainya. Bagaimanapun, ketika fitrah dan naluri manusia mendekatkannya kepada Yang Mahatinggi, dan rasa taat serta penyerahan merendahkannya di hadapan Tuhan, ia merasa terikat dengan batasan-batasan tertentu, berlawanan dengan kebebasan semena-mena. Batasan-batasan inilah din, yang titik mulanya ialah pengetahuan tentang Allah serta pengakuan atas Wujud-Nya.
Setelah menunjukkan hakikat makrifat atau pengetahuan tentang Allah, Amirul Mukminin menggambarkan pokok-pokok dan syarat-syaratnya. la menganggap bahwa tahap-tahap pengetahuan yang umumnya dianggap sebagai titik pendekatan tertinggi tidaklah mencukupi. la mengatakan bahwa tahap pertamanya ialah dengan fitrah kerinduan kepada yang gaib dan bimbingan hati nurani, atau dengan mendengar dari para penganut agama, terbentuklah dalam pikiran suatu citra tentang Wujud Gaib yang dikenal sebagai Allah. Gambaran ini sesungguhnya adalah pendahulu dari kewajiban berpikir dan merenung serta mencari pengetahuan tentang Dia. Tetapi, orang yang senang bermalas-malas, atau dalam tekanan lingkungannya, tidak melakukan pencarian ini, sehingga walaupun ada tercipta citra semacam itu, citra itu tidak sampai beroleh kesaksian. Dalam hal ini mereka tidak mendapatkan pengetahuan, dan karena mereka tidak sampai pada tahap panyaksian dan pembuktian atas pembentukan citra itu maka pelanggaran mereka itu patut dimintai pertanggungan jawab. Tetapi, orang yang digerakkan oleh kekuatan citra ini maju lebih jauh dan memandang perlu berpikir dan merenungkannya.
Dengan jalan ini ia sampai ke tahap berikut dalam mencapai pengetahuan Ilahi, yakni mencari Yang Maha Pencipta melalui aneka ragam penciptaan dan makhluk, karena setiap gambar merupakan pandu yang kuat menuju kepada penggambarnya, dan setiap akibat merupakan hasil tindakan dari penyebabnya. Apabila ia melemparkan pandangan ke sekitarnya, ia tidak mendapatkan suatu apa pun yang menjadi ada tanpa tindakan si pembuat; ia tak dapat memperoleh suatu jejak langkah tanpa pejalan yang meninggalkan jejak, tiada pula bangunan tanpa pembangun. Bagaimana ia dapat memahami bahwa langit biru ini, dengan matahari dan bulan di cakrawala, bumi dengan kelimpahan rumputan dan bunga-bungaan dapat menjadi ada tanpa perbuatan Pencipta. Oleh karena itu, setelah mengamati segala yang ada di dunia dan sistem teratur dari seluruh penciptaan, orang tak dapat menyimpulkan lain kecuali bahwa ada Pencipta atas keanekaragaman dan keberadaan dunia; ini tak mungkin terjadi dari tak ada, tak ada keberadaan muncul dari ketiadaan. Al Quranul Karim menunjukkan penalaran ini,
“Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi ?” (QS. 14:10)
Tetapi, tahap ini pun tak akan cukup, apabila bukti-bukti adanya Allah ini dicemari oleh kepercayaan akan ketuhanan sesuatu yang lain.
Tahap ketiga, keberadaan-Nya diakui bersama kepercayaan akan Keesaan-Nya, Tauhid. Tanpa ini maka kesaksian akan adanya Allah tak mungkin sempuma; karena, apabila ada kepercayaan akan adanya banyak tuhan, maka la tidak akan Esa, padahal la Esa. Nalarnya, bila ada lebih dari satu tuhan maka akan timbul pertanyaan apakah salah satu darinya, atau mereka semua bersama-sama menciptakan semua ciptaan ini. Apabila salah satu darinya yang menciptakannya maka harus ada sebab yang membedakannya dari yang lain; kalau tidak, ia akan mendapatkan kedudukan istimewa tanpa alasan, yang tak dapat diterima akal. Apabila semua telah menciptakannya secara bersama-sama maka posisinya hanya mempunyai dua bentuk: ia tak dapat melakukan tugasnya tanpa pertolongan dari yang lain, atau ia tidak memerlukan bantuan mereka.
Kasus pertama berarti ia tidak mampu dan memerlukan bantuan pihak lain, sedang kemungkinan kedua berarti bahwa ada beberapa pelaku bersama dari suatu tindakan tunggal, dan kepalsuan tentang keduanya telah ditunjukkan. Apabila kita anggap semua tuhan itu melaksanakan penciptaan dengan saling membagi di antara sesamanya maka dalam hal ini tidak semua ciptaan akan mempunyai hubungan dengan pencipta itu, karena setiap makhluk hanya mempunyai hubungan dengan penciptanya sendiri, padahal setiap makhluk harus mempunyai hubungan yang satu dan sama kepada semua pencipta itu. Sebab, semua ciptaan harus memÂÂpunyai hubungan yang satu dan sama kepada semua pencipta itu, karena semua ciptaan, dalam kemampuannya untuk menerima pengaruh, dan semua pencipta, dalam kemampuannya untuk menghasilkan pengaruh, harus sama. Singkatnya, tidak ada jalan kecuali mengakui-Nya sebagai Esa; karena, bila ada banyak penÂÂcipta maka tidak akan ada apa pun lainnya, kehancuran pasti menimpa bumi, langit dan segala sesuatu dalam penciptaan. Allah SWT telah mengungkapkan argumen ini dalam kata-kata berikut:
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keÂÂduanya itu telah rusak-binasa …. (QS. 21:22)
Tahap keempat ialah bahwa Allah harus bebas dari segala cacat dan kekurangan, dan kosong dari jasad, bentuk, gambaran, kesamaan, kedudukan tempat dan waktu, gerak, diam, ketidakmampuan dan ketidaktahuan. Tak mungkin ada kekurangan atau cacat pada Wujud yang sempurna itu, tiada pula yang dapat disamakan dengan Dia, karena sifat cacat itu menurunkan Wujud dari posisi tinggi Pencipta ke posisi rendah ciptaan. Itulah sebabnya maka Keesaan dan Kesucian Allah dari segala kekurangan adalah sama pentingnya.
“Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. dan tidak ada seorang pun yang setara dangan Dia .'” (QS. 112:1-4)
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dialah Mahahalus lagi Mahatahu .” (QS. 6:103)
“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui .” (QS. 16:74)
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat .” (QS. 42:11) .
Tahap kelima penyempurnaan pengetahuan tentang Dia ialah sifat-sifat itu harus tidak dilekatkan kepada-Nya dari luar, supaya tidak ada kegandaan dalam Keesaan-Nya, dan bila kita menyimpang dari konotasinya yang semestinya tentang Keesaan, kita mungkin jatuh ke dalam jebakan satu dalam tiga dan tiga dalam satu; karena Wujud-Nya bukanlah suatu kombinasi hakikat dan bentuk maka sifat-sifat itu tak dapat melekat pada-Nya seperti bau dalam bunga atau cahaya pada bintang. la adalah sumber segala sifat dan tidak memerlukan perantara untuk perwujudan Sifat-sifat-Nya yang sempuma. la dinamakan Maha Mengetahui karena tanda-tanda pengetahuan-Nya nyata. la dinamakan Mahakuasa karena setiap partikel menunjukkan Kemahakuasaan dan kegiatan-Nya, dan bila pada-Nya disifatkan Kemampuan untuk mendengarkan atau melihat, hal itu disebabkan kepaduan antara seluruh penciptaan dan pengurusannya tidak dapat dilakukan tanpa mendengar atau melihat; tetapi adanya sifat-sifat ini pada-Nya tidak dapat dipandang sama dengan yang ada pada ciptaan, yakni tidaklah la baru dapat mengetahui setelah la beroleh pengetahuan, atau baru berkuasa setelah tenaga masuk ke dalam anggota-Nya, karena mengambil sifat sebagai terpisah dari Wujud-Nya akan mengandung makna ganda, dan di mana ada kegandaan maka keesaan menghilang. Itulah sebabnya Amirul Mukminin menolak ide sifat-sifat sebagai tambahan kepada Wujud-Nya; ia mengajukan Keesaan (Tauhid) dalam maknanya yang sesungguhnya, dan tidak mengizinkan Tauhid dinodai dengan kemajmukan.
Hal ini tidak berarti bahwa sifat-sifat sama sekali tak dapat diatributkan kepada-Nya, karena ini akan memberikan dukungan kepada orang-orang yang meraba-raba di jurang gelap negativisme, sekalipun setiap penjuru dan sudut di seluruh eksistensi melimpah dengan sifat-sifat-Nya dan setiap zarah ciptaan menyaksikan bahwa la mempunyai pengetahuan, la berkuasa, la mendengar, la melihat. la memelihara dan mengizinkan pertumbuhan dengan rahmat-Nya. Maksudnya ialah bahwa bagi Dia tak ada sesuatu yang dapat disarankan sebagai tambahan kepada-nya, karena diri-Nya meliputi sifat-sifat, dan sifat-sifat-Nya bermakna diri-Nya meliputi sifat-sifat. Marilah kita pelajari tema ini dalam kata-kata Imam Ja’far ibn Muhammad ash-Shadiq (as) dengan membandingkannya dengan keimanan akan Keesaan yang ditempuh oleh paham-paham lain, kemudian menilai siapakah pembela konsep Tauhid yang sesungguhnya.
Imam Ja’far Shadiq mengatakan,
“Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi sejak semula telah mempunyai penge-tahuan sebagai Diri-Nya, sekalipun tidak ada sesuatu untuk diketahui, (memÂÂpunyai) penglihatan sebagai Diri-Nya, sekalipun tidak ada sesuatu untuk dilihat, (mempunyai) pendengaran sebagai Diri-Nya, sekalipun tiada sesuatu untuk didengar, mempunyai kekuasaan sebagai Diri-Nya, sekalipun tidak ada sesuatu di bawah kekuasaan-Nya. Ketika la menciptakan benda-benda dan obyek pengetahuan menjadi nyata, pengetahuan-Nya menjadi berhubungan dengan yang diketahui, pendengaran dengan yang didengar, penglihatan dengan yang dilihat, dan kekuasaan dengan objek-objeknya. ” (Syeikh Shaduq, at-Tauhid, hal. 139)
Para imam Ahlulbait sepaham dalam kepercayaan ini, tetapi kalangan mayoritas telah menempuh jalan berbeda dengan menciptakan gagasan pembedaan antara Diri-Nya dan Sifat-sifat-Nya. Asy-Syahristani menulis dalam bukunya Kitab al-Milal wa an-Nihal,
“Menurut Abul Hasan Al-Asy’ari, Allah mengetahui melalui (sifat) tahu, Kuasa melalui kegiatan, berbicara melalui bicara, mendengar melalui pendengaran, dan melihat melalui penglihatan .”
Apabila kita memandang sifat-sifat berbeda dan Diri-Nya secara ini, maka akan ada dua alternatif: sifat-sifat itu sudah ada pada-Nya sejak semula atau sifat-sifat itu terjadi kemudian. Apabila sifat-sifat itu sudah ada pada-Nya sejak semula, kita terpaksa mengakui objek-objek itu kekal sejauh sifat-sifat itu, yang semuanya bersaham dengan-Nya dalam kekekalan, tetapi “Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutuan “. (QS. 9:31) Apabila kita menganggap bahwa sifat-sifat itu baru terjadi kemudian maka, di samping menundukkan-Nya pada perubahan-perubahan itu, akan berarti pula bahwa sebelum mendapatkan sifat-sifat itu la tidak tahu, tidak kuasa, tidak mendengar, dan tidak melihat, dan ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mendasar.
[ii] Tentang Al Quran, Amirul Mukminin berkata bahwa ia mengandung uraian tentang perbuatan-perbuatan yang halal dan yang haram, seperti firman Allah:
“… padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba ….” (QS. 2:275)
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa) ….” (QS. 4:103)
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang ter-dapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu .” (QS. 2:168)
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal kepada Tuhannya.dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya .'” (QS. 18:110)
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir ?” (QS. 2:44)
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba .” (QS. 2:275)
Ia menjelaskan perbuatan-perbuatan yang wajib dan sunah, seperti:
“Apabilah kamu telah menyelesaikan shalat (takut), ingatlah akan Allah di waktu kamu berdiri, duduk atau berbaring, dan bilamana kamu merasa aman (dari musuh) maka dirikanlah shalat (sebagaimana biasa) .” (QS. 4:103)
Di sini shalat (mengingat Allah) adalah wajib, sementara bentuk-bentuk lainnya dalam mengingat Allah adalah sunnah. Ia mengandung ayat-ayat yang nasikh dan mansukh, seperti masa iddah setelah kematian suami “empat bulan sepuluh hari”, (QS. 2:234) atau yang mansu-kh seperti “hingga setahun lamanya tanpa disuruh pindah (dari rumah) ”, (QS. 2:240) yang menunjukkan bahwa masa iddah itu harus setahun.
Di tempat-tempat tertentu ia menghalalkan yang haram, seperti, “Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ”. (QS. 5:3)
la mengandung perintah-perintah yang khusus dan umum. Khusus ialah perin-tah di mana kata itu menunjukkan keumuman tetapi maknanya terbatas, seperti, “Aku telah melebihkan kamu (Bam Isra’il) atas seisi dunia .” (QS. 2:47) Di sini kata dial- ‘alamin (seisi dunia) terbatas pada masa tertentu itu, walaupun kata itu umum dalam makna harfiahnya.
Perintah-perintah yang umum ialah perintah yang luas dalam pengertiannya, seperti, “‘Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu .” (QS. 4:32)
la mengandung pelajaran dan gambaran, seperti:
“Allah menghukum di dunia ini dan yang akan datang, dan di situ terdapat pelajaran.” (QS. 79:25-26)
“Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia .” (QS. 78:25)
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya) ”. (QS. 79:26)
“Perkataan yang baik dan pemberian maaflebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Maha Penyantun ”. (QS. 2:263)
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa .” (QS. 2:63)
Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa . (QS. 2:66)
Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit . (QS. 3:5)
Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka . (QS. 47:21)
Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa danjanganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak . (QS. 4:19)
Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.” (QS. 2:139)
Terdapat pelajaran di dalamnya bagi orang yang bertakwa kepada Allah.” (QS. 3:138)
Ayat yang berisi gambaran misalnya, “Misal orang-orang yang menafkahkan harta bendanya di jalan Allah adalah ibarat sebutir benih yang menumbuhkan lima butir yang masing-masing butir mengandung seratus butir ,” (QS. 2:261)
la mengandung ayat-ayat yang kha-sh dan ‘a-m. ‘A-m ialah ayat yang tidak mengandung batasan tentang spesifikasi, seperti, “Ingatlah ketika Musa mengatakan kepada kaumnya, ‘Allah memerintahkan kamu untuk menyembelih seekor sapi betina .'” (QS. 2:67)
Ayat yang kha-sh ialah ayat di mana penujukannya terbatas, seperti, “bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah maupun mengairi tanaman “. (QS. 2:71)
Ada ayat muhkama-t dan mutasya-biha-t di dalamnya. Ayat muhkama-t ialah ayat yang tidak ada kerumitan di dalamnya, seperti, “Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu,” (QS. 33:27) sedang ayat mutasya-biha-t ialah yang pengertiannya mengandung komplikasi, seperti, “Yang Rahman yang bersemayam di ‘arsy” (QS. 20:5), yang arti lahiriahnya memberi kesan seakan-akan Allah secara jasmani duduk di singgasana padahal maksudnya ialah untuk menekankan wewenang dan kekuasaan-Nya.
Di dalamnya ada perintah-perintah singkat, seperti, “Dirikanlah shalat,” (QS. 17:78) dan yang mengandung makna yang mendalam, seperti ayat-ayat yang mengatakan, “Dan tiadalah yang mengetahui takwilnya selain Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya .” (QS. 3:7)
Kemudian Amirul Mukminin meluaskan tema ini dalam gaya lain dengan mengatakan bahwa ada beberapa hal di dalamnya yang wajib diketahui, seperti, “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah .” (QS. 47:19), dan ada lain-lain yang tidak perlu diketahui, seperti “alif la-m mi-m” (QS. 2:1) dan sebagainya.
la juga mengandung perintah-perintah yang telah diulang-ulang oleh sunah Nabi, seperti, “Tentang perempuan-perempuan kamu yang berbuat zina, ambillah empat saksi laki-laki dan, apabila empat saksi itu datang, kurunglah perempuan itu hingga ajal mengakhiri hidupnya .” (QS. 4:15) Hukuman ini berlaku di masa dini Islam, tetapi kemudian diganti dengan rajam dalam hal wanita bersuami.
Di dalamnya ada beberapa perintah yang menasakh perbuatan Nabi, seperti, “Hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram ” (QS. 2:149) yang dengan itu perintah untuk berkiblat ke Baitul Maqdis dinasakh.
la juga mengandung perintah-perintah yang hanya wajib pada masa waktu tertentu, yang sesudahnya perintah itu berakhir, seperti, “Apabila seruan untuk shalat dilakukan pada hari Jumat, maka bergegaslah kamu mengingat Allah.” (QS. 62:9) la juga menunjukkan derajat-derajat larangan seperti pembagian dosa dalam yang ringan dan yang berat—yang ringan seperti “katakanlah kepada orang-orang mukmin untuk merendahkan matanya” (QS. 24:30), dan yang berat seperti “barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka imbalannya ialah tinggal di neraka selama-lamanya “. (QS. 4:39) la juga berisi perintah-perintah di mana sedikit pelaksanaannya sudah cukup, tetapi ada kesempatan untuk pelaksanaan lebih jauh, seperti, “Bacalah Al Quran sebanyak yang dapat kamu lakukan dengan mudah. ” (QS. 73:20)
Katakanlah kapada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetaui apa yang mereÂÂka perbuat.”(QS. 24:30)
Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyui uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka danjiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjiÂÂhad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surgu) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. (QS. 4:95)
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagi-mu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yung berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperolehnyu di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhÂÂnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 73:20)
Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang . (QS. 26:9)
Ulama Syiah Iran: Pelaknat Sahabat Dan Istri Nabi Bukan Bagian Dari Kami
19.02
Ahlul Bayt, Berita, Dalam Negeri, Info Lainnya, Inspiratif, Lainnya, Madzhab, Persatuan Madzhab, Sunni dan Syiah, Syiah, Syiah dan Sunni, Tentang Lainnya, Ukhuwah
No comments
Menurut Kantor Berita ABNA, Isu bahwa Muslimin Syiah mencaci para sahabat dan istri Nabi, tak henti-hentinya terus dimunculkan oleh kalangan yang bersengaja ingin menularkan kebencian dan permusuhan di tengah kaum Muslimin.
Lalu seperti apa ulama Syiah menjawab isu tersebut?
Dalam silaturahmi ke Litbang Kemenag RI di Thamrin, Jakarta, Hojjatul Islam Dr. Hasan Zamani, Ketua Hubungan Luar Negeri Iran dari Hauzah Ilmiah Qom, Iran, menjawab isu tersebut dengan menegaskan bahwa Muslim Syiah menghormati para sahabat dan istri Nabi.
“Kami meyakini tentang kemuliaan dan kehormatan para sahabat Nabi,” tegas Zamani.
Kepada Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. H. Abd. Rahman Mas’ud, Ph.D. beserta para peneliti Kemenag RI, Zamani menegaskan kembali bahwa Muslim Syiah meyakini bahwa melaknat para sahabat dan istri Nabi adalah haram hukumnya. Tapi mengkritisi mereka dalam kadar yang pantas, tetap diperbolehkan.
Meski Zamani tak menampik ulah sebagian kecil kelompok Syiah bermarkas di Amerika dan London, yang memiliki sejumlah stasiun TV (salah satunya bernama TV Fadak), telah menebarkan kebencian dengan melaknat para sahabat dan istri Nabi. Bahkan kelompok takfiri Syiah inipun kerap mengkafirkan semua mufti dan maraji’ Syiah yang mengeluarkan fatwa pengharaman mencaci-maki para sahabat dan istri Nabi tersebut.
“Dan kami menolak apa yang mereka lakukan,” tegas Zamani.
Zamani pun menjelaskan bahwa pelarangan dan pengharaman atas tindakan pelaknatan terhadap para sahabat dan istri Nabi bagi Muslim Syiah sudah sangat jelas. Bahkan Muslim Syiah meyakini bahwa keseluruhan nabi dan para istri nabi itu dalam keadaan suci.
“Adapun terkait pandangan yang mengatakan bahwa ada di antara istri nabi yang munafik, itu di luar pandangan kami,” tandas ulama Syiah asal Iran tersebut.

Dalam silaturahmi ke Litbang Kemenag RI di Thamrin, Jakarta, Hojjatul Islam Dr. Hasan Zamani, Ketua Hubungan Luar Negeri Iran dari Hauzah Ilmiah Qom, Iran, menjawab isu tersebut dengan menegaskan bahwa Muslim Syiah menghormati para sahabat dan istri Nabi.
- Source : id.abna24.com
Lalu seperti apa ulama Syiah menjawab isu tersebut?
Dalam silaturahmi ke Litbang Kemenag RI di Thamrin, Jakarta, Hojjatul Islam Dr. Hasan Zamani, Ketua Hubungan Luar Negeri Iran dari Hauzah Ilmiah Qom, Iran, menjawab isu tersebut dengan menegaskan bahwa Muslim Syiah menghormati para sahabat dan istri Nabi.
“Kami meyakini tentang kemuliaan dan kehormatan para sahabat Nabi,” tegas Zamani.
Kepada Kepala Badan Litbang dan Diklat Prof. H. Abd. Rahman Mas’ud, Ph.D. beserta para peneliti Kemenag RI, Zamani menegaskan kembali bahwa Muslim Syiah meyakini bahwa melaknat para sahabat dan istri Nabi adalah haram hukumnya. Tapi mengkritisi mereka dalam kadar yang pantas, tetap diperbolehkan.
Meski Zamani tak menampik ulah sebagian kecil kelompok Syiah bermarkas di Amerika dan London, yang memiliki sejumlah stasiun TV (salah satunya bernama TV Fadak), telah menebarkan kebencian dengan melaknat para sahabat dan istri Nabi. Bahkan kelompok takfiri Syiah inipun kerap mengkafirkan semua mufti dan maraji’ Syiah yang mengeluarkan fatwa pengharaman mencaci-maki para sahabat dan istri Nabi tersebut.
“Dan kami menolak apa yang mereka lakukan,” tegas Zamani.
Zamani pun menjelaskan bahwa pelarangan dan pengharaman atas tindakan pelaknatan terhadap para sahabat dan istri Nabi bagi Muslim Syiah sudah sangat jelas. Bahkan Muslim Syiah meyakini bahwa keseluruhan nabi dan para istri nabi itu dalam keadaan suci.
“Adapun terkait pandangan yang mengatakan bahwa ada di antara istri nabi yang munafik, itu di luar pandangan kami,” tandas ulama Syiah asal Iran tersebut.
Dalam silaturahmi ke Litbang Kemenag RI di Thamrin, Jakarta, Hojjatul Islam Dr. Hasan Zamani, Ketua Hubungan Luar Negeri Iran dari Hauzah Ilmiah Qom, Iran, menjawab isu tersebut dengan menegaskan bahwa Muslim Syiah menghormati para sahabat dan istri Nabi.
- Source : id.abna24.com
Minggu, 24 April 2016
Obama: "Tak Ada Negara Memiliki Kepentingan Konflik dengan Iran"
"Kami tidak secara naif berurusan dengan Iran sebagaimana tindakan sejumlah negara, dan kita tidak harus meninggalkan dialog meskipun pernyataan bermusuhan dari Tehran" kata Obama.
Presiden Barack Obama pada Kamis, 21/04/16, dalam pertemuan Puncak negara-negara PGCC di Riyadh, menegaskan, baik Amerika Serikat maupun negara-negara Teluk Arab sama-sama tidak memiliki kepentingan konflik dengan Iran, dan menyebut Assad harus turun dari kekuasaan.
"Bahkan dengan kesepakatan nuklir kita mengakui secara kolektif bahwa kita terus mempunyai keprihatinan serius terkait perilaku Iran", kata Obama pada penutupan pertemuan puncak di ibukota Saudi dengan enam negara Gulf Cooperation Council(P-GCC).
"Kami tidak secara naif berurusan dengan Iran sebagaimana tindakan sejumlah negara, dan kita tidak harus meninggalkan dialog meskipun pernyataan bermusuhan dari Tehran" kata Obama.
Obama juga menuduh tindakan destabilisasi Iran di wilayah tersebut namun tidak ada niat untuk berkonflik dengan Tehran, "Tak satu pun dari bangsa kita memiliki kepentingan konflik dengan Iran.
Kesepakatan nuklir dengan Iran menjadi pusat ketegangan antara negara-negara Teluk Arab dan Washington.
Negara-negara Teluk merasa prihatin dengan apa yang mereka lihat sebagai langkah dukungan dan dukungan lebih dekat Obama dengan Iran yang menjadi rival mereka. Negara-negara P-GCC, merasa khawatir, Tehran akan berani mencari peran regional yang lebih besar setelah pencabutan sanksi di bawah kesepakatan nuklir dengan negara-negara besar yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
Menyinggung soal kasus Suriah, Obama menekankan bahwa setiap solusi untuk mengatasi krisis Suriah yang tidak memiliki penyelesaian politik, tidak akan menyelesaikan konflik itu sendiri. Namun Obama masih bersikukuh Assad harus lengser dari kekuasaan.
"Kita tidak bisa membayangkan Bashar Assad dalam pemerintah Suriah di masa depan karena dia adalah bagian dari masalah dalam negeri", katanya.
Arab Saudi dan negara-negara Teluk Arab menuduh Iran campur tangan secara luas di seluruh wilayah, dan mendukung konflik di Yaman dan Suriah.
--Source : http://islamtimes.org/id/
Minggu, 20 Maret 2016
Fatimah, Kautsar Alam
07.06
Ahlul Bayt, Info Lainnya, Lainnya, Sejarah, Sunni dan Syiah, Syiah, Syiah dan Sunni, Tentang Lainnya
No comments
Hari ini, tanggal 20 Jumadil Tsani bertepatan dengan hari kelahiran Sayidah Fatimah az-Zahra. Putri Rasulullah Saw ini disebut oleh Allah Swt dalam al-Quran sebagai Kautsar, atau kebaikan yang melimpah. Beliau lahir dan dibesarkan oleh ayahnya, Rasulullah Saw untuk mendidik generasi suci dan terpilih. Dari Fatimahlah lahir para Imam Maksum yang menjadi teladan umat manusia.
Ketika Rasulullah Saw kehilangan dua putranya yang bernama Abdullah dan Qasim, orang-orang Musyrik menghina beliau sebagai orang yang "Abtar", atau orang yang tidak memiliki keturunan. Dalam situasi demikian, Sayidah Fatimah lahir, dan Allah Swt menurunkan surat al-Kautsar sebagai kabar gembira yang disampaikan kepada Rasulullah Saw. Dalam surat al-Kautsar ayat 1-3, Allah swt berfirman, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu al-Kautsar. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus [keturunannya].
Ketika Rasulullah Saw kehilangan dua putranya yang bernama Abdullah dan Qasim, orang-orang Musyrik menghina beliau sebagai orang yang "Abtar", atau orang yang tidak memiliki keturunan. Dalam situasi demikian, Sayidah Fatimah lahir, dan Allah Swt menurunkan surat al-Kautsar sebagai kabar gembira yang disampaikan kepada Rasulullah Saw. Dalam surat al-Kautsar ayat 1-3, Allah swt berfirman, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu al-Kautsar. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus [keturunannya].
Imam Fakr ar-Razi saat menafsirkan surat al-Kautsar menulis, "Kautsar memiliki delapan makna dan kesemua makna itu tentang Sayidah Fatimah az-Zahra." Setelah itu ulama Sunni ini menyinggung sejumlah Imam Maksum as dari keturunan Fatimah as dan menyebut keberadaan mereka sebagai dalil atas kebaikan yang banyak dari perempuan agung ini.
Sayidah Fatimah hanya beberapa tahun bersama ibunya, Sayidah Khadijah. Tapi cerita tentang keindahan dan perjuangan membela agama Allah swt didengar langsung dari ibunya. Ketika memandang wajah ibunya, seperti membaca lembaran buku baru yang senantiasa hidup. Fatimah dibesarkan oleh ayahnya, Nabi Muhammad Saw, manusia terbaik sepanjang sejarah.
Sayidah Fatimah memiliki kedudukan khusus disamping Nabi Muhammad Saw. Rasulullah bersabda: "Fatimah adalah bagian dariku, siapa saja yang membuatnya marah, maka ia telah membuatku marah dan siapa saja yang membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku."
Sayidah Fatimah juga memiliki beberapa sebutan mulia di antaranya: Zahra, Muhaddatsah, Mardhiyah, Siddiqah Kubra, Raihanah, Bathul, Rasyidah, Haura Insiyah (bidadari berbentuk manusia), dan Thahirah.
Dalam surat al-Insan Allah menjelaskan karakteristik orang-orang yang baik dengan firman-Nya, "(yaitu) mata air (dalam surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih." (QS. al-Insan: 6-9)
Ayat-ayat ini diturunkan mengenai keluarga putri Rasulullah Saw. Pada waktu itu, Hasan dan Husein dalam kondisi sakit. Sayidah Fatimah dan Imam Ali kemudian bernazar untuk berpuasa selama tiga hari bila kedua putra mereka sembuh. Ketika keduanya sembuh, Sayidah Fatimah dan Imam Ali diikuti kedua anak mereka harus melaksanakan nazar mereka untuk berpuasa selama tiga hari. Namun dalam tiga hari berpuasa itu, setiap harinya ada orang yang datang mulai dari orang miskin, anak yatim dan tawanan yang meminta makan. Akhirnya, selama tiga hari itu pula, makanan untuk berbuka mereka diberikan kepada tiga orang itu. Sebagai bentuk penghargaan atas perbuatan mereka, ayat-ayat surat al-Insan ini diturunkan oleh Allah Swt.
Berkaitan dengan karakteristik Sayidah Fatimah, Imam Ali berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, 'Ia dinamakan Fatimah, karena Allah Swt akan menyingkirkan api neraka darinya dan dari keturunannya.Tentu keturunannya yang meninggal dalam keadaan beriman dan meyakini segala sesuatu yang diturunkan kepadaku',"(Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 18-19).
Kedudukan spiritual Sayidah Fatimah sangat tinggi sampai-sampai malaikat berbicara dengannya. Oleh karena itu, ia disebut Muhaddatsah, artinya orang yang mampu berkomunikasi dengan malaikat. Para malaikat dapat berbicara dengan selain para nabi atau rasul. Mereka bisa mendengar suara dan melihat para malaikat. Allah Swt telah menjelaskan bahwa Maryam binti Imran as melihat malaikat dan berbicara dengannya. Dalam surah al-Imran ayat 42, Allah Swt berfirman: "Dan (Ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu)."
Sayidah Fatimah az-Zahra adalah penghulu para wanita seluruh alam, dari awal sampai akhir. Sayidah Fatimah dikenal keteladanannya dalam rumah tangga. Beliau contoh terbaik dari sosok istri dan ibu. Bersama suaminya, Ali bin Abi Thalib, Sayidah Fatimah menjalani suka dan duka kehidupan, dan sepanjang sejarah hingga kini sebagai teladan keluarga terbaik.Terkait hal ini, Imam Ali berkata, "Demi Allah dia tidak pernah membuatku marah dan tidak pernah menolak perintahku sama sekali. Kapan saja aku melihat Fatimah, maka hilanglah semua kesedihanku."(Biharul Anwar, jilid 43, hal 134).
Pada permulaan malam setelah pernikahan Imam Ali dan Sayidah Fatimah, Rasulullah Saw membagi pekerjaan untuk mereka berdua, pekerjaan dalam rumah adalah urusan Sayidah Fatimah sedangkan pekerjaan di luar rumah adalah urusan Imam Ali as. Setelah pembagian itu Sayidah Fatimah as berkata, "Hanya Allah yang tahu betapa gembiranya aku akan pembagian kerja ini. Karena Rasulullah Saw telah menghalangi aku dari melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan lelaki." (Biharul Anwar, jilid 43, hal 81)
Sayidah Fatimah bukan saja pendamping hidup bagi suaminya tapi beliau juga mitra dalam urusan spiritual. Ketika Imam Ali as ditanya Rasulullah Saw, bagaimana engkau menilai Fatimah? Imam Ali as menjawab, "Ia adalah sebaik-baiknya penolong dalam ketaatan kepada Allah."(Biharul Anwar, jilid 43, hal 117)
Sayidah Fatimah adalah istri yang tidak pernah meminta sesuatu di luar kemampuan suaminya. Dalam hal ini beliau berkata kepada Imam Ali as, "Aku malu kepada Tuhanku bila aku meminta sesuatu kepadamu sementara engkau tidak mampu memenuhinya."(Amali Syeikh Thusi, jilid 2, hal 228).
Imam Ali dan Sayidah Fatimah adalah pasangan yang tiada duanya. Mengenai kehidupan mereka, Rasulullah Saw bersabda, "Jika Allah tidak menciptakan Ali maka Fatimah tidak memiliki pasangan yang sekufu baginya."(Yanabi'ul Mawaddah, hal 177 dan 237).
Selain dalam keluarga, sayidah Fatimah juga memainkan peran penting dalam masyarakat terutama meningkatkan budaya dan pemikiran masyarakat ketika itu. Beliau juga memberikan kontribusi terhadap penyelesaian masalah yang dihadapi umat Islam di masanya.
Selamat atas kelahiran wanita agung nan mulia ini. Mengambil berkah dari hari kelahiran Sayidah Fatimah, di penghujung acara kami petikkan perkataan mulia beliau, "Orang yang ibadahnya ikhlas demi Allah swt, Tuhan Yang Maha Besar, maka kemaslahatan terbaik akan dinugerahkan kepadanya."
- Source : indonesian.irib.ir/
- Source : indonesian.irib.ir/
Langganan:
Postingan (Atom)










